UNAIR NEWS – Seminar kolaborasi antar fakultas bidang teknologi dan kesehatan telah menyelenggarakan seminar daring membawakan tema AI dalam Kesehatan pada Sabtu (30/9/2023). Kegiatan itu beranjak dari keresahan pengaruh perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam penggunaannya pada dunia kesehatan.
Dalam bidang kesehatan gigi, hadir Nurul A Rizky P drg PhD, dokter gigi sekaligus dosen FKG UNAIR. Pada acara itu ia membagikan pengalaman memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaannya.
Ia menyatakan bahwa keadaan dokter gigi di lapangan saat ini masih melakukan diagnosa secara manual. Menurutnya, hal itu memakan waktu yang cukup banyak. Selain itu, sambungnya, variasi kualitas dan rencana perawatan yang tiap dokter gigi tawarkan masih berbeda.
Beda dokter gigi, kita mendapati kualitas yang sangat variatif karena masih mengandalkan dari pengalaman dokter masing-masing, ucap drg Kiki sapaan akrabnya.

Peran AI
Dokter Kiki menjelaskan bahwa kehadiran AI sangat membantu dokter gigi melakukan pekerjaannya di lapangan. AI, jelasnya, berguna untuk membantu menegakkan diagnosa dengan mendeteksi patologi gigi pada sinar x-ray baik 2D (dua dimensi) maupun 3D (tiga dimensi).
Saat ini, jelasnya, penggunaan AI dalam dunia kedokteran gigi sudah cukup berkembang. Tidak hanya penggunaannya pada pencarian karies gigi atau kasus periodontal saja. Berdasarkan data, bidang radiologi mendominasi penggunaan AI yaitu sebanyak 26,4%. Disusul dengan bidang orthodontics, bedah, restorative, dan lain-lain, jelasnya.
Pada akhir, Dokter Kiki menyebutkan beberapa kemungkinan kemudahan yang dapat tercapai oleh AI. Beberapa di antaranya, jelasnya, dapat menentukan diagnosa yang lebih kompleks, rencana perawatan yang lebih personal, dan AI dapat mencapai daerah mulut yang tidak bisa dicapai oleh tangan dokter gigi.
Sebagai penutup, dokter Kiki menegaskan bahwa penggunaan AI hanya sebagai alat untuk mempermudah pekerjaan dokter gigi. Ia juga menegaskan bahwa untuk penentuan akhir tetap harus dilakukan oleh dokter gigi sebagai manusia.
Sebagai klinisi, walaupun AI sudah berkembang tapi human harus tetap decision making. AI sebagai perantara saja, kita gak boleh rely 100% kepada AI. Kita harus berpegang pada basis yang kita miliki, pungkasnya.
Penulis: Resyifa Salma
Editor: Nuri Hermawan





