UNAIR NEWS – Fakultas Ekonomi dan Bisnis 51¶¯Âþ bersama selenggarakan Seminar konferensi Internasional. Kegiatan ini bertema Empowering the Future of Education and Research: The Nexus of AI, Ethnic, and Sustainability di Gedung FEB, Kampus Dharmawangsa-B. Kegiatan ini melibatkan kolaborasi dengan sejumlah universitas mitra yang berlangsung pada Senin“Selasa (02“03/06/2025).
Dalam sesi seminar paralel FEB kali ini, peserta terbagi ke dalam berbagai ruang kelas dengan topik bahasan berbeda. Salah satu pembahas seminarnya yaitu terkait akuntansi berfokus pada pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) yang berlangsung di ruang kelas 316.
ESG dan Tantangan
Dr. Khusnul Prasetyo SE MM Ak CA, sebagai pemateri pertama seminar, memaparkan hasil penelitiannya mengenai relevansi ESG terhadap nilai dan kinerja perusahaan, khususnya di negara maju. Ketertarikan tersebut membuatnya menganalisis terhadap mental health dan isu-isu yang ada di dunia saat ini.
Dari hal tersebut, kemudian memunculkan sebuah kebutuhan laporan keberlanjutan. “Laporan keberlanjutan sendiri sifatnya tidak intuitif, karena isinya narasi, sehingga orang yang membacanya memungkinkan bedanya penangkapan. Sehingga permasalahan ini dan kemudian ada kebutuhan untuk angka-angka yang sifatnya indeks yang kemudian membuat kebutuhan baru yaitu scoring”, jelasnya.
Menurutnya dalam penelitian ini ia mengaitkan bahwa bagaimana ESG asosiasinya terhadap nilai perusahaan di negara maju. Dalam hal tersebut, ia menggunakan metode analisis meta dan data dari scopus. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ESG bernilai positif terhadap profil dan kinerja perusahaan.
“Kalau pengusaha ingin mendapatkan dampak instan, kalau mengembangkan inisiatif ESG, maka yang harus disasar terlebih dahulu adalah pilar yang sosial dan lingkungan,” tuturnya.
Strategi Green Innovation
Kendati demikian, Prof Dr Dwi Suhartini MAks CMA, mengungkapan bahwa apa yang institusi lakukan sekarang ini yaitu kampus berdampak untuk mencapai 17 pilar SDGs. Dalam penelitiannya, ia juga menunjukkan bahwa perusahaan manufaktur di Indonesia cenderung lebih menaruh perhatian pada efisiensi biaya lingkungan daripada besaran nilai ekonomi secara langsung. “Artinya mereka belum sadar, masih fokus mencari laba. Karena dari artikel yang saya baca, pengelola limbah butuh investasi yang sangat besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut, strategi yang dapat dilakukan yaitu inovasi proses hijau (green process innovation) dan inovasi produk ramah lingkungan (green product innovation) menjadi pendekatan utama. Dari temuannya juga menegaskan kinerja keuangan jadi faktor inti dalam membentuk nilai perusahaan dan keberlanjutan jangka panjang lewat inovasi hijau.
Pada akhir seminar, ia memberikan kontribusi penting dalam menunjukkan bagaimana informasi keuangan dan non-keuangan. Ia berpendapat bahwa keduanya dapat berperan sebagai sumber informasi yang bermanfaat bagi para pemangku kepentingan. “Studi ini memberikan kontribusi bahwa akan pentingnya informasi keuangan saja belum cukup. Bahkan dari hasil penelitian yang lain menunjukkan bahwa perusahaan juga lebih mementingkan pada ilmu disiplin,” tutupnya.
Penulis : Adinda Octavia Setiowati
Editor : Ragil Kukuh Imanto





