51动漫

51动漫 Official Website

Sensitivitas dan Spesifisitas Tes Adaptif Kognitif/Skala Pencapaian Linguistik Auditori Klinis pada Anak Usia 0-3 Tahun di Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

          Keterlambatan perkembangan adalah ketidakmampuan seorang anak untuk memperoleh keterampilan perkembangan sesuai dengan tahapan usianya. Dalam praktik sehari-hari, gangguan perkembangan anak masih sering ditemui. Dalam beberapa tahun terakhir, kejadian gangguan perkembangan di Indonesia dilaporkan mencapai 13-18%. Namun, kasus gangguan perkembangan anak umumnya terdeteksi terlambat. Gangguan perkembangan yang terdeteksi tanpa skrining diperkirakan mencapai 70% kasus, dan sebagian ada masalah di kognitif anak. Developmental quotient (DQ) adalah skala perkembangan psikomotor untuk anak usia 0-6 tahun yang memprentasikan kualitas anak pada usia yang sama, DQ paling sering digunakan sebagai indikator pertumbuhan anak berkaitan dengan psikososial termasuk interaksi sosial, atensi, bahasa ekspresif dan reseptif, persepsi visual, motorik kasar dan halus, inisiatif  dan independence, bersama dengan aspek perkembangan kognitif, pemecahan masalah dan memori. Instrumen diagnostik untuk mengukur DQ dan perkembangan anak masih memerlukan penelitian dan validasi. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa penilaian klinis saja tidak memiliki sensitivitas cukup tinggi dalam mendeteksi gangguan perkembangan mental. Kebanyakan uji perkembangan memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang cukup (70%-90%). Salah satu alat yang digunakan untuk mengevaluasi perkembangan anak adalah  Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic Auditory Milestone Scale (CAT/CLAMS), yang digunakan untuk mengukur perkembangan anak,terutama dalam aspek kognitif, linguistik, dan auditori. Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic Auditory Milestone Scale terbukti efektif untuk mendeteksi gangguan perkembangan pada anak dengan spesifisitas tinggi (95% hingga 100%) bila dibandingkan dengan Bayley Mental Developmental Index (MDI) pada usia 18 dan 30 bulan. Namun, dalam studi spesifik populasi di Meksiko, CAT/CLAMS tidak secara akurat mewakili tahapan perkembangan populasi lokal, dengan perbedaan signifikan dalam tahapan perkembangan motorik dan bahasa ekspresif. Kami melakukan penelitian untuk mengetahui sensitivitas dan spesifisitas CAT/CLAMS dalam mendeteksi gangguan perkembangan pada anak usia 0-3 tahun di Indonesia. Penelitian ini merupakan studi observasional potong lintang yang dilakukan di Jawa Timur. Subjek penelitian terdiri dari anak-anak berusia 36 bulan atau kurang yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan pemeriksaan menggunakan CAT/CLAMS. Sensitivitas dan spesifisitas dihitung berdasarkan perbandingan dengan Bayley Mental Developmental Index (MDI). Didapatkan hasil, dari 50 anak yang diteliti, 40% menunjukkan hasil skrining normal, 46% diduga mengalami gangguan, dan 14% diidentifikasi mengalami keterbelakangan mental. CAT/CLAMS menunjukkan sensitivitas sebesar 77,8% dan spesifisitas sebesar 95,2% dibandingkan dengan MDI, menunjukkan efektivitas yang tingi dalam mengidentifikasi anak-anak dengan gangguan perkembangan. Kesimpulan: CAT/CLAMS merupakan alat skrining yang efektif untuk mendeteksi gangguan perkembangan pada anak usia 0-3 tahun di Jawa Timur, dengan sensitivitas yang baik. Penggunaan CAT/CLAMS harus diintegrasikan dengan evaluasi lebih lanjut untuk memastikan diagnosis yang akurat.

Disarikan dari artikel dengan judul: Sensitivity and Specificity of Cognitive Adaptive Test/Clinical Linguistic Auditory Milestone Scale in Children 0-3 Years of Age in Indonesia yang diterbitkan di ICMHI ’25: Proceedings of the 2025 9th International Conference on Medical and Health Informatics (May 2025)

Penulis:

Prof. Dr Irwanto,dr SpA(K)

Scopus ID 59912681400

Departemen Ilmu Kesehatan Anak

Fakultas Kedokteran 51动漫

AKSES CEPAT