Seiring dengan kemajuan teknologi dan penelitian ilmiah, kebutuhan akan sensor elektrokimia untuk deteksi antimoni semakin mendesak, mengingat bahaya yang terkait dengan logam ini terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Antimon, yang digunakan dalam berbagai industri seperti pembuatan baterai dan pengolahan logam, dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius. Paparan tinggi terhadap antimoni dapat mengakibatkan gejala toksisitas akut, seperti iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, bersamaan dengan mual, muntah, dan sakit perut. Paparan jangka panjang telah terkait dengan gangguan pada sistem kardiovaskular dan saraf, serta potensi karsinogenisitas. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan terhadap konsentrasi antimoni dalam lingkungan menjadi krusial untuk melindungi kesehatan manusia. Sensor elektrokimia yang sensitif dan selektif dapat memberikan solusi efektif untuk memonitor dan mengukur konsentrasi antimoni. Dengan memanfaatkan nanopartikel berlian yang didoping boron, sensor ini dapat memberikan hasil yang akurat dan dapat diandalkan dalam mendeteksi logam berbahaya ini. Penerapan teknologi ini akan membantu dalam mengidentifikasi dan mengatasi potensi risiko paparan antimoni, serta mendukung upaya perlindungan terhadap kesehatan manusia dan keberlanjutan lingkungan.
Dalam penelitian ini, nanopartikel intan yang didoping dengan boron yang dimodifikasi pada permukaan elektroda cetak layar (SPE) disiapkan untuk penentuan sensitif dan selektif Sb3+ menggunakan voltametri gelombang persegi. Pengaruh parameter elektrokimia seperti jenis elektrolit pendukung, pH, sinyal per latar belakang, dan laju pemindaian terhadap sensitivitas sensor untuk deteksi Sb3+ diinvestigasi.. Metode ini digunakan untuk menentukan ion Sb3+ dalam air sungai dengan hasil yang memuaskan. Elektroda yang dimodifikasi menunjukkan keunggulan seperti sensitivitas dan selektivitas tinggi, stabilitas jangka panjang, persiapan yang mudah, dan rentang linear yang luas.
Hasil penelitian ini dapat dibaca lebih lanjut di . (pkj).





