UNAIR NEWS – Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) BEM merawat ingatan mahasiswa melalui kampanye September Hitam. Momen yang juga bersinggungan dengan Hari Kesaktian Pancasila tersebut mengangkat berbagai paradoksal dari ideologi Pancasila. Kegiatan itu berlangsung pada Kamis (28/9/2023) di Kampus MERR-(C), 51动漫.
Kepada UNAIR NEWS (28/9/2023), Presiden BEM FEB UNAIR, Hafizhun Shadiq mengatakan bahwa berbagai kejadian pelanggaran HAM yang terjadi pada bulan September harus menjadi pelajaran, khususnya mahasiswa. Momen tersebut dapat memberikan refleksi tersendiri tentang perjuangan dalam membela keadilan dan kebenaran.
淏anyak pembelajaran yang dapat kita ambil di momen ini, utamanya untuk mahasiswa. Pembelajaran tentang integritas, daya tahan, hingga pembelaan kepada kaum lemah bisa kita ambil, ujarnya.
Paradoksal Pancasila Jadi Isu Utama
Shadiq pun menjelaskan jika tahun ini BEM FEB UNAIR mengangkat sebuah isu yang cukup unik, yaitu paradoksal Pancasila. Hubungan erat antara September Hitam dan Hari Kesaktian Pancasila sangat tidak terpisahkan. Isu tersebut juga dapat dikaitkan dengan pekerjaan rumah (PR) pemerintah saat ini dan yang akan datang.
淛ika kita lihat G30S/PKI, maka peristiwa itu tidak hanya tentang pembunuhan jenderal dan komunisme saja. Tetapi bagaimana pendahulu kita telah memperjuangkan Pancasila agar tetap menjadi ideologi bangsa, tambahnya.

Menurutnya, perjuangan mempertahankan Pancasila yang telah pahlawan-pahlawan terdahulu lakukan tentu tidak mudah. Hal itulah yang menjadi tugas bersama untuk tetap mempertahankan dan bahkan mengelaborasikan dengan setiap kegiatan atau keputusan di masa sekarang.
Pekerjaan Rumah Pertahankan Pancasila
Namun, sangat disayangkan, banyak kejadian yang terjadi sekarang justru bertentangan dengan Pancasila itu sendiri. Misalnya, diskriminasi kaum beragama, korban pelecehan seksual yang tidak tertangani, pembungkaman pendapat, berita hoaks yang merajalela, hingga kasus Pulau Rempang yang sangat bertentangan dengan sila kelima dari Pancasila.
淗al ini jadi PR kita semua. Utamanya pemerintah ke depan untuk tetap menjaga Pancasila. Jangan sampai keputusan atau aturan yang diteken, justru tidak memasukkan unsur Pancasila, ujarnya.
Ke depan, Shadiq berharap masyarakat dapat semakin menyadari pentingnya isu kemanusiaan. Baginya, apa yang terjadi kepada orang lain, pada akhirnya terjadi pada kita. Sebagai satu bangsa, kepedulian akan sesama menjadi pondasi kuat dalam bernegara. Kegiatan ini harapannya dapat menjadi pengingat bahwa tugas kita masih banyak. (*)
Penulis: Ciptaning Ayu
Editor: Binti Q Masruroh





