51动漫

51动漫 Official Website

Seresah Mangrove sebagai Nutrisi Ekosistem Perairan Pantai

Foto oleh Freepik

Tidak terbantahkan bahwa keberadaan hutan mangrove memberikan multifungsi bagi lingkungan di sekitarnya. Pada mulanya, hutan mangrove dikenal secara terbatas oleh kalangan ahli lingkungan, terutama lingkungan laut. Mula-mula kawasan hutan dikenal dengan istilah Vloedbosh, kemudian dikenal dengan istilah 減ayau karena sifat habitanya yang payau. Berdasarkan dominasi jenis pohonnya yaitu bakau, maka kawasan mangrove juga disebut sebagai hutan bakau. Kata mangrove merupakan kombinasi antara kata mangue (Portugis) yang berarti tumbuhan dan grove yang berarti belukar atau hutan kecil. Berdasarkan SK Dirjen Kehutanan No.60/Kpts/Dj./I/1978, hutan mangrove merupakan hutan yang terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut, yakni tergenang pada waktu pasang dan bebas genangan pada waktu surut.

Ekosistem ini bersifat kompleks dan dinamis, namun labil. Kompleks, karena di dalam hutan mangrove dan perairan/tanah di bawahnya habitat berbagai senyawa dan biota perairan. Dinamis, karena hutan mangrove dapat terus berkembang serta mengalami suksesi. Labil karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali. Hutan mangrove menghasilkan bahan pelapukan atau seresah yang menjadi sumber makanan penting bagi udang, kepiting, ikan, zooplankton, invertebrata kecil dan hewan pemakan bahan-bahan hasil pelapukan lainnya.

Ekosistem mangrove berperan penting dalam menyumbangkan bahan organik dari serasah yang dihasilkan yang merupakan mata rantai utama jaring-jaring makanan di ekosistem mangrove. Mangrove merupakan salah satu ekosistem produktif di dunia terutama berupa produktivitas primer produksi serasah gugur dan dekomposisi serta pelepasan unsur hara. Produktivitas yang tinggi ini berhubungan langsung dengan rantai makanan yang berbasis detritus atau setetes serasah. Dekomposisi merupakan proses penting dalam fungsi ekosistem. Dekomposisi serasah mangrove, terutama serasah daun, memberikan kontribusi sebagian besar nutrisi sedimen dan perairan sekitarnya. Hanya sebagian kecil daun yang sudah busuk dimakan langsung oleh hewan herbivora, sedangkan detritus mangrove merupakan ketersediaan sumber sumber organik potensial untuk jaring-jaring makanan di muara.

Bahan-bahan hasil pelapukan mangrove berasal dari organ pohon mangrove yaitu daun, bunga, cabang, ranting dan sejumlah bagian pohon lain yang jatuh ke lantai hutan yang disebut serasah. Untuk dapat dimanfaatkan oleh organisme yang terdapat dalam hutan mangrove, serasah tersebut perlu didekomposisi terlebih dahulu menjadi bahan lain yang dapat menjadi sumber makanan bagi organisme tersebut. Pada ekosistem mangrove umumnya terdapat dua tipe rantai makanan yaitu rantai makanan langsung dan rantai makanan detritus. Di ekosistem mangrove, rantai makanan untuk biota perairan adalah rantai makanan detritus. Serasah yang jatuh akan mengalami proses dekomposisi oleh mikroorganisme menjadi detritus. Semakin banyak serasah yang dihasilkan dalam suatu kawasan mangrove maka semakin banyak pula detritus yang dihasilkan. Detritus inilah yang menjadi sumber makanan bernutrisi tinggi untuk berbagai jenis organisme perairan (khususnya detritifor) yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh organisme tingkat tinggi (ikan besar, burung pemangsa, ular, atau manusia) dalam jaring-jaring makanan.

Hutan bakau adalah ekosistem yang sangat produktif dan produktivitas ini terutama dikaitkan dengan degradasi tinggi jatuhnya serasah dan daur ulang nutrisi yang efisien. Metode pengukuran produktivitas primer secara langsung di ekosistem mangrove secara teknis sulit tetapi produksi serasah telah banyak digunakan sebagai ukuran produktivitas karena ini adalah salah satu komponen penting produktivitas, terutama mengingat kontribusi nutrisinya ke sistem muara. Dengan demikian, mengukur jatuhnya serasah dan dekomposisi menjadi penting untuk menilai produktivitas ekosistem secara keseluruhan.

Produksi dan penurunan serasah diterima sebagai jalur utama untuk memperkaya ekosistem dengan nutrisi tetapi cenderung bervariasi menurut lokasi geografis  dan musim. Di beberapa lokasi produksi dan penurunan serasah terjadi sepanjang tahun dengan puncak musim gugur di musim hujan musim panas seperti yang didokumentasikan oleh Tam et al. (1998) di Cina. Dekomposisi serasah daun disertai pelepasan unsur hara merupakan fungsi yang sangat penting di perairan mangrove. Melalui proses dekomposisi, unsur hara (nitrogen dan fosfor) dilepaskan ke ekosistem muara dan laut lepas. Akan tetapi, waktu lepasnya bahan organik dari ekosistem mangrove bergantung pada laju dekomposisi serasah mangrove yang bergantung pada tingkat dan frekuensi banjir rob, ketersediaan oksigen, suhu, jenis mangrove, dan keberadaan serasah di hutan.

Penelitian yang dilakukan oleh Purnobasuki (2022) pada tumbuhan mangrove Avicennia marina mengungkap beberapa hal terkait: (1) produksi serasah daun mangrove; (2) laju dekomposisi serasah daun mangrove; dan (3) kontribusinya terhadap unsur hara pada ekosistem mangrove Pantai Timur Surabaya. Secara keseluruhan, studi ini memberikan kontribusi terhadap informasi yang relatif terbatas yang tersedia tentang produksi seresah mangrove dan faktor lingkungan potensial yang mempengaruhi dekomposisi di muara beriklim tropis. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa produksi serasah mangrove total (berat kering) berkisar antara 1,78-2,53 g/m2/hari dengan sumbangan terbanyak berasal dari serasah daun yaitu 76,02-79,57% dari total. Laju penguraian serasah berkisar antara 3,84-4,18% dengan setengah atau t50 yaitu pada saat 50% berat awal terurai berkisar antara 19 hingga 27 hari. Komunitas mangrove di Pantai Timur Surabaya, merupakan peremajaan hutan mangrove A. Marina seluas 57,1 ha yang berpotensi menyumbangkan nitrogen sebanyak 129,58 hingga 184,69 kg/ha/tahun atau 7,40 hingga 10,55 ton/tahun. Sedangkan fosfor sebanyak 6,57-9,13 kg/ha/tahun atau 0,38-0,52 ton/tahun.

Tampak bahwa produksi seresah mangrove tersebut secara luas memberikan dampak penting bagi ketersediaan nutrisi bagi lingkungan perairan di sekitar tumbuhan mangrove. Produksi serasah merupakan bagian yang penting dalam transfer bahan organik dari vegetasi ke dalam tanah. Analisis dari komposisi hara dalam produksi serasah dapat menunjukkan hara yang membatasi dan efisiensi dari nutrisi yang digunakan, sehingga siklus nutrisi dalam ekosistem hutan mangrove akan terpelihara. Unsur hara yang dihasilkan dari proses dekomposisi serasah di dalam tanah sangat penting dalam pertumbuhan mangrove dan sebagai sumber detritus bagi ekosistem laut dan estuari dalam menyokong kehidupan berbagai organisme akuatik. Semoga keberadaan tumbuhan mangrove tetap lestari.

Penulis: Hery Purnobasuki

Sumber:

AKSES CEPAT