UNAIR NEWS 51 (UNAIR) menghadirkan sharing alumni bertajuk Masa Depan Tabungan Syariah di Era Digital pada Minggu (14/9/2025) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan tersebut menghadirkan Marisa Ayu Andarini, S.Ei., M.S.Ei., CFP., seorang praktisi perbankan syariah sekaligus alumni Ekonomi Islam 2012.
Pertumbuhan dan Potensi Keuangan Syariah
Dalam pemaparannya, Marisa menjelaskan bahwa industri keuangan syariah Indonesia tumbuh lebih cepat daripada perbankan konvensional. Pada 2022, aset perbankan syariah meningkat 15,63 persen (yoy), melampaui perbankan konvensional sebesar 9,50 persen. Total aset keuangan syariah nasional juga menembus Rp 2.461,11 triliun pada Juli 2023 dengan pangsa pasar 10,89 persen.
Ia menegaskan bahwa posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia menjadi peluang besar bagi perkembangan keuangan syariah. Pertumbuhan ini menunjukkan potensi luar biasa untuk menjadikan Indonesia pusat keuangan syariah global, ujarnya.

Transformasi Digital Produk Tabungan Syariah
Lebih lanjut, narasumber menjelaskan bahwa digitalisasi membuat tabungan syariah semakin mudah diakses oleh masyarakat. Saat ini, berbagai layanan keuangan syariah dapat dinikmati secara digital, mulai dari tabungan emas, cicil emas online, investasi reksa dana syariah, hingga wakaf berbasis aplikasi. Semua layanan tersebut tetap berlandaskan akad syariah sesuai fatwa DSN-MUI.
Ia menekankan bahwa digitalisasi tidak mengubah prinsip syariah, melainkan hanya mempermudah akses. Tabungan syariah di era digital bukan sekadar saldo, tetapi ekosistem keberkahan, tuturnya.
Mahasiswa sebagai Inovator
Sebagai penutup, Marisa memberikan motivasi bagi mahasiswa untuk ikut berperan dalam ekosistem keuangan syariah digital. Mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna layanan syariah, tetapi juga calon inovator yang akan membawa industri ini bersaing di level global, pungkasnya.
Penulis: Era Fazira
Editor: Ragil Kukuh Imanto





