Ketika suatu waktu, Anda terbangun, lalu membuka jendela dan melihat jalanan sekeliling basah, kira-kira apa yang Anda pikirkan? Mungkin Anda akan berpikir jikalau lepas malam telah hujan, alih-alih ada kemungkinan lain, mungkin ada orang iseng yang menyirami seluruh jalanan kota hingga basah semua, contohnya.
Namun, apakah opsi tersebut yang akan Anda pikirkan? Kalau saya sih, tidak. Akal manusia secara naluriah akan mengambil kesimpulan spontan sesuai dengan logika umum, walaupun pada akhirnya akan ada variable-variabel penentu lain yang akan mengubah kesimpulan itu. Tapi, setidaknya, dalam kesimpulan awal, manusia akan mengandalkan logika praktisnya dulu.
Mahasiswa dan Intelektualitas
Jagad maya belakangan ini diributkan oleh cuitan salah seorang tuan profesor yang dianggap mengarah pada sinisme suatu golongan, dalam hal ini umat Islam, setidaknya hal itu terlihat pada penggunaan istilah dan atribut khas yang dikonotasikan. Agaknya cukup mengherankan perilaku tersebut justru hadir di lingkungan akademik dan dilakukan oleh mereka yang terdidik.
Dalam cuitannya, Tuan mengatakan bahwa mereka, orang-orang yang dianggapnya 減intar, memiliki kemahiran bahasa dan cara berpikir yang baik. Mereka berpikir mengenai cita-cita serta kontribusinya untuk masyarakat kelak. Dan yang paling penting, anak-anak pintar itu tidak bicara soal langit dan kehidupan setelah mati, tutur katanya pun tidak bicara hal-hal 渒elangitan seperti, InshaAllah, Barakallah, dan sebagainya.
Nada tersebut jelas sekali bahwa makna pintar kian dipersempit. Baginya, pintar hanya sebatas tinggi akal yang didukung oleh IQ, namun mereka yang menghamba kepada Tuhannya dengan baik, dianggap bukan golongan orang pintar. Dari kata yang disebutkan, jelas sekali mengarah kepada Islam, InshaAllah dan Barakallah ialah terminologi Islam. Padahal agama lain pun mengenal istilah Haleluya, Kersaning Allah, Astungkara, hingga Namo Buddhaya. Agama di Indonesia tidak hanya Islam, kan?
Jadi, tidaklah berlebihan ketika saya mensimplifikasi pernyataan Tuan menjadi 淥rang Muslim yang taat itu tidak pintar, bukan? Mengenai tendensi keagamaan ini, mari saya jelaskan.
Dalam UU No 12 Tahun 2012 Pasal 1 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan, bahwa:
淧endidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan
Pada Pasal 5 di UU yang sama, bahwa Pendidikan Tinggi bertujuan untuk :
淏erkembangnya potensi Mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif
Pasal 6, bahwa Pendidikan Tinggi diselenggarakan dengan prinsip :
淒emokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai agama...
Dalam konstitusi di atas, gamblang sekali bahwa kekuatan spiritual keagamaan menjadi tujuan pendidikan tinggi yang disebut pertama kali. Sebagai rektor universitas ternama, bukankah sebuah kebanggaan ketika terdapat anak didik yang bicara tentang agama? Setidaknya, Tuan sudah dianggap sukses memenuhi tujuan pendidikan walaupun baru satu poin.
Kalaulah Tuan memarginalkan unsur spiritual sebagai kriteria 減intar yang Tuan buat sendiri, bukankah itu bertentangan dengan konstitusi yang ada? Kalau jawabannya iya, bukankah sudah terlihat siapa yang menentang konstitusi dan anti terhadapnya?
Silogisme Ala Tuan
Kalau Anda datang ke sebuah penangkaran kucing, dan Anda melihat sepuluh ekor kucing berwarna putih. Lantas, apakah Anda bisa mengatakan bahwa seluruh kucing berwarna putih? Nalar manusia normal pasti mengatakan bahwa itu pengambilan kesimpulan yang keliru.
Dalam cuitannya, Tuan mengomentari bahwa dua belas anak 減intar dan open minded yang ia wawancarai untuk beasiswa LPDP tidak ada yang menutup kepala, dengan hijab, seperti manusia gurun. Tendensi islamophobia jelas sekali dalam cuitan ini, menghubungkan dua hal yang tidak berkorelasi, dalam hal ini intelektualitas dan gaya berpakaian, jelas sangat tidak bijak.
Jadi, tidaklah berlebihan ketika saya berpendapat bahwa Tuan ingin mengatakan 淢ahasiswi Berhijab itu tidak ada yang pintar, bukan? Mari saya ingatkan.
Mungkin Tuan lupa, sebagai pimpinan universitas ternama, Tuan memiliki wakil bidang akademik yang juga berpakaian ala wanita gurun, Nurul Widiastuti namanya, apakah Tuan masih mempertanyakan kepintaran beliau? Itu baru satu contoh wanita yang berpakaian ala wanita gurun yang ada disekeliling tuan.
Agaknya, sikap rasis yang Tuan kemukakan di media sosial sangat mencederai dunia akademik. Bagaimana tidak, sebagai pewawancara LPDP, masyarakat akan mempertanyakan objektivitas Tuan dalam memilih calon penerima beasiswa tersebut. Apakah benar akan sesuai kriteria yang ditentukan, atau akan dipengaruhi oleh tendensi kebencian terhadap golongan Islam?
Maka, benarlah kata orang bijak, di atas ilmu masih ada akhlak
Penulis: Afrizal Naufal Ghani (Mahasiswa Ekonomi Islam UNAIR)





