Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) merupakan salah satu jenis kanker darah yang paling sering terjadi pada anak-anak, mencakup sekitar 25% dari keseluruhan kasus kanker anak di dunia. Kemajuan dalam pengobatan pada penyakit kanker dengan kemotrapi seperti high-dose methotrexate (HD-MTX) atau metotreksat dosis tinggi. Beberapa penelitian di negara-negara maju menunjukkan lebih dari 90% anak dengan LLA mengalami peningkatan harapan hidup. Keberhasila dalam kemajuan pengobatan kanker, juga memberikan tantangan dikarenakan memiliki efek samping yang cukup serius. Mukositis gastrointestinal (GI) adalah salah satu efek samping dimana terjadi radang dan kerusakan pada lapisan saluran pencernaan. Kondisi tersebut menyebabkan sakit perut, sulit makan, gangguan penyerapan nutrisi, hingga peningkatan risiko infeksi yang serius pada anak. Parahnya lagi, kondisi ini bisa menyebabkan keterlambatan atau bahkan penghentian sementara pengobatan, yang berisiko menurunkan efektivitas terapi secara keseluruhan.
Mukositis GI sulit dideteksi dikarenakan pemeriksaan yang tersedia masih tergolong invasif, seperti biopsi usus. Prosedur yang dilakukan tidak nyaman dan dianggap kurang ideal untuk anak-anak dikarenakan membutuhkan pengambilan jaringan usus untuk dianalisis di laboratorium. Beberapa penelitian menunjukkan sitrulin menjadi solusi potensial sebagai biormarker. Namun, beberapa penelitian masih terbatas pada orang dewasa atau menggunakan obat kemotrapi lain. Sitrulin merupakan asam amino non-protein yang di produksi oleh sel-sel usus halus secara alami. Kadar sitrulin dapat mencerminkan jumlah dan kesehatan sel usus, dimana produki sitrulin menurun sehingga kadar dalam darah juga menurun menunjukkan kemungkinan terjadi kerusakan pada mukosa usus. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan kadar sitrulin sebelum dan sesudah kemoterapi HD-MTX pada anak-anak penderita ALL selama fase konsolidasi. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menentukan fungsi sitrulin sebagai biomarker yang andal untuk mendeteksi dan memantau mukositis GI.
Penelitian ini dilakukan di sebuah rumah sakit khusus yang menangani anak-anak dengan kanker. Sebanyak 34 anak penderita Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) ikut serta dalam studi penelitian. Mereka semua sedang menjalani tahap pengobatan yang disebut fase konsolidasi, yaitu tahap lanjutan setelah gejala leukemia berhasil ditekan di awal. Anak-anak yang dilibatkan adalah mereka yang memang sudah didiagnosis LLA dan dijadwalkan untuk menerima kemoterapi metotreksat dosis tinggi (HD-MTX). Namun, anak yang memiliki masalah pencernaan sejak sebelumnya, penyakit ginjal, atau gangguan penyerapan nutrisi tidak diikutkan dalam penelitian ini, karena kondisi tersebut bisa memengaruhi hasil pemeriksaan., peneliti mengambil sampel darah dua kali: sebelum kemoterapi diberikan dan 48 jam setelahnya. Pemeriksaan dilakukan menggunakan alat canggih bernama High-Performance Liquid Chromatography (HPLC), dan metode laboratorium yang sangat akurat.
Hasil penelitian secara umum menunjukkan kadar sitrulin dalam darah anak-anak tidak banyak berubah setelah kemotrapi. Namun ditemukan perbedaan yang menarik antar kelompok. Hasil penelitian menunjukkan kadar sitrulin yang menurun setelah pengobatan pada kelompok Risiko Standar. Sebaliknya, anak pada kelompok Risiko Tinggi mengalami peningkatan kadar sitrulin setelah kemoterapi. Hal tersebut disebabkan oleh respons tubuh yang mencoba memperbaiki kerusakan dengan memperbanyak sel usus baru, atau karena pengaruh lain seperti peradangan, status gizi, dan faktor genetik. Peneliti juga membandingkan kadar sitrulin berdasarkan tingkat keparahan mukositis (radang selaput lendir mulut dan saluran pencernaan). Pada pasien dengan mukositis ringan, kadar sitrulin meningkat, yang mungkin menandakan awal proses penyembuhan. Namun, pada pasien dengan mukositis sedang, kadar sitrulin tidak berubah banyak, kemungkinan karena ususnya mengalami kerusakan yang lebih berat dan sulit pulih dengan cepat.
Simpulan dari penelitian yang dilakukan, sitrulin bisa dimanfaatkan untuk mendeteksi kerusakan usus lebih awal, memandu pemberian nutrisi, serta membantu dokter mengambil keputusan perawatan yang lebih personal bagi anak-anak penderita kanker. Namun, tentu masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk memastikan batas aman dan penerapan terbaiknya di dunia klinis. Temuan ini membuka peluang baru untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak yang menjalani pengobatan kanker.
Penulis: Dr. Alpha Fardah Athiyyah, SpA(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Rahmayani, S. ., Athiyyah, A. F. ., Ranuh, I. R. G. ., Darma, A. ., Sumitro, K. R. ., Andarsini, M. R. ., & Sudarmo, S. M. . (2025). The effect of high-dose methotrexate chemotherapy on citrulline level to gastrointestinal mucositis cases in children with acute lymphoblastic leukemia during the consolidation phase. Edelweiss Applied Science and Technology, 9(1), 1078“1085. https://doi.org/10.55214/25768484.v9i1.4310





