Demam Lassa (LF), dengan sebutan lain Demam Hemoragik Lassa (LHF), merupakan infeksi virus yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di negara-negara di sub-Sahara Afrika. Virus Lassa (LASV), yang termasuk dalam keluarga Arenaviridae, adalah penyebab utama LF. LASV memiliki struktur RNA untaian tunggal, linier, ambisense, dan tersegmentasi ganda. LASV materi penularnya adalah tikus multimammate (Mastomys natalensis) yang tersebar di wilayah Afrika sub-Sahara.
Semua kelompok usia dan kedua jenis kelamin dapat terkena demam Lassa, terutama mereka yang tinggal di daerah terpencil dengan sanitasi yang rendah. Penularan virus Lassa dapat terjadi melalui kontak dengan ekskresi, darah, jaringan, atau sekresi individu yang terinfeksi. Meskipun demikian, penularan melalui kontak biasa tidak terjadi, kecuali jika terjadi kontak langsung tanpa penggunaan alat pelindung diri (APD), terutama di lingkungan perawatan kesehatan yang rentan terhadap infeksi nosokomial. Selain itu, penyebab lain penularan LASV adalah gangguan pasokan medis seperti penggunaan ulang jarum suntik.
Sebaran Wilayah
Di wilayah-wilayah endemis di Afrika, LF menjadi penyebab signifikan dari tingkat morbiditas dan mortalitas. Sebanyak 80% kasus termasuk kategori ringan dan 20% masuk dalam kategori berat, serta terjadi epidemi sporadis dengan tingkat kematian mencapai 50%. Gejala demam Lassa antara lain demam, ketidaknyamanan, dan masalah neurologis seperti ensefalitis, gangguan pendengaran, dan gemetar. Tantangan dalam diagnosis klinis terletak pada kemunculan gejala yang umumnya baru muncul 1-3 minggu setelah kontak dengan virus. Estimasi terbaru menunjukkan bahwa LF menyebabkan kematian 5000 hingga 10.000 orang setiap tahunnya. Terutama di wilayah Afrika Barat, dan menginfeksi sekitar dua juta orang.
Beberapa model epidemiologi telah berkembang untuk memahami lebih lanjut transmisi LF. Penjelasan perubahan transmisi LF menggunakan sistem nonautonom yang terdiri dari persamaan diferensial biasa nonlinear yang memperhitungkan fluktuasi musiman dalam populasi tikus Mastomys, serta pendekatan matematika lainnya yang terkait dengan virus Lassa. Wanita hamil yang terinfeksi demam LHF menderita efek yang merugikan, dan ini pertama kali terjadi di Afrika.
Dalam berbagai bidang ilmu, terutama teknik dan fisika, kalkulus fraksional telah banyak penggunaannya. Model orde fraksional lebih faktual dan empiris daripada model konvensional karena membedakan antara fitur genetik dan memori dalam model matematika. Sebuah model baru menggunakan orde fraksional dalam persamaan diferensial biasa untuk memodelkan demam Lassa. Pendekatan ini mempertimbangkan transfer dari orang ke orang, dari mastomi ke manusia, dan kontaminasi lingkungan. Penemuan solusi numerik untuk model tersebut menggunakan metode Adams-Bashforth-Moulton. Analisis menunjukkan bahwa strategi perlindungan tubuh dengan saran dapat mengendalikan potensi wabah. Meskipun demikian, LF tetap menjadi penyakit yang mematikan, terutama bagi wanita hamil.
Penulis: Cicik Alfiniyah, M.Si., Ph.D
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





