UNAIR NEWS – Manajemen sebuah merek merupakan hal yang krusial pada suatu perusahaan. Pengelolaan merek yang baik memastikan tersedianya konsumen bagi suatu produk. Hal ini diperjelas oleh Andre Setiawan Omarhadi, Manajer Area Pemasaran di PT Nutrifood Indonesia.
Andre menyampaikan topik itu dalam acara yang diinisiasi oleh bertajuk Brand Management in Fast Moving Consumer Goods Industry, sebuah webinar kolaborasi bersama merek kopi lokal Lokalate.
Merek sendiri, kata Andre, merupakan suatu penanda identitas suatu produk atau jasa dari satu penjual. Merek akan membedakan penjual dari kompetitor lainnya. Tantangannya adalah bagaimana merek itu mengandung bukan hanya pesan yang ingin disampaikan penjual namun juga bagaimana konsumen menangkap identitas dan pesan itu.
淢erek ini harus dikembangkan salah satunya karena nilai prestisius. Orang-orang bisa beli produk kita hanya karena nama, misalnya Apple, ujar alumnus Universitas Katolik Parahyangan tersebut.
Spesialis pemasaran tersebut menyebutkan bahwa pengelolaan merek menjamin beberapa aspek bagi konsumen dan penjual. Bagi konsumen, merek mengindikasikan adanya tanggung jawab sumber produk, kualitas, serta pengurang risiko pada produk. Sedangkan bagi perusahaan, merek yang telah melekat di masyarakat akan memastikan kesetiaan konsumen serta keuntungan kompetisi pasar.
Dalam pengelolaan merek, tambah Andre, pada umumnya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Yaitu nama, logo, tipografi, tagline, dan warna. Semua aspek itu harus dikomunikasikan secara konsisten dan koheren kepada konsumen. Komunikasi itu dilakukan melalui strategi branding dari instrumen platform iklan, brand ambassador, dan lainnya.
Jenis Strategi Branding
淎da beberapa jenis strategi branding yang bisa dilakukan. Mulai dari strategi rekognisi nama hingga kolaborasi branding, ujar peraih gelar master program manajemen industri pemasaran tersebut.
Beberapa jenis strategi branding di antaranya adalah rekognisi nama brand dari diversifikasi jenis produk. Misalnya, perusahaan ponsel pintar yang kemudian memproduksi jam tangan pintar atau smartwatch. Konsumen yang loyal terhadap merek tersebut berkemungkinan untuk tertarik membeli smartwatch mereka juga. Selanjutnya adalah branding individual, dimana satu perusahaan menciptakan merek baru untuk memasuki pasar tertentu.
Andre melanjutkan dengan strategi berikutnya yaitu attitude branding, dimana suatu perusahaan mengasosiasikan merek mereka dengan sikap atau perilaku tertentu. Misalnya, suatu merek sepatu yang melekatkan sikap spontan dan senang berpetualang untuk menarik target konsumen tersebut.
Lain lagi dengan no brand branding. Strategi seperti ini malah menekankan minimalisme dan identitas yang polos serta monoton. Biasanya konsumen yang suka terhadap gaya yang rapi menyenangi merek seperti ini.
Branding selanjutnya misalnya branding privat. Mantan eksekutif R&D PT Nutrifood Indonesia tersebut memaparkan bahwa branding privat adalah ketika perusahaan menciptakan jenis produk pelengkap atau kenyamanan di bawah merek mereka sendiri. Perusahaan juga dapat melakukan crowdsourcing atau branding kolaborasi dengan melibatkan pihak ketiga untuk mengiklankan produk.
沦迟谤补迟别驳颈 branding ini adalah cara supaya konsumen bisa sampai pada tahap dimana merek kita adalah yang pertama kali terpikir ketika akan membeli suatu produk, tutur Andre. (*)
Penulis: Deanita Nurkhalisa
Editor: Binti Q. Masruroh





