51动漫

51动漫 Official Website

Strategi Pencegahan dan Pengobatan Monkeypox: Tantangan dan Prospek Saat Ini

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Monkeypox, adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus Monkeypox. Penyakit ini muncul kembali menimbukan masalah kesehatan pada manusia dalam beberapa tahun terakhir. Manifestasi klinis penyakit ini pada kulit yang mirip cacar (smallpox) yang disebabkan oleh virus Variola.

Virus Monkeypox merupakan virus DNA yang termasuk dalam famili Poxviridae. Virus ini berasal dari satu genus yang sama dengan virus Variola, yaitu Orthopoxvirus. Inang utama virus ini adalah primata non-human, hewan pengerat, dan kelinci. Inang ini terkadang dapat menularkan virus ke manusia, dan selanjutnya terjadi penularan dari manusia ke manusia. Kasus Monkeypox dilaporkan pertama kali pada monyet pada tahun 1958. Berikutnya, pada tahun 1970, diidentifikasi pertama kali pada manusia (bayi berusia 9 bulan yang belum divaksin cacar) di Kongo. Pada tahun 2022, wabah Monkeypox muncul. Virus ini dilaporkan dapat ditularkan melalui kontak fisik yang erat: kulit ke kulit, mulut ke mulut, atau mulut ke kulit (seperti berciuman atau melakukan hubungan seksual). Selain itu, prevalensinya meningkat di antara kaum gay dan biseksual melalui kontak yang erat, termasuk hubungan seksual secara oral, anal, dan vaginal. Namun, penularan dari hewan ke hewan lebih umum terjadi daripada penularan dari manusia ke manusia.

Beberapa tantangan dalam penanganan/pengendalian kasus Monkeypox di beberapa negara, antara lain 1) pertumbuhan populasi yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir; 2) orang yang terinfeksi tidak selalu menunjukkan gejala; 3) penurunan sistem kekebalan tubuh akibat komplikasi penyakit lain (a.l. pandemi COVID-19); 4) keterbatasan teknologi untuk menegakkan diagnosis yang cepat; 5) keterbatasan ketersediaan antiviral; dan 6) keterbatasan ketersediaan vaksin.

Saat ini vaksin cacar (smallpox) dapat diberikan sebagai pencegahan Monkeypox. Sedangkan antivirus umumnya digunakan untuk pasien dengan kontraindikasi vaksin, dan pasien dengan sistem imunokompromi, yang tidak dapat menerima vaksin karena reaksi berbahaya terhadap pasien ini. Pengembangan antivirus untuk Monkeypox menunjukkan kemajuan yang bermakna. Antivirus seperti Tecovirimat, Brincidofovir, dan Cidofovir, telah diuji terhadap Monkeypox. Dari ketiga antivirus tersebut, Tecovirimat yang mendapatkan izin edar dari FDA pada Juli 2018; menunjukkan hasil yang luar biasa dalam menurunkan replikasi virus terhadap model eksperimental Monkeypox.

Terlepas dari upaya untuk mengendalikan penyebarannya, penyakit ini terus menimbulkan tantangan bagi keamanan kesehatan global. Strategi pencegahan dan pengobatan yang efektif untuk Monkeypox membutuhkan pendekatan multidisiplin yang mengatasi tantangan saat ini dan memanfaatkan prospek. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan vaksin yang lebih spesifik, agen terapeutik yang lebih efektif, serta alat diagnostik yang lebih handal, untuk memerangi ancaman Monkeypox yang muncul kembali ini.

Penulis: Juniastuti

Informasi detil dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel jurnal scopus, berjudul : Monkeypox prevention and treatment strategies – current challenges and prospects. 

DOI: 10.35975/apic.v29i6.2906

Link artikel:

AKSES CEPAT