51动漫

51动漫 Official Website

Strategi Pengembangan Komoditas Kelautan Prospektif di Flores Timur, Indonesia

Ilustrasi oleh Antaranews.com

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki 23 kabupaten/kota. Salah satunya adalah Kabupaten Flores Timur yang terletak di bagian utara NTT. Kabupaten Flores Timur terdiri dari tiga pulau utama, yaitu Pulau Adonara, Pulau Solor, dan Pulau Flores Timur, yang terbagi dalam 19 kecamatan, 229 desa, dan 21 kelurahan. Wilayah Kabupaten Flores Timur didominasi oleh wilayah laut (69%) atau seluas 4.174,53 kilometer persegi, sementara luas daratannya hanya 1.812,85 kilometer persegi (Dinas Kelautan dan Perikanan Flores Timur, 2015). Dengan lanskap yang sebagian besar berupa wilayah laut, laut menjadi salah satu sumber kehidupan bagi masyarakat Kabupaten Flores Timur. Laut juga memiliki potensi yang sangat besar berupa sumber daya alam yang kemudian dimanfaatkan sebagai salah satu modal untuk pembangunan daerah di Kabupaten Flores Timur, salah satunya adalah sektor perikanan.

Flores Timur terkenal dengan produk ikan berkualitas, dan hal ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat lokal, tetapi juga oleh sebagian besar masyarakat di provinsi ini, terutama masyarakat di Pulau Timor (Kota Kupang dan sekitarnya). Hal ini dibuktikan berdasarkan hasil laut Kabupaten Flores Timur yang merupakan kabupaten ketiga dengan hasil laut (perikanan) terbanyak yaitu 15.156 ton, di bawah Kabupaten Alor di urutan pertama dengan 20.026,17 ton, dan Kabupaten Sikka di urutan kedua dengan 17.186 ton (Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur 2018, 2023a). Fakta ini semakin memperkuat bahwa ikan yang dihasilkan oleh Laut Flores Timur dapat mendukung kebutuhan masyarakat tidak hanya di Kabupaten Flores Timur, tetapi juga sebagian besar masyarakat Nusa Tenggara Timur (Dinas Kelautan dan Perikanan Flores Timur, 2015), dan sejalan dengan temuan Paulus et al. (2023).

Selain ikan, mutiara juga merupakan produk laut berharga dari Kabupaten Flores Timur. Komoditas mutiara dibudidayakan di Pulau Konga dan bagian barat Pulau Adonara, tepatnya di Desa Oyangbarang, Kecamatan Wotan Ulumado. Mutiara ini termasuk dalam kategori mutiara berkualitas terbaik, karena mutiara dari Indonesia termasuk dalam lima besar mutu terbaik di dunia. Mutiara dari Indonesia dikenal sebagai South Sea Pearl. Mutiara dari Laut Flores Timur merupakan salah satu penyumbang komoditas mutiara Indonesia yang diekspor ke luar negeri (Jepang, Hong Kong, dan Australia). Maka wajar apabila disimpulkan bahwa Kabupaten Flores Timur memiliki potensi unggulan dalam hal produk hasil laut.

Namun demikian, sebagaimana studi yang dilakukan oleh Nababan et al. (2020), permasalahannya adalah bahwa tingkat pemanfaatan dari potensi tersebut belum optimal. Fakta ini tentu cukup ironis, di tengah luasnya perairan laut Kabupaten Flores Timur yang memiliki hasil laut yang melimpah. Masyarakat dan pemerintah daerah belum mampu mengembangkan komoditas laut secara maksimal. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat nelayan dan pemerintah daerah kesulitan dalam menentukan komoditas mana yang layak dan perlu dikembangkan, mengingat begitu banyaknya komoditas laut yang dihasilkan oleh Laut Flores Timur.

Menyadari kebutuhan akan strategi pengembangan sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Flores Timur, studi ini menggabungkan empat alat untuk memilih komoditas yang akan dikembangkan dengan metode untuk merumuskan strategi pengembangan komoditas tersebut. Alat untuk memilih komoditas yang prospektif meliputi tingkat kontribusi, static location quotient (SLQ), dynamic location quotient (DLQ), dan klasifikasi dari analisis SLQ dan DLQ, serta wawancara terstruktur dengan pemangku kepentingan kunci. Perumusan strategi pengembangan komoditas terpilih, beserta identifikasi kendalanya, dirangkum dari wawancara terstruktur dengan pemangku kepentingan pada komoditas yang dipilih.

Studi ini menunjukkan bahwa terdapat empat komoditas subsektor kelautan di Kabupaten Flores Timur yang memiliki potensi paling besar untuk dikembangkan ke depannya, yaitu ikan cakalang, mutiara, ikan lemadang, dan ikan kembung laki-laki. Kendala utama dalam pengembangan komoditas tersebut berasal dari faktor alam, seperti badai, angin kencang, dan pandemi. Dalam menghadapi kendala alam tersebut, para nelayan dan pembudidaya mutiara belum memiliki strategi yang memadai untuk benar-benar mengatasi permasalahan tersebut. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membantu mengatasi hambatan-hambatan ini, dan kebijakan yang telah diterapkan setidaknya telah mencegah dampak negatif yang lebih buruk. Namun demikian, dibutuhkan bantuan yang lebih besar serta kebijakan yang lebih konsisten dan berorientasi jangka panjang dari pemerintah untuk mendukung pengembangan komoditas tersebut.

Penulis:

Karolinda Kidi Mukina, Sigit Triandarub, Ilmiawan Auwalina

(a Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 51动漫

b Fakultas Bisnis dan Ekonomi, Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Tulisan ini diringkas dari artikel jurnal dengan judul: 淪trategies for Developing Prospective Marine Commodities in East Flores, Indonesia yang telah diterbitkan di Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Masalah Ekonomi dan Pembangunan (SINTA 2). Artikel jurnal dapat diakses di:

AKSES CEPAT