51动漫

51动漫 Official Website

Strategi Terapi Alergi Udang Dengan Desensitisasi Ekstrak Udang

Alergi makanan adalah reaksi alergi yang dimediasi oleh paparan protein tertentu dalam makanan yang masuk dalam tubuh. Dalam beberapa dekade terakhir, angka kejadian alergi makanan terus mengalami peningkatan dan keterulangan kekambuhan lebih sering terjadi. Alergi makanan laut adalah salah satu alergi ingestan yang paling banyak dialami penduduk di dunia. Di Asia, prevalensi alergi makanan laut mencapai 7,7%, sedangkan di Amerika sekitar 2,3%. Peluang kejadian dan manifestasinya sangat bervariasi, yang diduga disebabkan oleh genetika / ras penduduk, usia, tingkat konsumsi, lokasi geografis dan derajat polutan lingkungan atau perairan. Studi meta-analisis menunjukkan bahwa alergi krustasea, terutama udang, lebih banyak terjadi secara global dibandingkan alergi moluska. Alergi udang dapat menyebabkan reaksi alergi parah dan berpotensi mengancam jiwa. Hampir 50% pasien setidaknya pernah dilarikan ke ruang gawat darurat untuk perawatan intensif karena alergi tersebut.

Saluran pencernaan merupakan jalur utama paparan alergen ingestan. Ini melibatkan mekanisme imunoregulasi kompleks yang melibatkan komponen penting dalam saluran cerna yaitu Gut-Associated Lymphoid Tissue (GALT). Alergen dapat menginduksi aktivitas GALT sehingga menimbulkan reaksi alergi lokal dan sistemik seperti gangguan gastrointestinal, kulit, mata, serta reaksi pernafasan dan anafilaksis. Paparan alergen udang yang mengandung tropomyosin (TPM) dapat menyebabkan sel B melepaskan Imunoglobin E (IgE) yang spesifik. IgE dan berbagai sitokin yang dilepaskan akan menimbulkan beberapa symptom alergi. Pada periode sensitisasi, paparan alergen berulang akan meningkat Degranulasi Sel Mast (MC) pada jaringan usus dan pelepasannya beberapa mediator inflamasi, sehingga menyebabkan reaksi hipersensitivitas.

Ekstrak Alergen Udang (SAE) adalah agen diagnostik dan imunoterapi yang saat ini sedang dikembangkan di 51动漫. Pada penelitian ini, kami menyelidiki pengaruh pemberian SAE menimbulkan respons imunologis MC. Produk SAE yang dikembangkan mengandung kadar TPM 0,16-0,27 ng/mL dalam ekstrak. Pada penelitian sebelumnya telah menggunakan produk SAE ini dan menunjukkan efisiensinya sebagai agen imunoterapi dan diagnostik pada model hewan yang mengalami alergi gastro-food. Parameter yang diamati meliputi kadar IgE dan IgG2a serta ekspresi relatif mRNA IL-5 dan IL-10. Hewan coba dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok disensitisasi dan non-sensitisasi. Kelompok non-sensitisasi hanya mendapat 1 mg tawas (i.p), sedangkan kelompok disensitisasi mendapatkan 1 mg tawas dan 100 渭g SAE pada hari 0, 7, dan 14. Kemudian, kedua kelompok tersebut ditantang dengan 400 渭g SAE (p.o) pada hari ke 21, 22, dan 23 dan diobservasi gejala alergi sistemik. SAE mampu meningkatkan secara sistemik gejala alergi secara signifikan pada hewan coba yang disensitisasi melalui tantangan berulang (1,33卤0,21; 1,83卤0,17; dan 2,00卤0,00), dibandingkan untuk hewan coba yang non-sensitisasi (0,17卤0,17). Analisis histopatologis menunjukkan bahwa administrasi SAE menyebabkan peningkatan degranulasi MC pada jaringan ileum pada hewan yang disensitisasi (44,43%卤0,01), dibandingkan dengan hewan coba yang non-sensitisasi (35,45%卤0,01). Ini menunjukkan bahwa bahwa SAE dapat menyebabkan reaksi alergi pada hewan coba dengan mempengaruhi sel efektor kritis yaitu MC.

Berdasarkan penelitian. Ini dapat disimpulkan bahwa SAE dapat digunakan untuk menginduksi reaksi alergi pada hewan coba dengan mempengaruhi sel efektor kritis MC. Namun, penelitian lebih lanjut mengenai peran SAE pada mekanisme terjadinya alergi diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan strategi terapi terhadap alergi makanan pada masa depan.

Penulis : Junaidi Khotib

Laman:

Judul: Development of gastro-food allergy model in shrimp allergen extract-induced sensitized mice promotes mast cell degranulation

AKSES CEPAT