Pengetahuan tentang anatomi gigi dan struktur saluran akar memiliki signifikansi penting dalam praktik kedokteran gigi. Tidak hanya untuk keperluan medis tetapi juga dalam konteks pengenalan ciri-ciri antropologis. Variasi yang umum terjadi dalam jumlah dan morfologi saluran akar pada molar pertama permanen di rahang bawah umumnya memiliki dua akar. Keduanya terletak secara mesial dan distal dengan tiga saluran akar.
Terdapat beragam variasi anatomis pada akar dan saluran akar molar pertama di rahang bawah. Termasuk adanya akar tambahan distolingual atau mesiobukal atau radix entomolaris (RE) atau radix paramolaris. Ini pertama kali muncul dan populer karena Carabelli. Teori tentang pembentukan RE masih menjadi perdebatan sampai dengan saat ini.
Molar Berakar Tiga
Menurut Curzon, ciri khas “molar berakar tiga” ini menunjukkan pengaruh genetik yang signifikan. Terbukti pada individu Eskimo murni maupun keturunan campuran Eskimo/Kaukasia. Berdasarkan studi anatomi, beberapa kelompok etnis. Termasuk populasi dengan ciri-ciri Mongoloid seperti Cina, Korea, Indian Amerika, Taiwan, dan Eskimo. Etnis-etnis itu memiliki variasi dalam distribusi akar pada molar pertama.
Beberapa penelitian telah mengklasifikasikan RE berdasarkan morfologi, orientasi bukolingual, dan karakteristik radiografisnya. RE dapat mempersulit proses perawatan saluran akar, terutama karena beberapa hal. Misalnya saja saluran yang sempit, lengkungan bukolingual, dan panjang akar yang pendek yang sering kali terjadi.
Variasi Morfologi Akar
Studi literatur juga mencatat adanya variasi morfologi saluran akar pada gigi permanen lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa faktor rasial dan genetik berperan dalam menentukan struktur saluran akar. Di mana kondisi ini berdampak pada keberagaman morfologi di antara populasi etnis.
Meskipun morfologi saluran akar gigi insisif permanen umumnya hanya memiliki satu akar dengan satu saluran akar, beberapa kasus menunjukkan keberadaan saluran akar kedua, saluran samping, dan delta apikal, yang seringkali sulit untuk diidentifikasi. Studi di Australia menemukan prevalensi yang tinggi dari dua saluran akar pada gigi insisif permanen. Kondisi ini mendorong penelitian lebih lanjut mengenai variasi ini.
Berbagai Metode
Penelitian tentang arsitektur saluran akar telah peneliti lakukan baik dengan metode eks vivo maupun in vivo. Di sisi lain, peneliti juga melakukan dengan fokus pada teknik invasif seperti pewarnaan saluran akar, prosedur pembersihan gigi, dan teknik mikroskopi. Meskipun radiografi menjadi alat penting dalam memahami anatomi saluran akar, teknologi CBCT lebih akurat dalam mendeteksi sistem saluran akar.
CBCT memberikan gambar 3D yang jelas dari gigi dan jaringan sekitarnya, dengan dosis radiasi yang lebih rendah dan prosedur non-invasif. Meskipun banyak penelitian telah peneliti lakukan mengenai simetri dan distribusi saluran akar di antara populasi etnis lain, informasi mengenai populasi tertentu masih kurang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengamati prevalensi dan morfologi saluran akar pada populasi India menggunakan CBCT, serta mengeksplorasi hubungan antara kedua variabel tersebut.
Penulis: Prof Dr Dian Agustin Wahjuningrum, drg SpKG Subsp, KE(K)
Sumber:





