UNAIR NEWS – Kembali perkuat kerja sama internasional, 51动漫 menyelenggarakan program International Student Mobility yang berjudul kegiatan Surabaya Immersion Program: Creating Sustainable Healthy Environment. Kegiatan ini merupakan kerja sama UNAIR dengan mahasiswa Ngee Ann Polytechnic Singapore, Universitas Kristen Petra dan Universitas Ciputra.
Bertempat di Gedung Kuliah Bersama GC 6.11 Kampus MERR C UNAIR, hadir Azizah Ajeng Pratiwi SGz MSc sebagai dosen pengajar departemen S1 gizi fakultas kesehatan masyarakat mengisi class session pada Senin (26/02/2024). Azizah membawakan materi seputar ketahanan pangan masyarakat adat lokal Kasepuhan Ciptagelar Jawa Barat.
淚novasi yang dilakukan petani kecil di daerah lokal sangat perlu dilakukan untuk keberlanjutan ekonomi lingkungan guna menjamin ketahanan pangan di masa depan, tutur Azizah.
Tantangan dan Aspek Utama Ketahanan Pangan
Tantangan dalam sistem pangan memiliki dampak yang signifikan pada gizi masyarakat. Ketidakmampuan untuk mengakses pangan yang berkualitas dan bergizi secara terjangkau dapat menyebabkan defisiensi gizi. Hal ini disebabkan oleh masalah ekonomi, distribusi tidak merata atau akses terbatas di daerah pedesaan. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, diperlukan upaya yang komprehensif dan kolaboratif dari pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sektor swasta, dan masyarakat secara keseluruhan.
Azizah menyebut terdapat empat aspek utama dalam ketahanan pangan yaitu, ketersediaan, akses pangan, aspek pemanfaatan pangan dan stabilisasi pangan. Semua saling terkait untuk mencapai tujuan ketahanan pangan secara menyeluruh. Ketika masyarakat memiliki akses yang stabil terhadap pangan yang berkualitas, mereka dapat memanfaatkannya dengan baik untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
Dipertahankan dan Perlu Diapresiasi
Sejalan dengan itu, Azizah menyorot desa Ciptagelar yang masih mempertahankan hukum tradisional. Ketahanan pangan yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi masyarakat. Azizah menambahkan masyarakat tidak hanya menanam padi, melainkan berbagai jenis sayuran dan hortikultura lainnya.
淏agi masyarakat, beras tidak hanya sekedar komoditas pangan. Namun, simbol kehidupan seluruh masyarakat adat, jelasnya.
Aturan adat dalam bercocok tanam di masyarakat Ciptagelar yaitu, apabila salah satu penduduk menikah maka wajib untuk menanam padi. Sehingga setiap keluarga mempunyai bekal dalam menjalani kehidupan yang komoditas pangan utamanya beras mampu memenuhi kebutuhan.
Azizah menekankan aturan adat Kasepuhan Ciptagelar dapat diambil hikmah bahwa ketahanan pangan di masyarakat dapat diupayakan. Asalkan terpenuhi aspek-aspek tertentu seperti partisipasi aktif seluruh masyarakat, kesediaan untuk mendistribusikan sejumlah sumber daya ketika terjadi kondisi kerawanan pangan. Pentingnya peran elit politik dalam mengelola wilayahnya hingga keinginan untuk hidup berdampingan dengan alam.
Penulis: Mutiara Rachmi Karenina
Editor: Khefti Al Mawalia





