Imunisasi adalah salah satu cara paling efektif untuk melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya seperti campak, difteri, polio, dan hepatitis. Namun di Indonesia masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Kondisi ini meningkatkan risiko anak terkena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Sebuah penelitian yang dilakukan di Surabaya dan Sumenep, Madura mencoba menjawab pertanyaan penting: siapa yang lebih berperan dalam kelengkapan imunisasi anak, ayah atau ibu? Penelitian ini melibatkan 240 anak usia 0“18 bulan beserta orang tua mereka. Para orang tua (ayah dan ibu) diminta mengisi kuesioner tentang pengetahuan mereka mengenai imunisasi, sikap terhadap imunisasi dan tindakan nyata (praktik) dalam membawa anak imunisasi. Status imunisasi anak dicek langsung melalui buku imunisasi resmi. Hasil penelitian menunjukkan fakta yang cukup mengejutkan diantaranya :
- Sebagian besar anak belum mendapat imunisasi lengkap, baik di Surabaya (60%) maupun di Sumenep (76,7%).
- Ibu umumnya memiliki pengetahuan sedikit lebih baik tentang imunisasi dibanding ayah.
- Namun, tidak ada perbedaan yang bermakna antara peran ayah dan ibu dalam menentukan apakah anak mendapat imunisasi lengkap atau tidak.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan meskipun ibu sering dianggap sebagai pihak utama yang mengurus kesehatan anak, peran ayah ternyata sama pentingnya. Penelitian ini menemukan bahwa kelengkapan imunisasi tidak hanya dipengaruhi oleh pengetahuan orang tua. Ada banyak faktor lain, seperti kesibukan orang tua, akses ke fasilitas kesehatan, pengaruh budaya dan lingkungan, informasi yang salah atau hoaks tentang vaksin dan kurangnya komunikasi antara orang tua dan tenaga kesehatan. Bahkan orang tua yang sudah memiliki sikap positif terhadap imunisasi belum tentu berhasil melengkapi imunisasi anaknya. Penelitian ini menegaskan bahwa imunisasi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas ibu. Hal ini lebih mendukung apabila ketika ayah dan ibu berdiskusi Bersama, saling mendukung, dan sama-sama aktif mencari informasi yang benar, maka peluang anak mendapatkan imunisasi lengkap akan jauh lebih besar. Maka hal yang dapat dilakukan Ayah untuk lebih terlibat aktif, misalnya menemani anak imunisasi atau ikut mengambil keputusan, fasilitas kesehatan perlu lebih ramah terhadap peran ayah, bukan hanya ibu dan edukasi imunisasi sebaiknya menyasar kedua orang tua, bukan hanya ibu. Kesimpulan penelitian ini mengenai imunisasi anak bukan soal siapa yang lebih dominan, ayah atau ibu. Kunci utamanya adalah kerja sama. Ketika ayah dan ibu berjalan seiring, anak pun mendapat perlindungan kesehatan yang optimal sejak awal kehidupan.
Penulis: Rianda Azarina, Dominicus Husada, Budi Utomo
Link artikel:





