51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Studi Perbandingan Akselerator DMOT dan DMPT dalam Semen Tulang berbasis PMMA

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Cranioplasty merupakan prosedur bedah penting untuk memperbaiki tulang tengkorak yang mengalami defek akibat trauma, tumor, atau operasi pengangkatan tulang kepala. Keberhasilan tindakan ini sangat bergantung pada bahan implan yang digunakan. Bahan tersebut harus kuat, aman bagi jaringan tubuh, serta mudah dipantau melalui pemeriksaan radiologi.

Salah satu bahan yang paling sering digunakan adalah polymethyl methacrylate (PMMA) atau bone cement. PMMA dikenal karena kekuatannya, kemudahan pembentukan, dan biaya yang relatif terjangkau. Namun, kualitas PMMA sangat ditentukan oleh cara peracikannya, terutama perbandingan bahan dan jenis zat pengaktif yang digunakan dalam proses pengerasan.

Dalam penelitian ini, para peneliti meneliti pengaruh rasio bubuk dan cairan (powder-to-liquid/P/L) serta jenis aktivator, yaitu N,N-Dimethyl-o-toluidine (DMOT) dan N,N-Dimethyl-p-toluidine (DMPT), terhadap sifat bone cement PMMA. Selain itu, ditambahkan zirconium dioxide (ZrOâ‚‚) agar bone cement terlihat jelas pada pemeriksaan sinar-X, serta ekstrak Calendula sp., tanaman herbal yang dikenal memiliki sifat bioaktif. Berbagai pengujian dilakukan untuk menilai kualitas bone cement, mulai dari kemampuan terlihat pada sinar-X, struktur mikro, kekuatan tekan, hingga keamanan terhadap sel hidup.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bone cement PMMA yang menggunakan DMOT, terutama dengan kandungan bubuk yang lebih tinggi, memiliki kekuatan mekanik yang lebih baik. Kekuatan tekan yang dihasilkan mencapai 135,9 MPa setelah 30 hari dan masih stabil hingga 124,1 MPa setelah 60 hari perendaman, sesuai dengan standar internasional ASTM F451. Sebaliknya, bone cement yang menggunakan DMPT memang mengeras lebih cepat, tetapi cenderung membentuk lebih banyak pori atau rongga di dalam strukturnya. Rongga ini membuat material menjadi lebih rapuh dan kurang kuat menahan beban jangka panjang.

Pemeriksaan menggunakan mikroskop elektron (SEM) memperlihatkan bahwa bone cement berbasis DMPT memiliki lebih banyak pori dibandingkan DMOT. Meski demikian, distribusi zirconium dioxide pada semua sampel terbukti merata, sehingga fungsi radiopak tetap optimal. Dari sisi keamanan biologis, hasil uji sel menunjukkan kabar baik. Semua formulasi mempertahankan viabilitas sel di atas 90%, menandakan bahwa semen tulang ini aman dan tidak bersifat toksik terhadap sel tubuh. Penambahan ekstrak Calendula sp. juga tidak mengganggu kompatibilitas biologis material.

Temuan ini menegaskan bahwa pemilihan aktivator dan keseimbangan komposisi bahan sangat menentukan kualitas bone cement PMMA. DMOT terbukti lebih unggul dalam menghasilkan bone cement yang kuat, stabil, dan tetap aman bagi tubuh, sehingga berpotensi meningkatkan keberhasilan jangka panjang tindakan cranioplasty.

Dengan formulasi yang tepat, bone cement PMMA tidak hanya menjadi solusi yang efektif secara mekanik, tetapi juga mendukung keselamatan dan kenyamanan pasien pascaoperasi.

Oleh: Amaliya Rasyida, Iman Adipurnama Agung Purniawan, Indra Carllistya Pramadio , Djoko Kuswanto, Hosta Ardhyananta , Tedy Apriawan, Vuri Ayu Setyowati , Indri Lakhsmi Putri , Sigit Tri Wicaksono

Link:

AKSES CEPAT