UNAIR NEWS Seorang anak penjahit bernama Wiretno berhasil 渢erbang ke penjuru dunia demi mengharumkan nama bangsa. Dalam lawatannya ke luar negeri, ia mempresentasikan berbagai karya ilmiahnya di hadapan masyarakat akademis.
Tahun 2015, ia mempresentasikan gagasannya di Korea Selatan tentang penggunaan aliran dana remitansi para tenaga kerja wanita. Mengusung karya ilmiah berjudul 淚ndonesian Migrant Workers in South Korea Study of Remmittance and Lifestyle, Retno sapaan akrabnya, berhasil masuk lima besar terbaik serta mendapatkan penghargaan dari Indonesian Student Society in South Korea pada kategori humanities.
Tahun 2017, Retno kembali berkiprah dalam ajang 5th ASEAN Academic Society International Conference yang diadakan di Thailand. Dalam forum tersebut, ia mempresentasikan tentang ekspedisi jalur rempah RI di Maluku.
Selain menjalani rutinitas perkuliahan, Retno bergabung dengan himpunan mahasiswa dan badan eksekutif mahasiswa. Sedangkan, di luar kampus, peraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,85 ini aktif di berbagai kompetisi, penelitian, dan pelestarian cagar budaya.
Lulusan S-1 Ilmu Sejarah ini besama rekan-rekan komunitas sering mengadakan lawatan sejarah atau historical trail kepada masyarakat luas. Retno bersama kawan-kawannya berekspedisi secara mandiri untuk mengunjungi situs-situs yang terbengkalai.
淒alam historical trail, kami memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai sejarah dan cagar budaya melalui diskusi-diskusi ringan maupun seminar, tutur Retno.
Bagi perempuan asal Kediri, nilai-nilai pengetahuan tak hanya didapat dari ruang kelas. Sebagai lulusan terbaik, ia berpesan agar mahasiswa banyak aktif menimba pengetahuan di luar kelas.
淜eluarlah karena keluar akan banyak menjumpai realitas sosial yang bisa memberi pelajaran yang selalu soal rumus, angka, dan aksara. Jangan suka bolos dan titip absen, pesan perempuan kelahiran 1 Januari 1996. (*)
Penulis : Helmy Rafsanjani
Editor : Defrina Sukma S.





