Langkah awal yang penting dalam Assisted Reproductive Technology / teknologi reproduksi berbantu (ART) yang mempengaruhi hasil prosedur fertilisasi in vitro (IVF) adalah pengembangan oosit melalui prosedur maturasi in vitro (IVM). Penerapan teknologi reproduksi berbantu dengan memproduksi embrio secara massal adalah untuk menjaga ketahanan genetik, meningkatkan produktivitas dan populasi ternak dalam waktu singkat dengan kualitas yang maksimal. Keberhasilan maturasi in vitro dikendalikan oleh kualitas oosit serta media maturasi.
Maturasi oosit merupakan salah tanda terjadinya proses folikulogenesis dengan diferensiasi dan proliferasi sel granulosa. Dua oosit penting mensekresi faktor pertumbuhan (oocytes secrete growth factors, OSGF) yang berkontribusi mengatur proses folikulogenesis adalah, growth differentiation factor-9 (GDF-9) dan bone morphogenetic protein-15 (BMP-15). GDF-9 dan BMP-15 merupakan molekul polipeptida dari keluarga TGF-尾 yang mampu menginduksi ekspansi sel kumulus dan meningkatkan maturasi oosit. Faktor pertumbuhan ini juga merangsang mRNA untuk merangsang FSH dan LH untuk perkembangan folikel.
Beberapa faktor berkontribusi terhadap kegagalan IVM, salah satunya adalah induksi apoptosis pada oosit akibat stres oksidatif yang disebabkan oleh sistem antioksidan yang tidak seimbang dan pembentukan ROS selama IVM. ROS harus tetap berada pada tingkat normal dan untuk mengurangi efek negatifnya diperlukan antioksidan untuk menetralisir ROS yang tinggi. Beberapa peneliti menambahkan antioksidan pada media IVM untuk menetralisir ROS dan meningkatkan kompetensi perkembangan oosit dan embrio.
Alpha lipoic acid (ALA) bertindak sebagai antioksidan organik. Sebagai bagian dari membran biologis dan kofaktor dehidrogenase mitokondria, antioksidan mampu mengais ROS. Studi in vitro pada folikel pra-antral yang dikultur dari ovarium tikus telah meningkatkan perkembangan folikel dengan meningkatkan kapasitas antioksidan total disertai dengan penurunan kadar ROS setelah suplementasi ALA. ALA dan bentuk tereduksi asam dihidrolipoat (DHLA) memiliki potensi antioksidan in vivo dan in vitro.
Hubungan sinergis antara GDF-9 dan BMP-15 dalam meningkatkan pematangan oosit dan manfaat ALA sebagai antioksidan. Kedua gen ini terlibat dalam perkembangan oosit dan folikel. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah gen GDF-9 dan BMP-15 yang mempengaruhi pematangan oosit dan folikel pada kambing Kacang.
Penelitian ini dilakukan atas kerja sama Prof. Dr. Tita Damayanti Lestari, drh., M.Sc., Prof. Dr. Widjiati, drh.,M.Si., Prof. Dr. Erma Safitri, drh., M.Si., Dr. Tjuk Imam Restiadi, drh., M.Si.. Dr. Maslichah Mafruchati, drh. M.Si. (Divisi Reproduksi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, 51动漫), drh. Laily Ulya Nurul 業lmi, M.Si., drh. Salsabilla Abani, M.Si., dan Muhammad Fajar Amrullah, S.Pt., M.Si, (Program Studi Magister Biologi Reproduksi, Fakultas Kedokteran Hewan, 51动漫), Dr. Aswin Rafif Khairullah, drh, M.Si (Divisi Peternakan, Fakultas Kedokteran Hewan, 51动漫), Shendy Canadya Kurniawan (Graduate Program of Animal Sciences, Department of Animal Sciences, Specialisation in Molecule, Cell and Organ Functioning, Wageningen University and Research. Netherlands), Abdullah Hasib (School of Agriculture and Food Sustainability, University of Queensland. Australia), Otto Sahat Martua Silaen (Doctoral Program in Biomedical Science, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia. Indonesia), Muhammad E.E. Samodra (Program Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, 51动漫). Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari hingga April 2023, di Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.
Penelitian dilakukan sebagai experimen laboratorium dengan menggunakan ovarium kambing Kacang. COC kambing Kacang di maturasi dalam media maturasi oosit yang dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Kelompok kontrol (P0) pemberian Dulbecco檚 Modified Eagle Medium (DMEM), kelompok satu (P1) MEM + ALA 25 碌M/L dan kelompok dua (P2) MEM + ALA 50 碌M/L.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa suplementasi ALA pada media IVM berpengaruh positif terhadap peningkatan ekspresi GDF-9 dan BMP-15 karena efek antioksidan ALA dapat meningkatkan interaksi sel kumulus dan oosit kambing Kacang. Dosis LA yang lebih tinggi (50 碌M/L) menyebabkan ekspresi GDF-9 dan BMP-15 yang lebih tinggi untuk mendukung pematangan oosit. P0 sebagian besar berwarna hijau, P1 sebagian besar berwarna coklat, dan P2 sebagian besar berwarna coklat pada inti oosit.
Penulis berterima kasih kepada Badan Riset Inovasi Nasional, melalui program Bantuan Riset Talenta Riset dan Inovasi (BARISTA) yang telah mendanai studi ini.
Artikel ilmiah hasil penelitian ini sudah terbit pada Journal of Advanced Veterinary Research, suatu junal bereputasi Scopus Q3 ( ). Artikel dapat di akses melalui tautan .
Penulis: Prof. Dr. Tita Damayanti Lestari, drh., M.Sc (Corrisponding Author)
Disarikan dari Artikel:
Research article:
Nurul業lmi, L. U., Lestari, T. D., Safitri, E., Restiadi, T. I., Mafruchati, M., Amrullah, M. F., Khairullah, A.R., Kurniawan, S.C., Abani, S., Hasib, A., Samodra, M.E.E., & Silaen, O. S. M. (2024). Supplementation of alpha lipoic acid on Kacang goat (Capra hircus) oocyte to the growth of GDF-9 and BMP-15. Journal of Advanced Veterinary Research, 14(1), 135-138. Retrieved from





