Stres pada ibu hamil telah dikonseptualisasikan sebagai sesuatu yang dapat berdampak buruk pada janin. Estimasi prevalensi stres dan gejala depresi berkisar antara 7,4% – 20% pada masa kehamilan dan 19,2% pada tiga bulan pertama setelah melahirkan. Kelainan fungsi plasenta berkaitan erat dengan penyulit pada janin. Pada kondisi stres prenatal dapat mengaktifkan HPA (Hipothalamus-Pituitary-Adrenal) axis menyebakan meningkatnya glukokortikoid (kortisol). Tingginya Reactive Oxygen Species (ROS) meregulasi NF-kB memicu sekresi sitokin pro inflamasi, terutama Tumor Necrosis Factor (TNF伪). Sitokin TNF memiliki reseptor spesifik pada membrane sel yang hasil akhir dapat berupa apotosis.
Asam folat merupakan salah satu suplemen penting untuk ibu hamil yang termasuk dalam vitamin B kompleks yaitu sering disebut vitamin B9. Manfaat dari asam folat cukup banyak seperti membantu pembentukan sel dan jaringan, mencegah anemia, mempertahankan imunitas, hingga mencegah kelainan kongenital. Program pemerintah yang telah berjalan diharapkan akan lebih optimal jika fungsi pemberian asam folat yang sudah ada dalam tablet tambah darah sehingga tidak hanya membantu menurunkan angka anemia pada ibu hamil tetapi juga sebagai pencegahan dampak negatif pada kondisi stres prenatal. Pada pemberian asam folat sebagai salah satu antioksidan pada plasma dapat meningkatkan 5-methyltetrahydrofolate (5-MTHF) yang menurunkan kadar ROS dan homosistein sehingga mampu menurunkan sitokin inflamasi TNF dan apoptosis. Semakin tinggi ekspresi TNF伪 plasenta akan diikuti peningkatan indeks apoptosis plasenta.
Pada penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan tiga kelompok sampel mencit bunting. Kelompok pertama sebagai control, kelompok kedua dipaparkan stressor, dan kelompok tiga dipapar stressor dan diberi asam folat 3mg/KgBB. Pembedahan dilakukan untuk menganbil plasenta paska perlakuan. Indeks apoptosis plasenta kelompok 3 lebih rendah dibandingkan dengan yang tanpa diberi asam folat. Indeks apoptosis plasenta pada kebuntingan normal lebih rendah dibandingkan dengan kebuntingan yang dipapar stresor dan mendapat asam folat.
Pada kondisi stres dapat meningkatkan kadar kortisol yang tinggi dalam plasma dan akan diikuti dengan peningkatan kadar homosistein. Pada pemberian asam folat (20nmol/l) mampu menghambat efek dari homosistein pada trofoblas plasenta manusia. Hasil ini menganjurkan pemberian asam folat untuk menurunkan apoptosis trofoblas yang berhubungan dengan homosistein. Penelitian lain juga menjelaskan bahwa peningkatan kadar homosistein pada serum ibu hamil merupakan faktor risiko dari malfungsi plasenta dan abnormalitas pada janin. Aktivasi apoptosis menghambat proses proliferasi, merusak trofoblas plasenta. Bahkan di penelitian eksperimental pada kultur trofoblas manusia, homocysteine thiolactone meningkatkan apoptosis dan efek ini dapat dikurangi dengan pemberian antioksidan, salah satunya yaitu asam folat.
Penulis: Ivon Diah Wittiarika, S.Keb., Bd., M.Kes.
Link:





