Bioteknologi menjadi salah satu sarana penting dalam pengembangan sektor peternakan di Indonesia. Dengan tujuan utama untuk meningkatkan produktivitas dan reproduktivitas hewan ternak, berbagai aplikasi bioteknologi terus diteliti dan diterapkan. Program pengembangan agribisnis yang mengintegrasikan bioteknologi untuk meningkatkan hasil pertanian dan peternakan ini patut mendapatkan perhatian lebih dalam konteks ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi. Salah satu aspek penting dari bioteknologi dalam peternakan adalah pengembangan teknologi reproduksi, seperti inseminasi buatan dan transfer embrio. Dengan metode ini, peternak dapat memperoleh keturunan ternak unggul dalam waktu yang lebih cepat, sekaligus memperpendek interval generasi. Hal ini memungkinkan peningkatan kualitas genetik hewan ternak secara lebih efisien. Transfer embrio yang bergantung pada fertilisasi in vitro (IVF), memungkinkan produksi embrio secara efisien dengan mengurangi biaya yang terkait dengan proses reproduksi konvensional.
Dalam program IVF manusia, kriopreservasi atau pembekuan embrio telah dilakukan dengan tingkat keberhasilan yang cukup baik. Namun, para ilmuwan terus mengembangkan alternatif dengan melakukan pembekuan oosit (sel telur) yang juga penting dalam program IVF manusia, terkait dengan penghematan biaya dan ketersediaan sel telur apabila program IVF gagal. Namun perlu diwaspadai adanya kerusakan morfologi atau fungsi pada oosit yang dibekukan. Dalam bidang peternakan, penelitian mengenai pembekuan embrio menggunakan metode vitrifikasi telah berkembang pesat. Vitrifikasi merupakan metode pembekuan yang lebih efisien, sederhana, dan membutuhkan biaya yang lebih rendah dibandingkan teknik slow freezing. Riset yang dilakukan pada pembekuan oosit menunjukkan bahwa teknik vitrifikasi menghasilkan tingkat viabilitas oosit yang cukup tinggi, namun ada tantangan mengenai kemampuan perkembangan embrional setelah oosit yang dibekukan berhasil mengalami fertilisasi. Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa tingkat pembelahan setelah IVF untuk oosit segar cukup baik, tetapi untuk oosit yang dibekukan, tingkat keberhasilannya masih rendah. Kerusakan yang diakibatkan oleh prosedur kriopreservasi, seperti fragmentasi DNA dan transkripsi gen terkait apoptosis, dapat mengurangi potensi oosit untuk berkembang setelah dibekukan dan pencairan kembali.
Perubahan suhu yang ekstrem dapat menyebabkan stres pada oosit. Sel yang mengalami stres berpotensi membutuhkan mekanisme perlindungan sel seperti yang dilakukan oleh heat shock protein. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami peran dari salah satu heat shock protein, yaitu HSP70 dalam melindungi oosit dari stres suhu selama proses vitrifikasi. Terdapat bukti bahwa suplementasi HSP70 dalam medium vitrifikasi dapat meningkatkan viabilitas oosit setelah dibekukan dengan pengurangan insiden apoptosis dan mempertahankan morfologi normal oosit. Meskipun viabilitas oosit yang dibekukan terlihat tinggi, namun kualitas oosit tersebut tetap harus diwaspadai dan diatasi agar dapat digunakan maksimal dalam program IVF.
Bioteknologi dalam sektor peternakan di Indonesia memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas genetik hewan ternak. Baik melalui penggunaan teknologi reproduksi terkini maupun inovasi dalam kriopreservasi, sehingga para peneliti dan praktisi dapat meningkatkan efisiensi produksi dan ketahanan pangan. Dengan semakin banyak penelitian yang dilakukan melalui penerapan teknologi baru, harapan peningkatan kesehatan hewan dan produktivitas yang berkelanjutan menjadi lebih realistis. Oleh karena itu, upaya untuk mengintegrasikan teknologi reproduksi dan teknik kriopreservasi yang lebih baik menjadi sangat penting. Kerjasama antara para ilmuwan, peternak, dan pemerintah diperlukan untuk menciptakan ekosistem peternakan yang inovatif dan berkelanjutan di Indonesia.
Artikel ilmiah ini disusun berdasarkan kolaborasi penulisan antara Rimayanti, Sri Pantja Madyawati, Fedik Abdul Rantam, Aswin Rafif Khairullah, Widjiati, Pudji Srianto, Adeyinka Oye Akintunde, Imam Mustofa, Muhammad Fajar Amrullah, Laily 楿lya Nurul 業lmi, Riza Zainuddin Ahmad and Siti Rani Ayuti. Artikel ini telah diterbitkan oleh Open Veterinary Journal pada 30 September 2025. Open Veterinary Journal merupakan jurnal internasional bereputasi dengan CiteScore 1,3; Highest percentile 44% (Q3, 112/200), SJR 0.362, dan SNIP 0.583.
The addition of heat shock protein 70 to in vitro maturation medium improves the post- thaw quality of vitrified oocytes. Open Veterinary Journal, (2025), Vol. 15(9): 4505-4519 Research Article. DOI: 10.5455/OVJ.2025.v15.i9.56





