51动漫

51动漫 Official Website

Surabaya Global Colloquium Ulas Representasi dalam Fotografi

Prof Panizza Allmark membawakan materi mengenai 楶hotography Feminine. (Foto: Humas UNAIR)

UNAIR NEWS – merupakan kegiatan kolaborasi antara 51动漫,, dan. Pembuka kegiatan itu berupa residensi fotografi yang berlangsung pada (2-13/9/2023), di Padepokan Fotografi Bromo, Jawa Timur. Acara berlanjut dengan kegiatan colloquium pada (14-15/9/2023).

Pembuka hari pertama kegiatan colloquium adalah presentasi hasil residensi oleh 6 mahasiswa Eropa dan 6 mahasiswa Indonesia. Mereka menjadi peserta dalam kegiatan tersebut. 

Selanjutnya terdapat sesi materi berjudul “Territory, Identity and the Politics of Representation yang menghadirkan 3 pelaku fotografi dari 3 negara. Ialah Zhuang Wubin (Singapura), Prof Panizza Allmark (Australia), Oscar Motuloh (Indonesia). Ketiga pemateri menyampaikan preferensi dan hasil karya fotografi mereka yang terkait dengan representasi teritorial, identitas, dan politik.

Fotografi sebagai Sarana Menunjukkan 淭eritorial

Penyampai materi pembuka adalah Zhuang Wubin, seorang fotografer asal Singapura. Ia memiliki pengalaman mendokumentasikan kehidupan dan sejarah Tionghoa di Asia Tenggara. Dalam perjalanannya, ia mengabadikan momen tersebut, Wubin mengunjungi Indonesia dan melihat kehidupan Tionghoa yang berkamuflase dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Salah satu narasumber Wubin yaitu Yusuf Bambang Sujanto, pemimpin pertama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Timur dan merupakan founder dari pada tahun 1995. Ia mengisahkan saat wawancaranya bersama Yusuf Bambang yang menceritakan kehidupan sebagai seorang Tionghoa-Muslim di Indonesia.

Fotografi sebagai Representasi Budaya Patriarki

Selanjutnya, Prof Panizza Allmark, Dosen Visual and Cultural Studies dari mengulas mengenai 淧hotography Feminine An Embodied Awareness, Empathetic Lens and Ethical Intervention in Photography. Menurutnya, fotografi tidak pernah netral. Ia juga menegaskan bahwa di zaman ini manusia tidak berburu menggunakan senjata tajam, tetapi menggunakan alat bernama kamera.

淒alam fotografi, perspektif maskulin memerlukan modalitas otoritas kekuasaan dan hal tersebut bertentangan dengan fotografi feminin yang memberikan fokus pada etika, rispek, dan representasi keberagaman suara, jelasnya.

Selanjutnya, Prof Panizza Allmark banyak menunjukkan mengenai perempuan sering menjadi objek 榤ale gazed fotografi dan cerita perjuangan menjadi seorang fotografer wanita. Fotografi feminin, lanjutnya, menantang dinamika kekuasaan tradisional sembari meningkatkan kesadaran tentang isu-isu terkait gender. 

淜amera tidak hanya digunakan untuk observasi, tetapi juga sebagai alat untuk berinteraksi,” ungkapnya saat menjelaskan inti dari fotografi feminin.

Penulis: Adinda Aulia Pratiwi

Editor: Nuri Hermawan

AKSES CEPAT