Swine Vesicular Disease (SVD) adalah penyakit yang sangat menular pada babi dan dapat menimbulkan dampak ekonomi yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh kesamaan gejala klinis SVD dengan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), yang sering memicu tindakan darurat serta hambatan perdagangan meskipun SVD tidak bersifat zoonotik dan umumnya tidak menyebabkan tingkat kematian yang tinggi. Oleh karena itu, SVD tetap menjadi perhatian utama dalam kesehatan hewan, terutama di negara-negara dengan industri babi yang berkembang pesat.
Agen penyebab penyakit ini adalah Swine Vesicular Disease Virus (SVDV), yaitu virus RNA untai tunggal berpolaritas positif dari keluarga Picornaviridae, genus Enterovirus. Virus ini tidak berselubung (non-enveloped) dan memiliki kapsid ikosahedral berukuran sekitar 27“30 nm. Secara genetik, SVDV memiliki kedekatan dengan Coxsackievirus B5 (CV-B5) pada manusia, yang mengarah pada pemahaman bahwa virus ini kemungkinan berasal dari manusia sebelum beradaptasi pada babi melalui penularan fecal-oral, terutama dari kontaminasi limbah manusia.
SVD pertama kali teridentifikasi di Italia pada tahun 1966. Saat itu, babi yang terinfeksi menunjukkan lesi vesikular yang menyerupai PMK, namun hasil diagnosis laboratorium memperjelas bahwa penyakit tersebut bukan PMK. Setelah itu, wabah SVD dilaporkan di berbagai wilayah seperti Hong Kong, beberapa negara Eropa, dan Asia. Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung antar babi, rute fecal-oral, serta penularan tidak langsung melalui pakan, kendaraan, peralatan, pakaian, serta lingkungan yang terkontaminasi. Pemberian pakan sisa dapur (swill feeding) yang mengandung bahan terinfeksi merupakan salah satu rute penularan yang paling berperan.
Virus SVDV diketahui cukup tahan terhadap kondisi lingkungan dan beberapa jenis disinfektan, sehingga upaya pembersihan dan eradikasi menjadi lebih sulit. Masa inkubasi penyakit berkisar antara dua hingga tujuh hari. Secara klinis, SVD ditandai dengan terbentuknya vesikel atau lepuh pada kaki (terutama di sekitar kuku), moncong, dan mulut. Beberapa kasus dapat berlangsung tanpa gejala (subklinis), sehingga hewan yang terinfeksi tanpa terlihat sakit tetap berpotensi menularkan virus ke populasi lain.
Diagnosis laboratorium sangat penting untuk membedakan SVD dan PMK, karena keduanya memiliki gejala yang hampir identik. Metode diagnostik yang digunakan meliputi RT-PCR untuk deteksi genom virus, isolasi virus pada kultur sel, serta uji serologis untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap SVDV dengan ELISA.
Saat ini belum tersedia vaksin komersial untuk SVD dan tidak ada pengobatan khusus. Oleh karena itu, strategi pengendalian berfokus pada deteksi cepat, pemusnahan hewan terinfeksi, pembersihan dan disinfeksi menyeluruh, pembatasan lalu lintas hewan, dan peningkatan biosekuriti di peternakan. Edukasi peternak terkait kebersihan serta pelaporan dini juga menjadi langkah penting dalam pencegahan penyebaran penyakit.
Secara keseluruhan, meskipun SVD tidak menyebabkan kematian tinggi, kesulitannya dalam dibedakan dari PMK serta tidak tersedianya vaksin membuat penyakit ini tetap menjadi ancaman penting bagi industri babi. Pengendalian yang efektif memerlukan respons cepat, biosekuriti ketat, dan pengawasan berkelanjutan pada populasi babi.
Penulis : Tridiganita Intan Solikhah, drh., M.Si
Referensi terkait tulisan di atas:
Solikhah,¯T.¯I., Khairullah,¯A.¯R., Pengestu,¯S.¯A.¯F., Alvaro,¯A.¯P., Lestari,¯E.¯A., Cahyani,¯I.¯E., Gufron,¯M., Putri,¯Y.¯F., Wardhani,¯B.¯W.¯K., Moses,¯I.¯B., Afnani,¯D.¯A., Khalisa,¯A.¯T., Kurniasih,¯D.¯A.¯A., & Wibowo,¯S. (2025). Swine Vesicular Disease: A clinical threat resembling Foot and Mouth Disease. Journal of Advanced Veterinary Research, 15(4), 501‘507.





