UNAIR NEWS “ Mahasiswa Fakultas Hukum 51¶¯Âþ (UNAIR) berhasil menunjukkan kemampuan mereka dengan meraih Juara 3 dalam ajang bergengsi Philip C. Jessup International Law Moot Court Competition 2026. Tim ini terdiri dari Putri Ayu Musthikaweni Adhijoso, Anak Agung Gede Fabianara Danurwenda, Alfi Mirzan, Tiffany Eleonora Juanda, Tiffenie Yantono Widarto, Nabila Fatihatul Haq, Keiza Charla Artania, Eugenea Maura Esterina, dan Jovan Indra Nathaniel. Kompetisi ini berlangsung dari tanggal (5-8/02/2026) di Universitas Gadjah Mada.
Gelaran ini adalah kompetisi peradilan semu internasional tertua dan bergengsi di bidang hukum internasional. Skala kompetisis ini terbilang besar, dengan partisipasi sekitar 700 fakultas hukum dari 100 negara setiap tahunnya. Kompetisi ini persembahan dari International Law Students Association (ILSA), mensimulasikan sengketa fiktif antarnegara yang terajukan ke Mahkamah Internasional. Pelaksanaannya terdiri dari dua tahap utama: written phase (penyusunan memorial) dan oral pleading (presentasi lisan). Setiap tim menyusun dua memorial untuk pihak Applicant dan Respondent, kemudian menyampaikan argumen hukum di hadapan para judges dengan durasi 45 menit untuk setiap posisi.
Motivasi Tim dalam Berpartisipasi
Salah satu perwakilan tim menceritakan motivasi di balik partisipasi mereka dalam kompetisi bergengsi ini. Menurutnya, tim tersebut mengetahui tentang perlombaan ini melalui ILSA Chapter UNAIR, Badan Semi Otonom (BSO) di 51¶¯Âþ, yang setiap tahunnya mengadakan seleksi bagi mahasiswa Fakultas Hukum untuk mewakili kampus dalam kompetisi ini. “Motivasi kami tentu tidak hanya untuk membanggakan diri sendiri dan almamater, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan yang akan sangat berguna di masa depan,” ungkap salah satu perwakilan tim.
Mengenai perjalanan mereka selama kompetisi, tim ini juga membagikan beberapa kendala yang dihadapi. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh tim adalah melakukan riset terhadap isu yang jawabannya tidak selalu pasti. “Kami sempat kesulitan dalam menyusun argumen untuk permasalahan tersebut, namun berkat kerja sama tim yang solid, kami akhirnya menemukan argumen terbaik yang kami tuangkan dalam memorial dan presentasi lisan,” ungkap salah satu anggota tim.
Selain itu, mereka juga sempat mengalami kesulitan dalam menata gaya pembelaan yang efektif. “Kami juga sempat mengalami kesulitan dalam menata gaya pembelaan. Namun, dengan bantuan para pelatih, kami akhirnya menemukan gaya terbaik yang sesuai dengan kemampuan masing-masing oralist,” tambah anggota tim lainnya.
Kebanggaan dan Harapan
Tim merasa sangat bangga dengan pencapaian yang mereka raih. Mereka menyadari bahwa semua usaha yang mereka kerahkan, dan dengan dukungan dari para pelatih, akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. “Semua usaha yang kami kerahkan, serta dukungan dari para pelatih, akhirnya membuahkan hasil yang memuaskan. Pencapaian ini merupakan hasil dari kerja keras selama berbulan-bulan. Kami berkomitmen untuk terus berusaha dan bekerja keras, terutama untuk menghadapi international round yang berlangbsung di Washington, D.C., dan meraih hasil terbaik. Kami berharap prestasi ini tidak berhenti tahun ini saja, dan ingin agar generasi-generasi berikutnya dapat meraih prestasi serupa atau bahkan menjadi juara utama dalam perlombaan ini,” ungkap salah satu anggota tim.
Penulis: Saffana Raisa
Editor: Ragil Kukuh Imanto





