Dilaporkan bahwa, salah satu olahraga kelompok yang banyak diminati di seluruh penjuru bumi adalah olahraga bola basket atau lebih sering disebut dengan basket saja. Bahkan di Indonesia olahraga basket juga banyak diminati mulai dari usia anak-anak hingga usia dewasa. Hal ini dapat diamati dari banyaknya komunitas atau club olahraga basket baik untuk prestasi maupun sekedar hobi. Olahraga basket membutuhkan kombinasi unik dari kekuatan, kecepatam, ketahanan, dan keterampilan teknis. Olahraga ini memiliki ciri permainan yang singkat dan intens dengan intensitas sedang hingga tinggi, sehingga menuntut kerja fisiologis dan metabolisme tubuh.
Namun, kebanyakan masyarakat yang menjadikan basket sebagai hobi sering kali berlatih atau bermain tanpa melakukan adaptasi fisik yang memadai dan cenderung langsung beraktivitas dengan intensitas tinggi tanpa mempertimbangkan kemampuan tubuh mereka. Oleh karena itu, dikhawatirkan risiko cedera dalam olahraga basket menjadi lebih tinggi, terutama pada kelompok non-atlet yang memiliki tingkat kesiapan fisik lebih rendah dibandingkan atlet profesional. Kurangnya pemanasan, teknik yang kurang tepat, serta ketidakseimbangan antara beban aktivitas dan kapasitas tubuh dapat semakin meningkatkan stress oksidatif, peningkatan inflamasi, dan kerusakan otot hingga kemungkinan terjadinya cedera.
Atlet bola basket secara khusus menjalani latihan fisik yang intens dan berpartisipasi dalam kompetisi dapat memengaruhi kadar berbagai biomarker dalam darah mereka. Sementara non-atlet yang memiliki hobi bermain basket atau pemain basket rekreasi sering kali berpartisipasi dalam olahraga ini untuk kebugaran dan kesenangan, tanpa tuntutan latihan yang seketat atlet professional, sehingga mungkin mengalami perubahan yang berbeda dalam parameter biomarker mereka akibat intensitas latihan yang lebih rendah atau pola latihan yang tidak teratur. Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan penelitian untuk menganalisis profil stress oksidatif, inflamasi, dan kerusakan otot setelah olahraga basket pada atlet profesional dan non-atlet yang hobi olahraga basket.
Penelitian dilakukan pada kelompok atlet profesional dan kelompok pemain basket rekreasi yang hobi olahraga basket dengan masing-masing kelompok terdiri atas 10 orang. Kriteria subjek yang digunakan dalam penelitian yaitu laki-laki, berusia 18 “ 30 tahun, tidak memiliki riwayat penyakit tertentu seperti diabetes, hipertensi, dan PJK. Subjek dapat dikatakan atlet professional bila berlatih dengan frekuensi 4-3 kali seminggu dengan durasi 2 jam/latihan, memiliki pengalaman berlatih lebih dari 3 tahun. Sedangkan subjek dapat dikatakan pemain basket rekreasi/ hobi olahraga basket bila aktif secara rekreasional minimal 30 menit aktivitas fisik intensitas sedang selama setidaknya 3 hari/minggu, selama 3 bulan terakhir. Masing-masing kelompok melakukan pertandingan bola basket 5 x 5 sesuai standar FIBA dengan 4 quarter (4×10 menit) selama 40 menit (atlet vs atlet; non-atlet vs non-atlet). Antar quarter terdapat waktu istirahat selama 1 menit. Jalannya pertandingan dipandu oleh 3 orang wasit yaitu wasit utama/ referee, wasit kedua/ umpire, wasit skor/ scorer. Darah diambil melalui vena sebanyak 3 ml yang dilakukan sebelum pertandingan, 1 jam dan 24 jam setelah pertandingan. Penanda keseimbangan stress oksidatif dan radikal bebas dianalisis menggunakan parameter glutathione peroxidase (GPX) dan F2-Isoprostane, penanda inflamasi dianalisis menggunakan parameter C-reactive protein (CRP), dan penanda kerusakan otot dianalisis dengan menggunakan parameter lactate dehydrogenase (LDH).
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya perbedaan respon fisiologis antara atlet profesional dengan pemain basket rekreasi setelah bermain basket 5×5. Selama pertandingan, frekuensi nadi yang dipantau menggunakan heart rate monitor polar® menunjukkan bahwa pada saat bertanding, atlet memiliki frekuensi denyut nadi maksimal yang lebih rendah dibandingkan pemain rekreasi. Ini menunjukkan bahwa atlet memiliki ketahanan kardiovaskular yang lebih baik, sebagai efek adaptasi latihan jangka panjang.
Hasil analisis tingkat keradangan melalui kadar CRP pada atlet profesional cenderung menurun, menunjukkan adanya respon peradangan yang lebih baik, sementara pemain rekreasi mengalami sedikit peningkatan. Selain itu, kadar LDH sebagai marker kerusakan otot menunjukkan pola yang serupa, dimana kedua kelompok mengalami penurunan setelah satu jam. Pada indikator stres oksidatif F2-isoprostane dan GPX. Pemain rekreasi menunjukkan sedikit penurunan F2-isoprostane. Pad atlet, GPX yang berfungsi sebagai enzim antioksidan, mengalami penurunan kecil pada atlet profesional. Ini menandakan bahwa meskipun kedua kelompok menunjukkan respons terkait stress oksidatif yang serupa terhadap aktivitas fisik.
Studi ini menyimpulkan, berdasarkan frekuenai denyut jantung, atlet profesional memiliki daya tahan kardiovaskular yang lebih baik dibandingkan dengan pemain rekreasi. Namun, setelah 1 jam pertandingan, LDH, CRP, F2-isoprostane, dan GPX tampak serupa pada kedua kelompok. Ini menunjukkan bahwa pemain rekreasi memiliki manfaat yang baik sebagai orang yang aktif. Meskipun demikian, kecenderungan perubahan kadar biomarker tersebut pada atlet professional, lebih unggul daripada pemain rekreasi.
Penulis: Ulul Azmy, S.Gz, M.Kes dan Dr. Lilik Herawati, dr., M.Kes
Informasi detail bisa didapatkan pada hasil riset kami di link:
Herawati, L., Sari, G. M., Argarini, R., Irwadi, I., Wibowo, S., Wiriawan, O., Syaifudin, A., Pamungkas, Y., Handrito, R. P., Adi, S., Rahayuni, K., Azmy, U., & Safii, N. S. (2025). Profile of oxidative stress, inflammation, and muscle damage in professional athletes and recreational basketball players. Retos, 65, 235“245. https://doi.org/10.47197/retos.v65.111599





