UNAIR NEWS Serangan Iran ke Israel yang terjadi pada Sabtu (13/04/2024) di Tel Aviv sempat memicu kekhawatiran dunia. Pasalnya, serangan itu berpotensi memicu panasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Aksi serangan tersebut kemudian dibalas oleh Israel dengan menyerang balik Iran pada Jumat (19/04/2024). Aksi tersebut dilakukan dengan meluncurkan sejumlah drone ke pangkalan militer Iran di Kota Isfahan.
Setelah peristiwa tersebut, Perang Dunia Ketiga dan World War III menjadi topik yang ramai di media sosial. Kepada UNAIR NEWS, Guru Besar , Prof I Gede Wahyu Wicaksana SIP MSi PhD, menyampaikan tanggapannya terkait wacana Perang Dunia Ketiga tersebut.
Posisi yang Berseberangan
Prof Wahyu memaparkan bahwa konflik yang terjadi antara Iran dan Israel merupakan konflik lama yang telah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Kedua negara tersebut, lanjutnya, sudah sering memprovokasi satu sama lain dan memiliki ideologi yang berseberangan.

淢emang sudah saling provokasi sejak dulu. Akan tetapi, baru kali ini ada momen karena dunia sedang menekan Israel atas apa yang terjadi di Palestina. Oleh karena itu, menjadi kesempatan bagi Iran untuk menyalurkan emosi terpendamnya selama ini pada Israel. Caranya ya dengan menyerang, papar Prof Wahyu.
Prof Wahyu kemudian menjelaskan bahwa serangan tersebut juga berkaitan dengan serangan Israel pada Konsulat Iran di Damaskus pada Senin (01/04/2024) lalu. Oleh karena itu, walau banyak pemimpin negara yang mengecam Iran, tetapi tidak ada dukungan untuk Israel untuk membalas serangan tersebut.
Berpotensi Picu Konflik Regional
Pecahnya konflik di Timur Tengah kemudian menambah ketegangan dalam kancah politik internasional. Dalam penuturan Prof Wahyu, campur tangan dari negara lain dalam konflik Iran-Israel dapat membentuk sebuah medan pertempuran baru.
淒i kawasan Timur Tengah, konflik antar negara tetangga itu bisa memicu konflik regional. Contohnya saat Turki, Yordania, dan Arab Saudi ikut campur dalam konflik Iran-Israel kemarin itu justru akan menambah konflik menjadi memanas, paparnya.
Namun, Prof Wahyu menekankan bahwa konflik tersebut sejauh ini hanya akan berada pada taraf regional saja. Walaupun nampak berpotensi, tambahnya, tetapi realitasnya masih jauh sebab negara-negara lain di dunia akan mencegah hal tersebut terjadi karena akan berdampak pada perekonomian dunia.
淛ika wacana tersebut terjadi dampaknya akan jauh lebih besar dari apa yang terjadi pada Perang Dunia 1 dan 2, khususnya pada konteks ekonomi internasional yang kini sifatnya terintegrasi satu sama lain. Oleh karena itu, pastinya negara-negara lain di dunia akan berusaha mati-matian agar wacana tersebut tidak terjadi, pungkas Prof Wahyu.
Penulis: Adinda Aulia Pratiwi
Editor : Yulia Rohmawati





