UNAIR NEWS – Sekolah Pascasarjana 51 kembali menggelar kuliah tamu bertajuk Strategic Leadership: Peran Strategis Pusvetma dalam Mendukung Ketahanan Pangan pada Sabtu (17/02/2024). Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid melalui live streaming youtube dan tatap muka di Ruang Majapahit ASEEC Tower dengan menghadirkan Drh Edy Budi Susila Msi selaku Kepala BBVF Pusvetma.
Peran Pusat Veteriner Farma (Pusvetma)
UPT di bawah Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan ditetapkan sebagai Satker Badan Layanan Umum dengan nama Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma. Secara umum, tujuan pokok dan fungsi dari badan ini adalah guna menyiapkan bahan baku, produksi, pengujian, pemasaran, distribusi. Selain itu, Pusvetma juga berupaya meningkatkan mutu obat hewan surveillance, melakukan diagnosa, melaksanakan uji rujukan, dan mengendalikan PMK.
Berdasarkan Permentan No. 12 Tahun 2023 dibentuk Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma atau Pusvetma, ungkap Drh Edy.
Edy mengatakan, Pusvetma memiliki beberapa fasilitas, di antaranya gedung produksi vaksin unggas mamalia, rabies, aktif (live), PMK, antigen dan kit diagnostik, serta instalasi pembibitan unggas spesifik. Selain itu terdapat pula beberapa sarana, di antaranya laboratorium pengujian mutu, laboratorium pengembangan produk, laboratorium PMK, laboratorium antisera, fasilitas hewan uji (ABSL-2), karantina hewan percobaan, instalasi kandang hewan percobaan (IKHP), incinerator, waste water treatment, serta klinik pratama.
Permasalahan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Balai Besar Veteriner Farma Pusvetma atau BBVF Pusvetma adalah Unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dalam kegiatan ini Drh Edy selaku Kepala Pusvetma menjabarkan tentang peran Pusvetma dalam menanggulangi permasalahan penyakit mulut dan kuku (PMK) yang merupakan penyakit endemik di beberapa negara.
Ia mengatakan bahwa Indonesia pernah melakukan program pembebasan PMK secara progresif selama 34 tahun, dan berhasil bebas pada tahun 1986. Setelah bebas selama 32 tahun, pada tahun 2022 PMK masuk kembali ke Indonesia dan menyebar secara masif ke 62 kabupaten dan kota. Sehingga dinyatakan sebagai wabah yang menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan.
Wabah PMK menimbulkan tekanan negatif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, menurunkan upah riil dan konsumsi, serta meningkatkan defisit neraca perdagangan, paparnya.
Dampak Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Wabah ini, sambungnya, juga menyebabkan terjadinya peningkatan harga daging sapi dan susu segar serta sektor terkait lainnya. Berdasarkan perspektif wilayah, provinsi penghasil utama produk daging dan susu diperkirakan akan mengalami kerugian ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan provinsi lainnya. Sementara itu, di tingkat rumah tangga, wabah PMK menyebabkan dampak yang signifikan dalam menurunkan pendapatan dan konsumsi, terutama bagi rumah tangga petani di pedesaan.
Kalau secara global dampak dari PMK berkaitan dengan pola konsumsi terhadap hewan seperti konsumsi susu sapi perah, hal ini akan sangat merugikan, ujar Drh Edy.
Penanggulangan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)
Hampir semua vaksin untuk hewan diproduksi oleh Pusvetma. Adapun salah satu upaya Pusvetma dalam mengatasi permasalahan PMK, menurutnya, adalah dengan memproduksi vaksin untuk penyakit mulut dan kuku (PMK). Produksi vaksin PMK Pusvetma menggunakan fasilitas BSL2+ berbasis tissue culture dengan metode produksi dengan cell line BHK-21 karena vaksin PMK berbasis kultur jaringan.
Vaksin ini menggunakan teknologi flask, roller bottle, cell factory, cell stack. Vaksin ini juga telah tersertifikasi CPOHB/GMP dengan penambahan beberapa peralatan dan bahan produksi.
Kapasitas produksi vaksin ini sampai akhir tahun 2023 sebesar 1-2 juta dosis, ujar Kepala Pusvetma ini.
Penulis: Lady Khairunnisa Adiyani
Editor: Khefti Al Mawalia





