51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Tantangan dan Strategi Siswa Disabilitas Netra dalam Mengelola Informasi Pribadi Terkait Proses Belajar di Sekolah Swasta Surabaya

Ilustrasi oleh The Conversation

Di era informasi saat ini, kebutuhan untuk memperoleh, memilah, dan menyimpan informasi digital menjadi sangat penting, terutama dalam konteks pendidikan. Namun, tantangan ini akan menjadi lebih kompleks ketika dihadapi oleh siswa dengan kondisi disabilitas netra. Dalam upaya memahami bagaimana mereka mengelola informasi terkait proses belajarnya, maka penelitian yang menggunakan teori Personal Information Management (PIM) pemikiran Jones et al., (2017), menarik untuk dikaji. Studi ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif yang melibatkan 32 siswa disabilitas netra dari SMP dan SMA swasta di Surabaya, diantaranya SMPLB-A YPAB Surabaya, SMALB-A YPAB Surabaya, Sekolah Peduli Anak Hebat (SPAH), SMA Muhammadiyah 10 Surabaya, dan SLB Tunas Mulya. Secara umum, temuan dilapangan memperlihatkan hasil bahwa mereka aktif dalam mencari informasi, namun juga menghadapi tekanan berupa information overload. Tiga aktivitas utama dalam teori PIM yakni finding/refinding, keeping, dan the meta-level memberikan kerangka yang berguna untuk menelusuri dinamika ini pada siswa disabilitas netra di sekolah swasta.

Akses Informasi: Sebuah Tantangan dan Sekaligus Peluang

Fakta dalam studi ini memperlihatkan bahwa 88% siswa merasa perlu mencari informasi tambahan di luar materi yang diberikan guru, dan 91% dari mereka mengaksesnya melalui internet.  Temuan ini sejalan dengan penelitian Hao et al., (2017), yang menemukan bahwa siswa umumnya menggunakan berbagai perilaku dalam mencari bantuan akademis secara online, seperti melakukan pencarian informasi online, meminta bantuan dari ahli atau teman online, berinteraksi dengan guru secara online, dan lebih memilih mencari informasi akademis secara online daripada bertanya langsung kepada orang lain. Berdasarkan hal tersebut, tampak bahwa materi ajar yang tersedia di sekolah belum cukup memenuhi kebutuhan mereka serta siswa disabilitas netra memiliki motivasi dan kemampuan untuk mengeksplorasi informasi secara mandiri melalui teknologi.

Meskipun internet menawarkan beragam sumber belajar, kualitas dan keterpakaian informasi untuk siswa dengan hambatan penglihatan tetap menjadi persoalan. Tidak semua situs ramah terhadap screen reader, ada pula konten visual yang sulit pahami karena tanpa deskripsi alternatif. Persoalannya bukan sekedar mampu mengakses karena tersedia konektivitas, melainkan juga tentang desain teknologi yang inklusif dan usability. Sebagai contoh, disabilitas netra cenderung menggunakan fitur screen reader yang membantu terbacanya semua isi konten baris demi baris tanpa filterisasi (Alves & Figueira, 2018). Oleh karena itu, disabilitas netra harus memiliki keterampilan untuk menilai informasi apa saja yang tepat untuk mereka akses dan pelajari. Jangan sampai terjadi keberlimpahan informasi yang tersedia justru menciptakan tekanan kognitif berupa information overload yang berdampak serius terhadap daya serap dan pengambilan keputusan siswa. Tanpa kemampuan menyaring informasi yang relevan, siswa bukan mendapatkan manfaat, namun terjebak dalam kecemasan karena merasa kewalahan dengan informasi yang ada.

Strategi Penyimpanan informasi

Berdasarkan hasil temuan, mayoritas siswa (81%) memilih menggunakan fitur message yourself di WhatsApp sebagai cara menyimpan informasi. Pilihan ini masuk akal, mengingat aplikasi WhatsApp telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital generasi muda dan mudah diakses menggunakan screen reader. Fitur message yourself memungkinkan pengguna untuk mencatat, menyimpan, dan mengakses ulang informasi secara cepat tanpa harus berpindah aplikasi. Namun, strategi ini juga memperlihatkan sisi lain dari fenomena improvisasi digital. Siswa mengandalkan alat yang tersedia, bukan karena itu cara terbaik, tapi karena itu cara termudah yang mereka ketahui. Dalam penelitian Chaudhry & Alajmi (2022) dikemukakan bahwa individu akan cenderung mengembangkan intuisi mereka sendiri dalam menentukan strategi yang paling efektif untuk menyimpan informasi. Namun dalam jangka panjang, ketergantungan pada satu platform dapat menimbulkan risiko, terutama ketika informasi tidak terorganisir secara sistematis atau ketika terkendala terbatasnya kapasitas memori perangkat.

Lebih lanjut, siswa menyampaikan adanya kesulitan dalam mengingat lokasi penyimpanan informasi (80%), menunjukkan bahwa strategi keeping mereka belum ditunjang oleh sistem pengelolaan informasi yang efektif. Hal ini menghambat mereka dalam tahap refinding, karena ketika informasi tidak mudah ditemukan kembali, maka waktu dan energi akan terbuang sia-sia. Karenanya dibutuhkan pelatihan khusus yang dapat membekali mereka dengan keterampilan manajemen digital, seperti penggunaan aplikasi pencatat yang terstruktur, atau cloud storage yang ramah disabilitas.

Meta-Level: Kesadaran akan Privasi dan Keamanan Informasi

Salah satu temuan menggembirakan dari penelitian ini adalah bahwa 91% siswa menyadari pentingnya menjaga privasi dan keamanan informasi akademik mereka. Studi ini menemukan bahwa sebanyak 29 siswa telah menjaga privasi dan keamanan informasi penting seperti file tugas dan ujian akhir dengan cara membatasi akses informasi pribadi, mengatur ruang penyimpanan pribadi dan tidak sembarangan meminjamkan perangkat digital kepada orang lain. Dalam iklim digital saat ini, kesadaran semacam ini sangat penting, terlebih bagi kelompok rentan seperti siswa disabilitas. Meskipun mereka memprioritaskan keamanan, belum ada jaminan bahwa mereka memahami praktik perlindungan data pribadi seperti mengelola izin aplikasi, membuat kata sandi yang kuat dan diperbaharui secara berkala, serta memasang anti virus. Oleh karena itu, keterampilan digital perlu dipelajari oleh siswa disabilitas agar terhindar dari problem saat mengakses informasi.

Dalam upaya siswa memisahkan informasi yang relevan dan tidak relevan (63%) menunjukkan adanya niat untuk melakukan kurasi informasi, walaupun belum sepenuhnya efektif. Menurut siswa disabilitas netra di Surabaya, pemeliharaan dan pengorganisasian informasi yang selama ini dilakukan secara khusus bertujuan untuk menghindari information overload di ruang penyimpanan pribadi dan sebagai strategi untuk mengelola kapasitas penyimpanan yang tersedia. Namun temuan juga memperlihatkan bahwa para siswa tidak melakukan aktivitas ini secara teratur karena hanya mengelola informasi saat perangkat mereka memberikan notifikasi bahwa ruang penyimpanan hampir penuh. Oleh karena itu, siswa disabilitas memerlukan dukungan dalam bentuk pelatihan atau bimbingan dalam berpikir kritis terhadap informasi yang mereka simpan. Keterampilan menilai informasi menjadi hal penting di era digital, apalagi bagi siswa disabilitas yang mengandalkan audio atau teks untuk menavigasi dunia maya.

Pada kenyataannya, hasil studi ini memperlihatkan 84% siswa mengalami kendala saat menggunakan perangkat terutama screen reader, dimana teknologi ini dianggap sebagai penyelamat bagi kelompok disabilitas, namun di sisi lain, kualitas dan ketersediaannya masih jauh dari ideal. Ketika screen reader yang digunakan tidak mendukung format tertentu, situasi ini membuat proses belajar menjadi tidak efisien. Maka, guru perlu menyediakan materi pelajaran dalam format yang dapat dibaca screen reader, agar siswa mudah memahami informasi yang disampaikan.Tentu saja dalam proses belajarnya, siswa disabilitas netra bukan hanya penerima informasi, tetapi juga pengelola informasi yang aktif. Dalam konteks pendidikan abad ke-21, kemampuan mengelola informasi ini menjadi kunci bagi kemandirian, partisipasi, dan keberhasilan mereka dalam proses belajar. Oleh karena itu, dukungan yang diberikan tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek pedagogis, sosial, dan kebijakan.

Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, sekitar 53% siswa merasa bahwa strategi pengelolaan informasi yang diterapkan dapat mendukung proses belajar mereka. Ini adalah angka yang menggambarkan optimisme sekaligus ruang untuk perbaikan. Jika setengah dari siswa merasa cukup efektif dalam mengelola informasi, maka sisanya masih membutuhkan intervensi, baik dari segi teknologi, pelatihan, maupun lingkungan yang mendukung. Melalui penelitian ini dapat dipahami bahwa meskipun menghadapi berbagai kendala, siswa disabilitas netra menunjukkan potensi dan kemauan untuk mengelola informasi secara mandiri. Perlu dipastikan bahwa potensi ini tidak terhambat oleh minimnya akses, ketidaksetaraan teknologi, atau kurangnya pemahaman dari lingkungan sekitar. Dengan pendekatan yang terstruktur, inklusif, dan kolaboratif, dapat diciptakan ekosistem belajar yang memberdayakan semua siswa.

Penulis: Afnan Rizqiana Salsabila, Fitri Mutia, Helmy Prasetyo

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

AKSES CEPAT