51动漫

51动漫 Official Website

Tantangan Metode Etnografi untuk Penelitian Psikologi

Foto by SehatQ

Berkembangnya ilmu pengetahuan, khususnya Psikologi juga tidak lepas dari berkembangnya metode penelitian yang digunakannya. Etnografi sebagai metode penelitian kualitatif berawal dari kajian-kajian antropologi. Namun para peneliti saat ini telah mulai mempopulerkan. Meluasnya penggunaan penelitian kualitatif, khususnya etnografi menurut Packer (2011) meluasnya peran penelitian psikologis untuk memahami fenomena manusia perilaku dalam perspektif holistik dan kaya budaya. Sebagai salah satu tradisi kualitatif, etnografi paling tepat untuk menggambarkan perilaku kelompok dan anggota kelompok yang mengakar kuat dalam budaya dan nilai-nilai budayanya. Sementara itu, perilaku manusia yang merupakan objek kajian tidak bisa dilepaskan dari aspek budaya yang mempengaruhi tersebut. Oleh karena itu tidak ayal lagi, kalau metode ini juga banyak digunakan.

Tantangan Penggunaan Studi Etnografi untuk Psikologi

Setidaknya ada lima tantangan yang diidentifikasi dalam menggunakan etnografi dalam studi Psikologi studi berdasarkan kajian literatur ini. Pertama, representasi diri peneliti dalam deskripsi mereka tentang budaya yang diteliti masyarakat (Suzuki et al., 2005). Representasi ini terkait dengan cara teks terkait budaya dihasilkan oleh peneliti; apakah penjelasan dari sudut pandang peneliti aktif? Hasil observasi partisipan apakah cukup untuk dapat digeneralisasikan sebagai gambaran keseluruhan budaya, sedangkan peneliti hanya berkomunikasi dengan beberapa individu kunci. Pilihan terhadap informan mungkin memiliki dinamika psikologis yang berbeda dan hal itu mungkin menantang dalam menggambar kesimpulan. Kritik juga terkait dengan keakuratan data yang dikumpulkan, karena keterlibatan langsung peneliti dapat mempengaruhi hasil karena keberadaan peneliti. Oleha karena itu perlu untuk mempertimbangkan dinamika psikologis peneliti ketika menulis narasi dari data yang dikumpulkan. Keakuratan data dari sudut pandang peserta juga menjadi tantangan tersendiri karena terkait partisipan apakah jujur dalam menulis narasi

Kedua, etnografi berfokus pada subjektivitas masyarakat yang diteliti yang menantang pendekatan ‘mainstream’ dalam psikologi yang menggunakan teori sebagai kerangka kerja dalam upaya menggambarkan dan pemahaman fenomena. Misalnya, konsep gangguan kelainan yang mengadopsi teori psikologis tentang kelainan akan melihat perilaku abnormal dalam persepsi yang berbeda dari kelainan berdasarkan studi etnografi. Pendekatan etnografi dengan subjektivitas tinggi konten akan sulit untuk mengatasi masalah penelitian yang membutuhkan kerangka teoritis sebagai permulaan titik. Seperti yang dinyatakan oleh Brewer (2000), studi etnografi lebih cocok untuk fenomena yang baru atau yang kurang tereksplorasi.

Ketiga, objektivitas peneliti ketika mendeskripsikan fenomena perlu juga harus diperhatikan. Penyajian narasi etnografi sering menggunakan sudut pandang peneliti sebagai sudut pandang orang pertama dan mayoritas literatur dalam psikologi menggunakan perspektif orang ketiga. Misalnya, peneliti etnografi akan menghadapi kesulitan dalam menggambarkan klien perspektif dalam Psikologi Konseling.

Keempat, etnografi diketahui membutuhkan pengumpulan data dalam durasi waktu yang substansial dan total terlibat dengan lingkungan alamiah. Peneliti membutuhkan setidaknya 6 bulan sampai 1 tahun untuk terlibat aktif dalam komunitas yang dipelajari untuk memahami setting penelitian. Pada kasus yang membutuhkan intervensi segera terhadap masyarakat, penggunaan desain ini akan menimbulkan tantangan waktu.

Kelima, observasi partisipan dalam etnografi hanya dilakukan pada satu komunitas atau satu komunitas saja tempat (single site) dalam pendekatan etnografi klasik. Saat melakukan etnografi, ada kemungkinan bagi partisipan dalam komunitas yang diteliti berada di beberapa tempat sehingga peneliti harus siap melakukan observasi di berbagai tempat (multiple site). Hal ini terjadi, misalnya, untuk studi psikologi organisasi dengan tujuan mengekspos budaya organisasi. Ada kemungkinan bahwa budaya tersebut terjadi pada beberapa organisasi dan industri; dengan demikian, perlu untuk melakukan modifikasi pada pengamatan aktif agar tidak hanya terfokus pada satu tempat penelitian saja, tetapi pada beberapa tempat.

Saran dalam Menerapkan Etnografi dalam Studi Psikologi

Ada beberapa saran untuk mengatasi tantangan yang dijelaskan di atas jika seorang peneliti psikologi mempertimbangkan untuk menggunakan etnografi. Pertama, refleksi terus menerus harus dilakukan peneliti dan partisipan perlu menjelaskan narasi temuan untuk memastikan bahwa data akan digambarkan akurat sesuai budaya masyarakat sasaran. Jika refleksi dilakukan oleh partisipan, peneliti dapat secara aktif membantu proses dengan memberikan masukan reflektif dan pertanyaan yang memberikan gambaran yang lebih holistik tentang realitas yang sesuai dengan komunitas sasaran.

Kedua, disarankan untuk menggabungkan beberapa metode pengumpulan data selain observasi partisipan untuk mengekspos budaya masyarakat tersebut, seperti melakukan wawancara, mempelajari file di arsip komunitas target, kuesioner, atau interaksi online dari masyarakat. Pengertian etnografi terletak pada observasi dan narasi yang dihasilkan oleh peneliti, namun perkembangan terakhir, ada disarankan agar memodifikasi teknik pengumpulan data untuk mendapatkan gambaran yang lebih holistik tentang budaya sasaran masyarakat. Peneliti juga perlu mempertimbangkan dalam menentukan data metode pengumpulan untuk digunakan dengan peserta, dan karena itu fleksibilitas penting untuk terlibat aktif dalam menggambarkan realitas masyarakat sasaran, baik dari sudut pandang peneliti dan para partisipan yang diteliti.

Ketiga, disarankan untuk memilih desain etnografi mana yang cocok untuk mempelajari fenomena. Pemilihan desain perlu juga mempertimbangkan waktu yang tersedia, sumber daya, beberapa fenomena yang diperlukan dalam penelitian secara cepat dan atau sebaliknya, dan dengan demikian, penggunaan metode etnografi perlu diperhatikan dengan baik.

Keempat, perlu memastikan strategi untuk melarikan diri ke tempat yang aman saat masuk dan keluar dari penelitian situs (Bengry-Howell & Griffin, 2012). Cara lain untuk melakukan ini adalah dengan menghubungi rekan peneliti ketika memasuki atau meninggalkan lokasi penelitian. Selain itu, penting juga untuk mempertimbangkan keselamatan peserta penelitian, serta penerapan etika penelitian yang cermat dalam hal partisipan penelitian.

Tantangan dalam desain etnografi tersebut tidaklah menghentikan kemungkinan penggunaan metode etnografi untuk studi dalam psikologi karena kemampuan desain ini untuk secara holistik mengekspos perilaku pada setting alamiah. Oleh karena itu peneliti harus merancang penelitian dengan hati-hati dengan mempertimbangkan masalah yang mungkin timbul, sehingga hasil penelitian dapat memaparkan yang diteliti fenomena dengan benar

Penulis: Prof. Dr. Suryanto, M.Si.

Link Jurnal:

AKSES CEPAT