Perawat kesehatan jiwa di wilayah tertentu di Indonesia jumlahnya sangat terbatas, sehingga keterlibatan kader kesehatan memiliki memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan dasar bagi penderita gangguan jiwa dan penyampaian layanan kesehatan mental yang efektif di masyarakat. Kader kesehatan jiwa adalah relawan yang telah menjalani pelatihan untuk mendukung program kesehatan jiwa komunitas bagi penyandang disabilitas dan gangguan jiwa di lingkungan sekitar tempat tinggal masing-masing. Kader kesehatan berperan dalam memberikan kegiatan promosi kesehatan, memfasilitasi intervensi dini, mengurangi stigma (Barnett et al. 2018; Mutamba et al. 2013; Wennerstrom et al. 2015) dan memberikan layanan seperti kunjungan rumah dan bantuan keluarga bila diperlukan (Iswanti, Lestari, dan Hapsari 2018). Selain itu, anggota kader kesehatan diharapkan menjadi titik kontak utama bagi individu yang membutuhkan layanan kesehatan mental, memfasilitasi deteksi dan pemantauan kepatuhan pengobatan. (Iswanti, Lestari, dan Hapsari 2018). Peran kader kesehatan sangatlah penting dalam sistem layanan kesehatan Indonesia (Marthoenis dkk. 2024), karena kader kesehatan berperan sebagai penghubung penting antara penyedia layanan kesehatan profesional dan masyarakat (Windarwati dkk. 2023).
Perawat kesehatan jiwa dan kader kesehatan di Indonesia yang memberikan pelayanan kepada orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kota Banda Aceh, Surabaya dan Yogyakarta ternyata menghadapi beberapa tantangan dan hambatan dalam memberikan pelayanan yang berkualitas, terutama dari keluarga yang merawat ODGJ. Penelitian kualitatif yang telah dilakukan melibatkan 72 responden yang terdiri dari 34 perawat jiwa dan 38 kader kesehatan jiwa di ketiga kota tersebut melalui empat kegiatan fokus grup diskusi (FGD) berhasil mengungkapkan bahwa perawat dan kader kesehatan mendapati perilaku keluarga yang kurang mendukung ODGJ. Perilaku pertama adalah menyembunyikan keberadaan ODGJ, karena malu dengan perilaku ODGJ dan stigma yang kuat dari masyarakat. Kurangnya pengetahuan dan wawasan di kalangan keluarga ODGJ merupakan faktor signifikan yang berkontribusi terhadap keengganan keluarga untuk segera mencari perawatan bagi PWMI dan bahkan menyembunyikan kondisi ODGJ.
Perilaku kedua adalah keluarga tampak tidak mendukung keberadaan ODGJ dan dimunculkan dengan perilaku yang enggan untuk membawa ODGJ melakukan pengobatan atau penolakan langsung terhadap perawatan di rumah sakit. Hal ini seringkali disebabkan oleh faktor seperti kesibukan keluarga dan stigma yang terkait dengan gangguan jiwa merupakan faktor penting yang berkontribusi terhadap menyembunyikan ODGJ dalam keluarga Indonesia dan penghindaran pengobatan yang cepat. Keluarga bahkan yakin bahwa ODGJ tidak akan pernah sembuh, sehingga tidak di bawa ke layanan kesehatan jiwa. Keluarga tidak mendampingi ODGJ saat kontrol di rawat jalan, atau puskesmas, tidak mengawasi minum obat agar teratur dengan alasan kesibukan bekerja untuk memenuhi kebutuhan dan peran sosial. Selain itu adanya kepercayaan di kalangan keluarga bahwa gangguan jiwa adalah akibat dari ilmu hitam sehingga mereka cenderung tidak mempertimbangkan pengobatan medis, namun lebih memilih pengobatan tradisional atau spiritual. Perilaku ketiga adalah adanya pola asuh orang tua yang buruk, keluarga menampilkan pola asuh yang tidak memadai, kekerasan dalam rumah tangga dan kurangnya dukungan keluarga berkontribusi terhadap stres dan kekambuhan ODGJ. Perilaku keempat adalah adanya motif tersembunyi terkait pemberian wasiat dalam keluarga. Beberapa keluarga berupaya memanipulasi perlakuan untuk menghilangkan hak waris ODGJ. Perilaku kelima adalah adanya pengabaian oleh keluarga, sehingga menyebabkan perawatan dan kepatuhan pengobatan ODGJ tidak rutin dan tidak memadai. Perilaku keenam adalah adanya upaya menghilangkan ODGJ dari keluarga, keluarga mengirimkan ODGJ ke fasilitas kesehatan mental untuk dipisahkan secara permanen, bahkan terkadang ditempatkan ke kota lain.
Berbagai pendedekatan untuk mengatasi masalah ini diperlukan secara komprehensif yang mempertimbangkan individu yang terkena dampak dan keluarga mereka. Pemahaman tentang motivasi di balik perilaku ini sangat penting untuk pengembangan intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan dukungan keluarga, mengurangi stigma dan meningkatkan lingkungan kesehatan mental secara keseluruhan di masyarakat.
Penulis: Dr. Rizki Fitryasari Patra Koesoemo, S.Kep., Ns., M.Kep
Link:
Baca juga: Tantangan Kesehatan Mental yang Dihadapi oleh Perawat Asing





