51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Tata Laksana Terkini Kasus Keracunan Korosif, Alkohol, dan Organofosfat

Keracunan adalah masalah kesehatan masyarakat global yang signifikan. Pasien yang keracunan sering kali menerima evaluasi medis yang terlambat. Ada beberapa alasan yang mendasari hal ini, seperti gejala yang muncul seringkali tertunda dan kurangnya kesadaran mengenai kasus keracunan. Peneliti dari Fakultas Kedokteran, 51¶¯Âþ melakukan studi pustaka terkait penatalaksanaan awal pada pasien keracunan akut berserta potensi dan kendala yang sering terjadi selama perawatan berlangsung. Hasil studi pustaka tersebut diterbitkan di Journal of Research in Medical Science (Jurnal terindeks Scopus, Q2).

Keracunan korosif adalah reaksi kimia yang mengakibatkan cedera jaringan. Teknik yang efektif untuk mengukur cakupan cedera esofagus pada kasus keracunan korosif adalah endoskopi, yang tidak boleh dilakukan pada pasien yang hemodinamiknya tidak stabil. Periode ideal untuk endoskopi adalah dalam waktu 12-48 jam. Selain itu, penggunaan selang nasogastrik pada awal pengobatan dapat menjamin patensi lumen esofagus. Keracunan alkohol akut adalah kondisi berbahaya yang disebabkan oleh konsumsi alkohol berlebihan. Ini terdiri dari metanol, etilen glikol, dan isopropil alkohol. Metanol yang tidak termetabolisme dapat bertahan hingga 30“85 jam sebelum dieliminasi sepenuhnya oleh ginjal atau paru-paru. Keracunan metanol ditangani berdasarkan tujuan dan data historis. Elektrokardiogram, panel metabolik dasar, dan konsentrasi asetaminofen harus diperoleh dari pasien. Pengukuran kadar metanol serum di Indonesia belum dilakukan secara rutin. Selain itu, kadar serum yang negatif tidak sepenuhnya menolak toksisitas metanol karena kadar metanol bergantung pada waktu konsumsi metanol. Perawatan suportif, fomepizole (antizole, 4‘methylpyrazole, atau 4MP), etanol, dialisis, dan folat merupakan agen terapeutik untuk toksisitas metanol. Fomepizole diberikan dengan dosis 15 mg/kg secara intravena dalam waktu 30 menit dan dilanjutkan dengan 10 mg/kg setiap 12 jam hingga kadar metanol mencapai di bawah 30mg/dL. Data empiris menentukan dosis etanol intravena 10% dengan jumlah muatan 8mL/kg diberikan secara intravena antara 30 dan 60 menit, sedangkan dosis pemeliharaan harus 1“2mL/kg setiap jam

Di negara-negara berkembang, keracunan organofosfat (OP) menjadi kasus terbanyak yang masuk rumah sakit. Tanda dan gejala umum keracunan OP adalah efek muskarinik, nikotinik, dan sistem saraf pusat. Pengujian harus dilakukan untuk membuktikan fungsi butirilkolinesterase dalam plasma atau asetilkolinesterase dalam darah. Penatalaksanaan racun OP meliputi dekontaminasi dan pemberian obat penawar berupa atropin. Atropin adalah satu-satunya pengobatan yang disetujui untuk keracunan OP yang bekerja pada reseptor muskarinik melalui asetilkolin. Orang dewasa menerima dosis awal antara 2 dan 5 mg IV. Berdasarkan studi tersebut dapat disimpulkan bahwa tatalaksana keracunan korosif, alkohol, dan organofofat masing “ masing mempunyai cara yang berbeda dikarenakan jenis zat yang menimbulkan keracunan juga berbeda.

Penulis: Muhammad Miftahussurur

Artikel lebih lanjut dapat diakses di:

AKSES CEPAT