Pulau Madura yang terdiri dari empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, menghadapi tantangan geografis yang cukup signifikan. Karakteristik wilayah yang cenderung kering dan tandus membatasi kemampuan masyarakat untuk mengembangkan pertanian secara optimal. Dari total lahan produktif yang tersedia, hanya sekitar sembilan persen yang bisa digunakan sebagai sawah. Sebagian besar lainnya dimanfaatkan untuk permukiman, lahan garam, dan perikanan. Kondisi ini berkontribusi terhadap tingginya angka kemiskinan, yang mencapai sekitar 740 ribu jiwa atau 17 persen dari total penduduk miskin di Jawa Timur.
Di tengah keterbatasan tersebut, masyarakat Madura memiliki potensi besar dalam hal ketangguhan sosial dan kreativitas lokal. Salah satu kekuatan utama yang mulai terlihat adalah peran aktif perempuan dalam membangun unit-unit usaha kecil berbasis rumah tangga maupun komunitas. Dalam kehidupan sosial budaya Madura, perempuan memiliki peran yang penting meski seringkali dikonstruksikan dalam posisi yang tradisional. Namun, di balik itu, banyak perempuan yang justru menjadi motor penggerak ekonomi keluarga dan komunitas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Dinas UMKM di empat kabupaten di Madura, ditemukan bahwa masyarakat memiliki minat tinggi dalam berwirausaha. Banyak dari mereka mampu melihat peluang dari fenomena sosial dan tren yang berkembang. Namun, sebagian besar pendekatan masih dilakukan secara tradisional, mulai dari identifikasi peluang yang berbasis intuisi, rencana usaha yang tidak terdokumentasi dengan baik, hingga manajemen usaha yang bersifat spontan dan tidak terstandarisasi.
Dalam proses pengelolaan usaha, komunitas perempuan di Madura cenderung menggunakan prinsip efisiensi biaya. Mereka lebih memilih untuk mengelola usaha sendiri selama masih mampu, dan hanya merekrut tenaga tambahan saat dibutuhkan. Pengelolaan sumber daya manusia belum menjadi prioritas, dan hal ini berpengaruh pada manajemen usaha yang belum profesional. Meski demikian, bisnis yang dijalankan relatif mampu bertahan di tengah tantangan zaman, terutama karena adanya semangat gotong-royong dan adaptasi terhadap kebutuhan lokal.
Pada sisi pemasaran, mayoritas komunitas perempuan yang menjalankan usaha di Madura sudah mulai memanfaatkan teknologi digital. Produk yang ditawarkan beragam, mulai dari makanan khas Madura, batik, kerajinan tangan, hingga aksesori budaya. Mereka memasarkan produknya melalui media sosial, promosi dari mulut ke mulut, hingga mengikuti pameran di tingkat kecamatan dan kabupaten. Distribusi produk pun mulai berkembang, tidak hanya melalui penjualan langsung, tetapi juga melalui jasa ekspedisi dan ojek daring.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pola technosociopreneurship ” wirausaha yang memanfaatkan teknologi untuk kepentingan sosial ” mulai berkembang di Madura. Meskipun masih sederhana, pola usaha yang dijalankan sudah mencerminkan prinsip-prinsip technosociopreneurship: berbasis komunitas, memberdayakan perempuan, serta menggunakan teknologi sebagai alat pendukung usaha.
Dengan adanya pelatihan lanjutan, pendampingan berkelanjutan, serta dukungan regulasi dari pemerintah daerah, komunitas perempuan di Madura memiliki potensi besar untuk naik kelas menjadi pelaku usaha berbasis teknologi yang tidak hanya kuat secara ekonomi, tetapi juga inklusif dan berdampak sosial. Pendekatan technosociopreneurship tidak hanya menjadi strategi ekonomi, tetapi juga menjadi jalan menuju penguatan peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan di daerah.
Komunitas perempuan di Madura telah menunjukkan potensi besar dalam dunia usaha berbasis technosociopreneurship, meskipun masih pada tahap awal dan belum maksimal. Untuk memperkuat pola ini, perlu dilakukan pengembangan manajemen berbasis digital secara menyeluruh, mulai dari sistem penjualan, administrasi, hingga rekrutmen berbasis komunitas. Model ini terbukti tidak hanya memperkuat ekonomi keluarga, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menjadi penggerak roda ekonomi lokal yang berbasis nilai-nilai sosial dan budaya khas Madura.
Penulis: Amaliyah, Siti Intan Nurdiana Wong Abdullah, Mazzlida Mat Deli, Rindah Febriana Suryawatidan Utaberta Nangkula
Link:





