Susu disebut sebagai makanan yang nyaris sempurna karena nilai gizinya yang lengkap. Lebih dari 100.000 jenis molekul makanan ditemukan dalam susu. Susu mengandung air, lemak, karbohidrat, enzim, protein, vitamin A, B, C, dan D. Susu dibutuhkan manusia untuk membangun dan memelihara sel tubuh, menjaga metabolisme tubuh, sebagai sumber prebiotik, sumber kalsium dan untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Susu mengandung jumlah bakteri yang rendah saat dikeluarkan dari ambing yang sehat. Namun jumlah bakteri dapat meningkat bila disimpan dalam waktu lama pada suhu ruang (25oC). Susu merupakan media pertumbuhan yang sangat baik untuk pertumbuhan bakteri. Kemungkinan yang dapat menyebabkan susu terkontaminasi bakteri adalah air, kotoran dan tanah yang terkontaminasi selama proses pemerahan.
Sumber bakteri yang mencemari susu sapi umumnya berasal dari saluran puting susu, jaringan ambing yang terinfeksi, kebersihan tangan, air dan feses yang terkontaminasi. Kontaminasi bakteri yang berlebihan pada susu dapat menyebabkan beberapa penyakit antara lain disentri, typoid, tuberkulosis, dan salmonellosis. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keamanan dan kualitas susu perah. Kondisi kebersihan sapi menunjukkan sangat mempengaruhi kandungan cemaran mikroba pada susu sapi. Mutu mikrobiologi susu segar di Kecamatan Krucil Kabupaten Probolinggo Indonesia memiliki jumlah mikroba pada pengujian Total Plate Count (TPC) rata-rata 7,4 x 105 cfu/ml, jumlah cemaran Enterobacteriaceae 7,5 x 102 cfu/ml dan cemaran Staphylococcus aureus 7,9 x 101 cfu/ml4.
Dua teknik pemerahan yang berbeda antara pemerah susu dengan mesin pemerah tradisional dan pemerah manual tentunya sangat berpengaruh terhadap minimnya jumlah bakteri yang ditemukan dalam susu. Jumlah bakteri ini sangat mempengaruhi kualitas susu. Tingkat higienitas antara pemerahan menggunakan mesin dan pemerahan secara tradisional juga sangat mempengaruhi jumlah bakteri dalam susu. Mutu mikrobiologi susu mentah merupakan salah satu baku mutu yang perlu diperhatikan.
Selama masih berada di dalam ambing susu masih steril, dapat terjadi kontaminasi setelah keluar dari ambing akibat beberapa sumber pencemar. Susu mengandung mikroba kurang dari 5 x103 CFU/ml, dan jika susu diletakkan pada suhu ruang maka jumlah bakteri dalam susu akan semakin banyak, semakin lama susu disimpan pada suhu ruang maka semakin tinggi jumlah bakteri yang ada dalam susu. Berdasarkan Badan Standardisasi Nasional (BSN) tentang Standar Nasional (SNI) no. 7388:2009, terdapat batas maksimal jumlah total cemaran mikroba yang diperbolehkan dalam susu mentah yaitu 1 x 106 CFU/ml. Rata-rata usaha sapi di Indonesia didominasi oleh peternak skala kecil yang masih menggunakan metode pemerahan konvensional dengan tangan. Ada juga peternak skala menengah dan besar yang sudah menggunakan mesin untuk memerah susu. Kedua metode pemerahan tersebut memiliki perbedaan tingkat kebersihan dan jumlah susu yang dapat diperah.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan jumlah total bakteri pada susu sapi mentah antara pemerahan menggunakan mesin pemerah susu dan pemerahan tradisional dengan tangan. Penelitian ini menggunakan purposive sampling dan menggunakan 30 sampel yaitu 15 ekor sapi dari Lucky Farm dan 15 ekor sapi dari tiga peternak tradisional di Desa Medowo Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri. Semua sampel diuji dengan metode Total Plate Count (TPC) di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan 51动漫 Surabaya. Data yang ada akan diolah dengan uji normalitas Kolmogorov dan Independent T-test. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel. Penelitian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Februari 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa sampel yang memiliki jumlah total bakteri yang memenuhi standar yang telah ditentukan, namun beberapa sampel lainnya tidak memenuhi standar SNI sesuai SNI 7388:2009 yaitu 1 x 106 CFU/ml. Jumlah rata-rata sampel yang diperah dengan mesin adalah 3,5 x 105 CFU/ml, sedangkan pada sampel yang diperah secara konvensional adalah 2,9 x 106 CFU/ml. Hasil analisis dengan menggunakan Independent T-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan jumlah bakteri pada pemerah susu menggunakan mesin dan konvensional (p<0,05).
Penulis: Epy Muhammad Luqman
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan di





