Kulit merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia dan memainkan berbagai peranan penting dalam proses kehidupan. Kerusakan kulit yang parah seperti timbulnya luka tentu dapat mengganggu fungsi proteksi dari kulit dan dalam kondisi tertentu dapat mengancam jiwa. Luka merupakan sebuah gangguan kontinuitas jaringan akibat kerusakan jaringan. Luka mempunyai angka morbiditas yang cukup besar di seluruh dunia dan terbagi atas luka akut yakni luka yang membaik dalam 8-12 minggu dan luka kronis dengan waktu penyembuhan lebih dari 12 minggu.
Proses penyembuhan luka terdiri dari tiga fase, yang pertama adalah fase inflamasi, fase proliferasi dan fase maturasi atau remodelling. Berdasarkan penyebabnya luka dapat dibedakan menjadi 3 jenis yakni luka erosi, luka abrasi dan luka ekskoriasi yang terbatas pada epidermis, luka kontusio, dan luka laserasi yang dapat dibedakan menjadi insisi, tension laceration, dan crush laseration atau compression laseration, sedangkan menurut tingkat kontaminasinya, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) membaginya menjadi 4 klasifikasi yakni luka bersih, luka bersih terkontaminasi, luka terkontaminasi dan luka kotor atau terinfeksi.
Jahitan atau suture dapat didefinisikan sebagai setiap untaian bahan yang digunakan untuk mengikat pembuluh darah atau mendekatkan jaringan. Jarum terdiri dari tiga bagian utama yakni mata, badan, dan titik (point). Lingkar jarum dapat memiliki panjang yang berbeda, dengan kurva jarum yang banyak digunakan adalah 1/4, 1/2, 3/8, atau 1/3 lingkaran. Beberapa jenis jahitan yang banyak digunakan dalam praktik sehari hari, antara lain simple interrupted, vertical mattress, horizontal mattress dan sub-cuticular.
Penutupan luka dengan menggunakan teknik staples merupakan salah satu alternatif yang baik untuk penutupan jahitan terutama untuk staples yang terbuat dari bahan stainless steel. Adapun salah satu keuntungan dari penutupan luka bedah dengan menggunakan staples terkait dengan tingkat reaktivitas jaringan yang rendah sehingga menghasilkan resistensi yang lebih tinggi terhadap infeksi pada luka yang terkontaminasi dan dapat mengurangi respon inflamasi lokal.
Teknik perekat (adhesive) dapat menggunakan pita perekat atau lem perekat untuk mendekatkan tepi laserasi, menutup kulit, dan dapat digunakan sebagai alat bantu dalam prosedur operasi tertentu. Keuntungan senyawa perekat adalah penggunaan yang cepat dan mudah, pasien cenderung lebih nyaman, membutuhkan biaya yang rendah dan keuntungan bagi operator antara lain tidak terdapat risiko cedera sebagai akibat tertusuk jarum saat tindakan penutupan luka. Indikasi penggunaan surgical tapes atau penggunaan pita perekat adalah sebagai alternatif yang efektif untuk proses penutupan luka saat kekuatan tarik dan ketahanan terhadap infeksi bukanlah faktor yang penting. Surgical tapes juga dapat digunakan untuk melengkapi proses jahitan atau penutupan staples.
Pemilihan cara penutupan luka operasi baik prosedur operasi mayor maupun minor selalu menimbulkan banyak pertanyaan dalam berbagai hal, salah satunya adalah terkait kecepatan proses pemulihan luka paska operasi dan rasa nyeri pasien. Pada penelitian yang dilakukan oleh Rohin Krishnan et al pada tahun 2016 terkait proses penutupan luka di kulit dengan membandingkan penggunaan jahitan dan staples juga disebutkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kemungkinan untuk terjadinya infeksi superfisial pada lokasi penutupan luka atau surgical site infection (SSI) maupun dalam hal lama waktu penutupan luka, kemungkinan terjadinya peradangan, lama rawat inap, rasa nyeri, pembentukan abses, nekrosis dan terjadinya dehiscence.
Penelitian lain juga dilakukan di negara Irak pada tahun 2021 terkait perbandingan menggunakan jahitan subkutikular dan staples untuk penutupan luka kulit. Pada sebuah penelitian yang sama di tahun 2021 disebutkan bahwa berdasarkan survei pada 68 ahli bedah Mohs, didapatkan hasil bahwa para ahli bedah Mohs lebih menyukai penutupan luka dengan menggunakan staples bila dibandingkan dengan jahitan terutama untuk luka di area kepala.
Penutupan luka bedah bertujuan untuk mendukung penyembuhan luka secara cepat dengan hasil kosmetik yang baik dengan risiko komplikasi yang rendah. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan, apabila dilihat dari faktor kosmetik, infeksi sekunder yang mungkin timbul, rasa nyeri, besar biaya yang harus dikeluarkan dan waktu yang digunakan untuk proses penutupan luka didapatkan hasil yang cukup bervariasi namun tidak ditemukan adanya perbedaan yang signifikan diantara ketiga teknik penutupan luka tersebut.
Penulis : Prof.Dr.M.Yulianto Listiawan,dr.Sp.KK(K)
Informasi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada:
Wound Closure Technique
Arifiana Wungu Kartika Dewi, Bagus Haryo Kusumaputra, M. Yulianto Listiawan, Maylita Sari, Irmadita Citrashanty





