UNAIR NEWS Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Menurut hadis riwayat Ahmad, Rasulullah bersabda, 淏arang siapa yang meniti suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Salah satu keteladanan muncul dari Nabi Khidir dalam berilmu.
Untuk menuntut ilmu, seseorang memerlukan sumber rujukan sebagai bahan belajar. Ust Febdian Rusydi ST MSc PhD, dalam Kajian Masjid Ulul Azmi dengan tema Antara Bulan dan Matahari: Islamic Science atau Scientific Islam pada Rabu (4/4/2023), menyebutkan bahwa sumber ilmu terbagi menjadi dua. Yaitu, eksternal dan internal.
Sumber eksternal berarti melihat ilmu secara kasat mata. Sedangkan, sumber internal berasal dari nafs (kalbu).
Ust Rusydi menjelaskan bahwa sumber ilmu berasal dari tanda-tanda di dalam Al-Qur檃n. 淎kan ada banyak bukti sumber ilmu pengetahuan ketika kalian mencari kata kunci 榯erdapat tanda di dalam Al-Qur檃n. Misalnya, terdapat ayat yang menjelaskan 榮esungguhnya penciptaan siang dan malam terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah, jelasnya.
Menurut Ust Rusydi, memadukan sumber eksternal dan internal adalah hal yang penting. 淜alau kita hanya mengandalkan eksternal, maka itu disebut dengan sekularisasi ilmu, terangnya. Ia juga menambahkan bahwa penting memiliki kepekaan kalbu untuk menuntun moral baik dalam berilmu. Sepertih halnya keteladanan dari Nabi Khidir dalam berilmu.
Ciri Karakter Majmaul Bahrain
Majmaul bahrain atau pertemuan dua laut merupakan istilah bagi orang yang mampu memadukan kedua sumber ilmu. 淎llah biasa menganalogikan ilmu dengan air laut. Rasulullah juga sering menggunakan air hujan sebagai perumpamaan ilmu. Dalam Al-Kahfi, Nabi Khidir AS adalah contoh yang memiliki kemampuan mempelajari dari sumber eksternal dan internal, ungkapnya.
Terdapat dua ciri-ciri seseorang yang memiliki karakter majmaul bahrain. Pertama, terdapat ungkapan seseorang tersebut duduk di atas batu, bukan di atas pasir. Maknanya adalah seseorang tersebut memiliki pendirian. Kedua, seseorang tersebut memiliki kemampuan takwil.
淎da namanya tafsir dan takwil. Tafsir artinya menjelaskan sesuatu. Tetapi, menginterpretasikan sesuatu itu disebut takwil, jelas Dosen Departemen Fisika.

Takwil dan Penelitian
Takwil dalam sebuah penelitian berarti mendapatkan temuan baru. Kemudian, Ust Rusydi menyatakan, 淜alau kita mengamati fenomena, kemudian menjelaskan dengan sebuah formula. Maka insight atau takwil adalah kemampuan untuk menjawab sebuah penggunaan formula.
Kajian ini adalah bentuk kerja sama Jamaah Intelektual Mahasiswa Muslim (JIMM) dengan Divisi Dakwah Masjid Ulul Azmi UNAIR.
Masjid Ulul Azmi kampus MERR-C menjadi tempat pelaksanaan kajian tersebut. Divisi Dakwah Ulul Azmi juga menyediakan siaran langsung via Zoom dan kanal Youtube Masjid Ulul Azmi UNAIR.
Penulis: Muhammad Naufal Rabbani
Editor: Feri Fenoria
Baca juga:
Kajian Ramadan Puspas dan Griya Khadijah UNAIR Bahas Pentingnya Ilmu dalam Islam





