UNAIR NEWS – Berkuliah di luar negeri dan mendapat beasiswa adalah impian banyak orang. Begitupun dengan Shintia Yunita Arini S KM M KKK, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR tersebut berhasil mewujudkan mimpinya untuk berkuliah S3 di The University of Queensland, Australia dengan beasiswa Australia Awards Scholarship (AAS). Namun, untuk lolos beasiswa tersebut perlu berbagai persiapan.
Ia menyatakan bahwa persiapan mulai dari menulis esai dan cv hingga seleksi wawancara menjadi tahapan yang harus dilalui. Dosen yang saat ini tengah menempuh studi di Australia itu membagikan sejumlah tips yang dapat dipraktekkan untuk mendaftar beasiswa.
Tips Menulis Esai
Shintia, sapaan karibnya, menyatakan bahwa salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh orang Indonesia ketika menulis esai adalah berbelit-belit. Banyak calon pendaftar beasiswa yang menulis esai masih terlalu general sehingga belum mendapat poin intinya.
淏anyak yang masih menulis esai tidak langsung to the point. Saya tahu banyak hal yang ingin ditunjukkan, tapi lebih baik tulis di cv bukan di esai. Di esai kita hanya perlu menjawab apa yang ditanyakan saja, tidak usah muter-muter, ujarnya.
Ia memberikan contoh untuk pertanyaan alasan memilih kampus yang dituju. Berdasarkan pengalamannya, banyak yang masih menulis terlalu general. Sehingga, ia menyarankan untuk melakukan riset sebelum menjawab pertanyaan. 淢isalnya untuk pertanyaan tersebut, cari kelebihan kampus itu. Apa yang dimiliki kampus itu dan tidak ada di Indonesia. Kita harus menunjukkan kalau kita melakukan riset yang mendalam, jelasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyarankan untuk melakukan peer review sebelum submit esai. Tujuannya untuk melakukan perbaikan dari sudut pandang lain yang lebih objektif. 淜alau dari sudut pandang kita saja kurang objektif sehingga kita perlu peer review. Bisa bersama teman, senior, atau awardee yang berkenan untuk membantu mengecek, jelasnya.
Tips Menulis CV
Selain esai, ia juga membagikan tips menulis CV yakni dengan menuliskan pengalaman pekerjaan, riset, volunteering, dan penghargaan selengkap mungkin di CV. Ia juga menegaskan untuk jangan malu-malu menunjukkan pencapaian di CV.
淭entunya kalau CV untuk daftar beasiswa, kita flexing in a good way. Tulislah selengkap mungkin di CV, tegasnya.
Ia juga mengingatkan untuk memperbaiki profil di LinkedIn. Sebab, tidak menutup kemungkinan pemberi beasiswa akan mengecek kebenaran CV melalui LinkedIn. Ia bercerita bahwa berdasarkan pengalamannya saat mendaftar beasiswa AAS, mereka melakukan cross check di LinkedIn. Sehingga, tidak ada salahnya untuk menuliskan pengalaman dan pencapaian dengan lengkap di LinkedIn.
Improve LinkedIn karena biasanya mereka mengecek kebenaran CV kita di LinkedIn. Kalau di LinkedIn kita tidak mungkin berani memberikan informasi yang bohong, tuturnya.
Tips Wawancara
Shintia menjelaskan bahwa hal yang ditanyakan saat wawancara pasti mengacu pada esai dan CV yang telah ditulis. Sehingga ia menegaskan bahwa apa yang ditulis di esai dan CV tidak boleh asal-asalan sebab akan dipertanggungjawabkan saat wawancara.
淪ekali kalian menjawab tidak sesuai dengan yang ditulis, mereka pasti tahu. Hal itu akan menjadi pertanyaan baru bagi mereka, terangnya.
Khususnya untuk wawancara beasiswa ke luar negeri, ia juga mengingatkan pendaftar untuk bersikap inklusif dan terbuka terhadap perbedaan. Sebab di luar negeri, perbedaan sangat dijunjung tinggi sehingga perlu dibiasakan bersikap terbuka dan menerima perbedaan.
淢ereka akan tahu kita orang yang adaptif atau tidak, terlihat dari cara kita menjawab pertanyaan. Jadi, mulai dari sekarang harus terbiasa dengan perbedaan, tambahnya.
Penulis: Septy Dwi Bahari Putri
Editor: Khefti Al Mawalia





