n

51动漫

51动漫 Official Website

Inovasi Mahasiswa FK UNAIR, Ekstrak Kulit Delima Hambat Bakteri Penyebab Kolera

pomegranate for cholera PKM UNAIR
TIGA mahasiswa FK UNAIR yang berhasil meneliti buah delima dapat membunuh bakteri penyakit kolera. (Foto: Dok Tim PKMPE).

UNAIR NEWS – Mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) 51动漫 berhasil menemukan pengaruh ekstrak kulit buah delima putih terhadap bakteri penyebab penyakit kolera. Hal itu perlu diketahui bahwa ekstrak kulit buah delima memiliki aktivitas antibakteri, yaitu dengan menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio cholerae.

Mahasiswa FK yang berasal dari dua angkatan itu tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Penelitian Eksakta (PKM-PE). Mereka adalah Dhika Jannatal Ma檞a dan Ummi Imamatal Muttaqin (keduanya angkatan 2016), dan Dhea Safitri Ramadhani (angkatan 2017).

Penelitian ini diangkat dari proposal yang diusulkan dengan judul 淧engaruh Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum) Terhadap Bakteri Vibrio cholerae Secara In Vitro. Mereka mensyukuri bahwa proposal tersebut berhasil lolos seleksi dan mendapatkan hibah dana penelitian dari Kemenristekdikti dalam program PKM 2018.

Ketua tim PKM-PE, Dhika Jannatal Ma;wa menjelaskan, bahwa ide penelitian ini berawal dari adanya permasalahan penyakit kolera yang sempat menjadi kejadian luar biasa (KLB) di daerah Papua (2008) dan Kabupaten Jember (2010) serta adanya potensi kulit delima dalam menghambat bakteri penyebab gangguan pencernaan.

Selain itu, penelitian sebelumnya menyatakan bahwa bakteri penyebab kolera telah tahan (resisten) terhadap beberapa antibiotik, sehingga diperlukan alternatif lain untuk mengatasinya.

淜etiga fakta itu menimbulkan pertanyaan apakah kulit delima memiliki pengaruh terhadap bakteri penyebab kolera, yang juga menyebabkan gangguan pencernaan, sehingga dapat dijadikan alternatif untuk mengatasinya, kata Dhika.

Seperti diketahui, kolera adalah penyakit menular di saluran pencernaan yang disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae. Bakteri ini masuk ke dalam tubuh melalui air minum yang terkontaminasi akibat dari sanitasi yang buruk, atau melalui ikan yang tidak dimasak dengan benar, terutama kerang.

Ciri utama dari penyakit kolera ini yaitu diare hebat dengan konsistensi seperti 渁ir cucian beras dan bau yang khas (amis). Kolera dapat menyebabkan penderitanya mengalami dehidrasi berat dan akan berakibat fatal jika tidak segera ditangani. Penanganan dilakukan dengan rehidrasi agresif sampai diare berhenti. Selain itu, juga diperlukan pemilihan antibiotik yang tepat untuk mengurangi jumlah bakteri penyebab kolera.

Diterangkan oleh Dhika, bahwa ekstraksi kulit buah delima itu dilakukan dengan Etanol 70%, yang akan mengaktifkan senyawa-senyawa yang bersifat menghambat atau pun membunuh bakteri. Setelah dipastikan ekstrak tidak terkontaminasi bakteri, dilakukan uji dilusi untuk mengetahui nilai konsentrasi hambat minimal (KHM).

Namun oleh karena warna ekstrak yang gelap, maka nilai KHM sulit ditentukan. Dengan demikian dilanjutkan dengan mengkultur semua hasil pada media yang selektif terhadap bakteri Vibrio cholerae. Ini untuk menentukan konsentrasi bunuh minimal (KBM).

滲erdasarkan hasil penelitian, konsentrasi minimal ekstrak kulit buah delima yang dapat membunuh bakteri Vibrio cholerae adalah 50% (5mg/ml), kata Dhika, meyakinkan.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, Dhika dan tim PKM-PE ini berharap kedepan dari ekstrak kulit buah delima ini dapat digunakan sebagai alternatif lain selain antibiotik untuk menangani penyakit kolera. (*)

Editor : Bambang Bes

AKSES CEPAT