Diabetes mellitus (DM) adalah salah satu penyakit yang menjadi penyebab kematian nomor empat di dunia. Pada Kongres Federasi Diabetes Internasional (IDF) yang dilaksanakan di Paris juga dinyatakan bahwa pada tahun 2003 terdapat sekitar 194 juta orang di dunia yang telah menderita penyakit DM. Kasus kejadian pada orang dewasa di tahun 2010 sudah mencapai angka 285 juta orang dan diperkirakan akan terus melonjak. Diperkirakan juga pada tahun 2030 kasus kejadian DM pada orang dewasa dengan rentang usia 20 hingga 79 tahun adalah sekitar 439 juta dengan presentase peningkatan mencapai 20% pada masyarakat di negara maju dan 69% terjadi pada masyarakat di negara berkembang. Di Indonesia sendiri kasus kejadian DM telah mencapai lebih dari 2,5 juta dan diperkirakan akan terus bertambah.
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit atau gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein akibat insufisiensi fungsi insulin. Defisiensi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau kekurangan produksi insulin oleh sel beta Langerhans di pankreas, atau oleh kurangnya respons sel tubuh terhadap insulin. Selama ini pengobatan yang diberikan untuk penderita diabetes adalah dengan pemberian obat oral antidiabetes dan suntikan insulin yang mempunyai efek samping seperti pusing, mual, sakit kepala, dan anoreksia serta biaya yang dibutuhkan pun mahal. Sehingga diperlukan metode terapi yang aman dan efektif dengan harga terjangkau.
Elektrostimulator adalah suatu perangkat elektronik yang menghasilkan stimulasi listrik dengan karakteristik frekuensi, amplitudo, dan bentuk gelombang tertentu. Elektrostimulator bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah, meningkatkan kekuatan otot, meringankan sakit dan melakukan pemulihan pada jaringan yang rusak. Stimulasi listrik dengan menggunakan elektrostimulator memiliki tujuan untuk membangkitkan potensial aksi. Mekanisme pembangkitan potensial aksi juga bergantung pada energi yang diberikan. Efektivitas dari terapi menggunakan elektrostimulator bergantung pada besarnya intensitas (tegangan dan arus), frekuensi dan waktu rangsangan. Variabel intensitas dan frekuensi merupakan efektivitas terapi.
Penelitian telah dilakukan untuk menganalisis pengaruh elektrostimulasi pada amelioratif (memperbaiki manifestasi penyakit) atau renoprotektif (melindungi ginjal) pada model tikus diabetes menggunakan non-invasif (stimulasi listrik dengan elektroda magnetik dan non-magnetik) dan invasif (menggunakan jarum). Penelitian dilakukan pada tikus betina, yang dibagi dalam kelompok kontrol normal, kelompok kontrol diabetes, kelompok perlakuan jarum, kelompok perlakuan elektro stimulator dengan elektroda magnetik, dan kelompok ES dengan elektroda non-magnetik (ES). Medan magnet 90 mT dilakukan pada dua titik akupuntur, Pishu (BL20) dan Shenshu (BL23). Perlakuan diberikan sebanyak 12 kali dalam satu bulan, dengan waktu terapi 6,6 menit per sesi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan stimulasi elektrik dengan elektroda magnetik jarum invasif, non-invasif dan elektroda non-magnetik secara signifikan menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetes sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis diameter pulau Langerhans mengungkapkan perbedaan yang signifikan antar kelompok perlakuan. Analisis kadar kreatinin menunjukkan perbedaan yang signifikan antar kelompok, namun kadar kreatinin pada kelompok dengan elektroda magnetik (0,58卤0,17 mg/dL) tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol (0,58卤0,07 mg/dL). Hasil tes BUN menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok kontrol diabetes, namun tidak ada perbedaan yang signifikan dengan kelompok perlakuan elektroda magnetik.
Penulis: Suryani Dyah Astuti
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:





