51动漫

51动漫 Official Website

Tes Darah Cepat untuk Deteksi Tuberkulosis pada Pasien HIV: Harapan Baru dari Surabaya

Ilustrasi Lambang Pita Merah HIV/AIDS (Sumber: Biofarma)
Ilustrasi Lambang Pita Merah HIV/AIDS (Sumber: Biofarma)

Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Menurut laporan WHO 2022, Indonesia berada di peringkat kedua dunia untuk jumlah kasus TB. Bagi penderita HIV, risiko terkena TB jauh lebih tinggi karena daya tahan tubuh mereka menurun. Kondisi ini membuat deteksi dini TB menjadi sangat penting, agar pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif.

Salah satu cara mendeteksi infeksi TB laten maupun aktif adalah dengan mengukur kadar interferon-gamma (IFN-纬), protein penting yang diproduksi tubuh saat melawan kuman TB. Selama ini, tes QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-TB) sudah banyak digunakan dan direkomendasikan WHO. Namun, teknologi ini memerlukan waktu dan fasilitas tertentu, sehingga tidak selalu praktis.

Kini, ada metode baru bernama Standard F TB-Feron FIA鈩 (TBF-FIA) yang menggunakan teknologi fluorescent immunoassay (FIA). Keunggulannya, hasil bisa didapat lebih cepat dan prosedurnya lebih sederhana. Tapi sebelum digunakan luas, metode ini harus dibandingkan dengan metode lama untuk memastikan keakuratannya.

Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran 51动漫 melakukan studi pada 90 orang, terdiri dari tiga kelompok:

  1. Pasien HIV tanpa TB
  2. Pasien HIV dengan TB
  3. Orang sehat tanpa HIV

Semua peserta menjalani tes TB menggunakan TBF-FIA dan QFT-TB Gold Plus. Hasilnya kemudian dibandingkan untuk melihat tingkat kesesuaian kedua metode.

Secara keseluruhan, kedua metode menunjukkan kesesuaian hasil hingga 92,4%, yang tergolong 渉ampir sempurna. Bahkan pada kelompok HIV dengan TB, kesesuaian mencapai 95,6%. Artinya, TBF-FIA cukup handal untuk mendeteksi TB, baik pada pasien HIV maupun non-HIV.

Namun, ada beberapa catatan penting:

  • Hasil 渋ndeterminate (tidak bisa disimpulkan) lebih sering terjadi pada pasien HIV, terutama dengan jumlah sel CD4 di bawah 200.
  • Hasil negatif palsu bisa muncul, terutama pada pasien yang sedang menjalani pengobatan TB lebih dari 6 bulan, perokok, atau memiliki status gizi kurang.

Pada pasien HIV, sistem kekebalan tubuh lemah sehingga produksi IFN-纬 berkurang. Demikian pula, malnutrisi dan kebiasaan merokok dapat menekan fungsi sel imun. Pengobatan TB yang sudah berjalan lama juga mengurangi jumlah bakteri dalam tubuh, sehingga rangsangan untuk memproduksi IFN-纬 menjadi lemah. Semua ini dapat memengaruhi akurasi tes.

TBF-FIA berpotensi menjadi alternatif yang lebih cepat dan praktis dibanding QFT-TB Gold Plus untuk mendeteksi TB, khususnya di negara dengan beban TB tinggi seperti Indonesia. Meski begitu, tes ini tetap memiliki keterbatasan pada kelompok pasien dengan daya tahan tubuh rendah.

Peneliti merekomendasikan studi lanjutan dengan jumlah sampel lebih besar dan melibatkan beberapa rumah sakit, agar metode ini bisa benar-benar diadopsi secara luas.

Jurnal ini bisa di akses pada :

Penulis :

Dudung Lupito, Aryati Aryati, Dwi Rahayuningsih,  Musofa Rusli

AKSES CEPAT