UNAIR NEWS – Industri manufaktur otomotif di Indonesia terus menghadapi tantangan serius dalam limbah cair, emisi udara, dan konsumsi utilitas. Hal ini menjadi sorotan Tim 51动漫 (UNAIR) dalam perlombaan World Invention Competition and Exhibition (WICE). Perlombaan tersebut diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) dan SEGi University Malaysia. Terselenggara secara daring pada Jumat (12/9/2025), WICE melibatkan tim dari berbagai negara di dunia.
Tim yang diketuai Diah Anggraerni Nurkhalisa () itu beranggotakan Eka Rachma Aprilidanti (), Albert Rafael (), Reza Nafi Rizqi Musyaffa (), Muhammad Dafi Aritama (), dan Galih Triatmojo () sebagai anggota. Mereka berhasil meraih gold medal lewat karya tulis ilmiah berjudul Enhancing Environmental Sustainability in the Automotive Manufacturing Industry: An Innovation of Integrated Zero Liquid Discharge and PEM Fuel Cell System (I-PRIZEL) at PT TMMIN.
Kemajuan Industri Jangka Panjang
Reza Nafi mewakili timnya menyebutkan bahwa mereka menciptakan sebuah sistem bernama I-PRIZEL yang bisa mendukung ekonomi sirkular. 淪istem kami dapat memulihkan air limbah agar bisa dipakai kembali. Di lain sisi juga bisa menyediakan energi bersih untuk mendukung prosesnya, jelasnya.

I-PRIZEL dinilai mampu menekan jejak karbon operasional industri manufaktur otomotif sekaligus meningkatkan efisiensi energi. Integrasi antara teknologi Zero Liquid Discharge (ZLD) dan Proton Exchange Membrane Fuel Cell (PEMFC) ini menawarkan solusi yang berkelanjutan bagi industri yang memiliki konsumsi utilitas cukup tinggi.
Reza menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang nyata. 淒engan konsep ini, industri dapat menghemat biaya energi sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya air. Jadi, manfaatnya bisa terasa secara ganda, baik dari sisi lingkungan maupun finansial, tuturnya.
Berangkat dari Masalah
Di balik kontribusinya, sektor industri manufaktur otomotif masih menyisakan tantangan lingkungan yang cukup serius. Data menunjukkan, unit non-produksi di pabrik manufaktur otomotif mengkonsumsi air dalam jumlah besar setiap tahunnya. Kondisi ini semakin buruk dengan emisi karbon dari sumber energi yang tidak terbarukan, sehingga menambah beban lingkungan.
Selain itu, pengelolaan limbah cair juga masih menghadapi kendala. Peningkatan jumlah limbah dan kualitas air yang menurun di berbagai daerah menjadi cerminan bahwa persoalan ini belum teratasi sepenuhnya. Sementara itu, konsumsi utilitas di sektor manufaktur otomotif terus meningkat, sejalan dengan kebutuhan produksi yang semakin kompleks.
淪ituasi ini menunjukkan adanya kesenjangan, di satu sisi industri manufaktur otomotif mampu menggerakkan ekonomi. Namun di sisi lain masih meninggalkan persoalan mendasar terkait air, energi, dan emisi, ungkapnya.
Penulis: Rizma Elyza
Editor: Yulia Rohmawati





