Cedera pada area tulang belakang leher memiliki resiko tinggi terjadinya kelumpuhan sistem saraf yang dapat berujung pada kematian. Berbagai mekanisme cedera yang umum mengakibatkan cedera tulang belakang leher adalah kecelakaan lalu lintas dan jatuh dari tempat tinggi. Area leher merupakan daerah tubuh yang memiliki mobilitas paling tinggi dengan banyak pergerakan dibandingkan bagian tubuh lainnya, sehingga area leher lebih rentan terhadap cedera. Cedera pada area tulang belakang leher dapat berdampak pada struktur di area tersebut yang meliputi seluruh bagian tulang, jaringan lunak, dan sistem saraf tulang belakang.
Penelitian ini merupakan studi yang mempelajari seluruh pasien cedera tulang belakang leher selama periode 5 tahun dari Januari 2018 hingga Juni 2023 dan menjalani perawatan oleh tim dokter Orthopaedi dan Traumatologi di RSUD Dr. Soetomo yang merupakan rumah sakit rujukan tersier di Jawa Timur. Seluruh profil pasien yang didapatkan meliputi jenis kelamin, usia, status neurologis awal, penyebab mekanisme cedera, terapi yang didapat, profil operasi, lama perawatan, parameter hasil darah awal yang meliputi hemoglobi, leukosit, C-Reactive Protein (CRP), analisis gas darah, beserta penyebab kematian.
Terdapat total 127 pasien dengan dominasi jenis kelamin laki-laki sebanyak 116 pasien dan wanita 11 pasien. Persebaran umur yang terbagi berdasarkan kelompok umur 0-19 tahun, 20-29 tahun, 30-39 tahun,40-49 tahun, 50-59 tahun, 60-69 tahun, dan 70-79 tahun tampak merata pada usia produktif 20-59 tahun, dengan kelompok 50-59 tahun merupakan kelompok terbanyak sejumlah 28.3% dan rata-rata umur seluruh pasien sebesar 47 tahun. Mayoritas pasien datang dengan penyebab trauma akibat kecelakaan lalu lintas sebesar 57,5% dan jatuh dari ketinggian sebanyak 39,4%. Berdasarkan status neurologis awal, pasien dikelompokkan berdasar nilai American Spinal Injury Association Impairment Scale (AIS) dengan nilai A merupakan pasien dengan fungsi neurologis terburuk serta kelumpuhan total fungsi motorik dan sensorik, sedangkan nilai E merupakan pasien tanpa penurunan fungsi neurologis. Nilai AIS A memiliki jumlah pasien terbanyak sebanyak 57 pasien atau 44.9% dari total pasien. Nilai AIS memiliki pengaruh signifikan dalam menilai harapan hidup pasien. Terdapat dua kelompok terapi pada pasien, yaitu kelompok pasien yang dilakukan operasi sebanyak 73 pasien dan kelompok pasien yang tidak melakukan operasi sebesar 54 pasien, dimana didapatkan pengaruh signifikan dari tindakan operasi terhadap harapan hidup pasien. Data-data lain yang meliputi tinggi level tulang belakang leher, hasil laboratorium darah awal yang meliputi hemoglobin, leukosit, CRP, analisis gas darah, durasi dan perdarahan maupun teknik saat operasi tidak berpengaruh signifikan terhadap harapan hidup pasien. Penyebab kematian paling banyak pada kasus ini adalah akibat sepsis sebanyak 71.5% diikuti oleh kegagalan pernafasan sebanyak 21,4%. Beradasarkan perhitungan statistik regresi logistik, pasien dengan status AIS B dan AIS C memiliki harapan hidup 5 kali dan 15 kali lebih besar daripada pasien dengan AIS A, sedangkan pasien yang melakukan operasi memiliki harapan hidup 5 kali lebih besar dari pasien yang tidak melakukan tindakan operasi
Dalam studi ini, sekitar 90% cedera tulang belakang leher mayoritas terjadi pada populasi laki-laki. Laki-laki lebih cenderung mengalami cedera dibandingkan wanita karena keterkaitan pria dengan aktivitas berkendara sepeda motor, pekerjaan konstruksi, ketidaksabaran, agresivitas, dan konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan populasi wanita, sehingga lebih beresiko terlibat dalam kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, dan jatuh. Tidak ditemukan pengaruh signifikan antara tingkat lesi cedera dan kelangsungan hidup pasien. Mayoritas pasien (90,6%) mengalami cedera tulang belakang leher bawah (Cervical 3-7), sementara cedera tulang belakang leher atas (Cervical 1-2) hanya terdapat sebagian kecil saja (9,4%). Jumlah kasus yang lebih tinggi pada area tulang belakang leher bawah disebabkan oleh biomekanik dan pergerakan yang lebih besar di area tulang belakang leher ini. Pemeriksaan laboratorium darah awal yang mencakup hemoglobin, leukosit, CRP, dan nilai gas darah tidak menunjukkan pengaruh signifikan terhadap harapan hidup pasien dengan cedera tulang belakang tulang belakang leher dalam studi ini. Temuan pada studi ini konsisten dengan studi sebelumnya yang menemukan bahwa kecelakaan lalu lintas adalah penyebab utama di hampir semua negara. Insiden kecelakaan lalu lintas di negara berkembang jauh lebih tinggi karena banyaknya jumlah kendaraan bermotor, rendahnya kepatuhan terhadap peraturan keselamatan jalan, dan infrastruktur jalan yang kurang baik. Berdasarkan status neurologis, mayoritas pasien memiliki skala AIS A. Hasil analisis menunjukkan bahwa harapan hidup pasien dipengaruhi secara signifikan oleh status neurologis, dengan jumlah kematian tertinggi terjadi pada kelompok pasien AIS A, dan jumlah kematian menurun seiring dengan peningkatan fungsi neurologis. Hal ini disebabkan oleh fase syok tulang belakang, kelemahan otot pernafasan, gangguan sistem kardiovaskular dan sistem saraf otonom pada cedera tulang belakang leher. Kelemahan pada otot interkostal dan otot perut menyebabkan pernafasan paradoks, kapasitas paru yang berkurang, disfungsi batuk, dan peningkatan aktivitas parasimpatis karena hilangnya aktivitas saraf simpatik. Pembedahan terhadap kasus cedera tulang belakang leher lebih dianjurkan berdasarkan studi ini untuk meningkatkan harapan hidup pasien. Cedera tulang belakang leher yang tidak stabil dapat menjalani pembedahan stabilisasi pada tulang belakang, sementara operasi dekompresi disarankan untuk cedera saraf sumsum tulang belakang leher (spinal cord injury) untuk memudahkan rehabilitasi.
Penyebab kematian dalam studi ini menunjukkan mayoritas disebabkan oleh sepsis dan diikuti oleh kegagalan sistem pernafasan. Kegagalan pernafasan pada kasus cedera tulang belakang leher disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kelumpuhan otot pernafasan selama, disfungsi sistem saraf otonom, gangguan sistem kardiovaskular atau hemodinamik, edema paru, imobilitas yang berkepanjangan, dan disfungsi batuk. Kelemahan pada otot pernafasan yang meliputi otot interkostal dan otot perut menyebabkan pernafasan paradoks dan kapasitas paru yang berkurang. Penurunan aktivitas saraf simpatik dan peningkatan aktivitas saraf parasimpatis melalui saraf vagus yang meningkat secara berlebihan mengakibatkan hipotensi dan aritmia jantung ataupun bradikardia. Peningkatan aktivitas saraf parasimpatis juga menyebabkan bronkokonstriksi serta kemampuan pasien untuk batuk sangat terganggu. Pasien yang kehilangan fungsi otot perut dan otot interkostal akan kehilangan kemampuan untuk menghasilkan ekspirasi yang memadai, yang mengganggu pernafasan yang tepat. Sepsis pada pasien dengan cedera tulang belakang leher dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, termasuk infeksi saluran kemih akibat gangguan pengosongan kandung kemih atau penggunaan kateter, infeksi kulit dan jaringan lunak seperti luka dekubitus, dan penumpukan dahak akibat fungsi batuk yang buruk dan menyebabkan pneumonia.
Studi ini menunjukkan beberapa temuan kunci terkait kelangsungan hidup pasien pada kasus cedera tulang belakang leher. Status neurologis awal yang dinilai dengan skala AIS memengaruhi harapan hidup secara signifikan. Selain itu, pasien yang menjalani intervensi bedah menunjukkan harapan hidup yang lebih baik dibandingkan pasien yang tidak menjalani operasi. Selain itu, studi ini mengungkapkan bahwa faktor-faktor seperti usia, jenis kelamin, mekanisme cedera, tingkat cedera, pendekatan bedah, durasi operasi, perdarahan intra-operatif, dan hasil laboratorium darah tidak menunjukkan hasil signifikan untuk harapan hidup pasien pada kasus cedera tulang belakang leher.
Penulis: Prof. Dr. Komang Agung Irianto Suryaningrat,dr. Sp.OT(K)
Link:
Baca juga: Pengobatan yang Cepat dan Agresif Terhadap Infeksi Leher Dalam pada Pasien Diabetes yang Terabaikan





