Kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) merupakan isu penting dalam dunia kesehatan. ODHA sering mengalami tekanan psikologis seperti kejenuhan, kehilangan semangat, hingga depresi selama menjalani terapi yang panjang dan kompleks. Mekanisme coping yang negatif selama masa pengobatan dapat menurunkan sistem imun, menyebabkan infeksi oportunistik (IO), dan memperburuk kualitas hidup. Ketidakpatuhan terhadap terapi antiretroviral (ARV) berdampak pada peningkatan viral load dan penurunan jumlah CD4, sehingga mempercepat perkembangan ke AIDS. Di Indonesia, tingkat kepatuhan terhadap ARV masih menjadi masalah besar. Hanya 65% ODHA secara global yang mendapatkan akses ARV, sementara di Indonesia, tingkat Lost to Follow Up (LFU) masih tinggi (21,87%). Dari 180.843 ODHA yang menerima ARV, sekitar 39.542 kehilangan kontak, dan 3.501 menghentikan pengobatan. Hal ini menyebabkan risiko IO meningkat, dengan infeksi paling umum seperti pneumonia bakteri, kandidiasis, TBC, dan diare. Pasien HIV dengan banyak IO memiliki kualitas hidup yang lebih buruk (31,25%) dibanding yang tanpa IO (11,11%). Mayoritas ODHA menunjukkan mekanisme coping negatif (60%), sedangkan coping positif hanya 40%. Ketidakpatuhan terapi ARV juga berisiko menyebabkan resistensi obat dan pilihan terapi yang semakin terbatas di masa depan. Mekanisme coping adaptif, resiliensi, dan dukungan sosial (keluarga, tenaga kesehatan) berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup ODHA. Proses self-management yang mencakup regulasi emosi, motivasi, dan perilaku sangat penting untuk mendorong ODHA tetap patuh dan termotivasi menjalani terapi. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat kemampuan dan kepatuhan terhadap terapi ARV dengan kualitas hidup ODHA, menekankan pentingnya pendekatan psikososial dan dukungan berkelanjutan.
Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di Komisi Pemberantasan AIDS Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia, pada periode Oktober hingga Desember 2022. Tujuannya untuk mengevaluasi tingkat kemampuan, kepatuhan konsumsi terapi antiretroviral (ART), dan kualitas hidup orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di wilayah yang memiliki prevalensi HIV/AIDS relatif tinggi. Sebanyak 60 ODHA direkrut sebagai responden berdasarkan kriteria inklusi, yaitu: diagnosis positif HIV menggunakan tiga metode tes (oncoprobe, intake, vikia); usia antara 20-55 tahun; telah menjalani terapi ART minimal 6 bulan; mampu membaca dan menulis dengan baik; mampu berkomunikasi secara efektif; tidak memiliki gangguan jiwa; serta tidak mengalami gangguan penglihatan atau pendengaran. Responden yang memenuhi syarat diinformasikan mengenai prosedur penelitian dan menandatangani formulir informed consent sebelum berpartisipasi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner yang meliputi tingkat kemampuan, kepatuhan terhadap ART, dan kualitas hidup. Kuesioner diisi di ruangan khusus untuk menjaga privasi responden. Data demografi seperti usia, jenis kelamin, status pernikahan, etnis, agama, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan juga dikumpulkan. Kepatuhan ART diukur berdasarkan dua periode: dalam 7 hari terakhir dan 3 bulan terakhir, dengan kategori kepatuhan 鈮95% konsumsi obat dan ketidakpatuhan jika melewatkan dosis sesuai batas yang ditentukan. Tingkat kemandirian dinilai dengan kuesioner yang telah dimodifikasi oleh peneliti, sedangkan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner WHOQOL-HIV BREF. Analisis data menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik demografis dan variabel utama. Korelasi antara tingkat kemampuan, kepatuhan ART, dan kualitas hidup diuji dengan menggunakan uji Spearman檚 rho. Variabel independen dikodekan secara ordinal, variabel dependen berupa biner, dan kualitas hidup dikodekan ordinal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien dengan tingkat kemampuan yang baik cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi. Hal yang sama juga terlihat pada tingkat kepatuhan ART; semakin baik kepatuhan pasien terhadap ART, semakin tinggi pula kualitas hidupnya. Dengan demikian, kualitas hidup ODHA terbukti berkorelasi positif dengan tingkat kemampuan pasien dan kepatuhan terhadap terapi ART. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kemampuan individu dan kepatuhan terhadap pengobatan ART sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kemampuan dan kepatuhan terapi harus menjadi fokus utama dalam pengelolaan kesehatan ODHA agar kualitas hidup mereka dapat terus membaik.
Artikel ini merujuk pada penelitian dengan judul Level of ability and adherence to antiretroviral therapy medication and quality of life for PLHIV





