51动漫

51动漫 Official Website

Tinjauan Literatur Sistematis Komparatif antara Studi Pariwisata Halal Indonesia dan Malaysia

pariwisata halal
ilustrasi pariwisata halal (sumber: kompas)

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi dengan pertumbuhan tercepat. Sektor ini mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap pekerjaan. Hingga saat ini sektor pariwisata terus berkembang dalam menciptakan konsep-konsep yang mengikuti kebutuhan dan tren global, salah satunya adalah wisata halal. Wisata halal merupakan salah satu bentuk inovasi yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan wisatawan muslim saat berwisata.Pariwisata di Indonesia masuk dalam program prioritas pengembangan Kabinet Kerja 2015-2019. Pada tahun 2019, menurut GMTI, Indonesia berhasil menduduki peringkat pertama sebagai negara tujuan wisata halal terbaik, bersanding dengan Malaysia (Mastercard-CrescentRating 2019). Untuk memperkuat pariwisata halal, Kementerian Pariwisata RI berkolaborasi dengan Crescent Rating Mastercard.

Pariwisata halal di Malaysia dimulai setelah serangan teroris 11 September di AS. Malaysia berhasil menempati peringkat pertama destinasi wisata halal terbaik versi GMTI secara berturut-turut sejak tahun 2015-2022. Untuk mengembangkan sektor ini, Malaysia sedang mempersiapkan Halal Masterplan yang memiliki target jangka waktu 13 tahun dan mencakup tiga fase.Indonesia dan Malaysia memiliki banyak kesamaan dalam berbagai aspek, baik dari segi letak geografis di Asia Tenggara maupun dari segi agama mayoritas penduduknya yaitu Islam. Selain itu, kedua negara ini juga sangat konsen terhadap pengembangan wisata halal dan merupakan negara yang sangat produktif dalam mempublikasikan kajian pariwisata halal.

Penelitian sebelumnya mengenai wisata halal telah menggunakan metode tinjauan pustaka yang sistematis. Misalnya Rasul (2019) mempelajari tren, peluang, dan tantangan dalam pariwisata halal. Penelitian ini juga menggunakan PRISMA sebagai teknik penerimaan dan penolakan artikel. Penelitian ini berupaya memetakan penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti dari Indonesia dan Malaysia terkait dengan topik wisata halal untuk mengetahui persamaan dan perbedaan sejauh mana penelitian mengenai wisata halal yang telah dilakukan oleh para peneliti dari negara tersebut. Dua negara dan berkontribusi terhadap arah peluang kajian yang belum dilakukan oleh para peneliti kedua negara tersebut agar dapat mengembangkan wisata halal.

Penelitian ini menggunakan tinjauan literatur sistematis mengenai pariwisata halal dan membandingkan hasil penelitian yang dipublikasikan kedua negara. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan arah baru bagi para peneliti wisata halal. Merupakan penelitian kualitatif di mana literatur ditinjau secara sistematis. Metode ini dapat menunjukkan luasnya penelitian dan memberikan gambaran umum mengenai perbedaan penelitian. Pendekatan ini juga dapat menunjang keberhasilan tujuan pembelajaran. Peneliti menggunakan PRISMA untuk membantu dalam proses seleksi, penerimaan, atau penolakan studi. Pedoman PRISMA merupakan seperangkat item minimum berbasis bukti untuk pelaporan dalam tinjauan sistematis dan meta-analisis (PRISMA 2021). Semua penelitian yang dianalisis menjalani prosedur sistematis yang ketat dan akurat. Studi yang dianalisis dikumpulkan dari database Scopus. Scopus dipilih karena merupakan salah satu database abstrak publikasi ilmiah terindeks terbesar yang mencakup berbagai bidang topik.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa studi pariwisata halal Malaysia paling awal ditemukan di Scopus pada tahun 2010, dimana jumlah artikel terus meningkat hingga mencapai puncaknya. Studi pariwisata halal paling awal di Indonesia dilakukan pada tahun 2017, dan jumlah studi mencapai puncaknya pada tahun 2021. Terkait dengan studi kuantitatif, kerangka teori yang paling banyak digunakan dalam mempelajari pariwisata halal di kedua negara adalah teori perilaku pelanggan.

Kajian pariwisata kedua negara masih dapat mengembangkan kajiannya dengan menggunakan kerangka teori yang selama ini belum digunakan, misalnya grounded theory. Dalam kajian wisata halal Indonesia, tema yang paling banyak digunakan adalah perilaku wisatawan. Namun, banyak tema wisata halal yang belum diteliti dalam penelitian wisata halal Malaysia. Hampir seluruh tema yang dibahas dalam studi pariwisata halal Malaysia, seperti keramahtamahan, persepsi wisatawan terhadap pariwisata halal, atribut, dan pemasaran juga telah dibahas. Banyak tema kajian pariwisata halal Indonesia, seperti tema regulasi, teknologi, makanan, bisnis, dan kajian pengembangan, belum ditemukan dalam kajian pariwisata halal Malaysia. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh tidak meratanya jumlah kajian wisata halal yang terlibat, dimana hanya ditemukan 18 kajian wisata halal Malaysia dan 61 kajian wisata halal Indonesia sehingga menyebabkan perbedaan yang besar dari jumlah tema yang dibahas dalam kajian pariwisata halal.

Penulis: Prof. Dr. Ririn Tri Ratnasari, S.E., M.Si.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

h

Baca Juga: Tinjauan Literatur Sistematis tentang Industri Halal Label

AKSES CEPAT