51动漫

51动漫 Official Website

Tinjauan Literatur Tentang Karakteristik Klinis Malaria Serebral

Foto by Alomedika

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit genus Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Malaria pada manusia umumnya disebabkan oleh empat spesies Plasmodium, yaitu: Plasmodium malariae, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, dan Plasmodium falciparum. Infeksi P. falciparum merupakan kontributor terbesar kematian akibat malaria (99%) dibandingkan dengan spesies lainnya karena menyebabkan serebral malaria.

Infeksi P. falciparum memiliki beberapa manifestasi, malaria serebral (MS) merupakan neurologis komplikasi yang paling parah dan penyebab utama kematian malaria, yaitu hampir 20% kematian orang dewasa dan 15% dari kematian anak. Sekitar 11% pada anak-anak penderita MS menunjukkan defisit neurologis karena jangka panjang. Menurut WHO, MS ditandai dengan koma setidaknya 1 jam setelah kejang atau hipoglikemia, dan ditemukannya parasit stadium aseksual P. falciparum di sedian darah perifer penderita, tanpa penyebab lain dari koma. Tetapi definisi ini kurang jelas karena pada adanya koma yang disebabkan oleh ensefalopati tetapi tidak terdeteksi gejala neurologis. Karakteristik klinis MS diperlukan untuk diagnosis MS sehingga dapat membantu mengurangi kematian akibat malaria. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk menyajikan ringkasan medis mengenai karakteristik klinis yang pasti dari MS.

Gangguan kesadaran

MS ditandai dengan sequestrasi sel darah merah terinfeksi P. falciparum yang menempel pada sel endotel dari pembuluh darah kapiler dan venula serebral, sehingga menyumbat aliran darah dan memicu respons sitokin inflamasi, dan menyebabkan kebocoran vascular. Jadi sekuestrasi, peradangan, dan disfungsi endotel pada mikrovaskular otak adalah faktor risiko utama yang akhirnya menginduksi hipoksia (kadar oksigen rendah) pada individu dengan malaria yang parah. Penderita akan mengalami penurunan tingkat kesadaran yang dapat berkisar dari delirium (kondisi penurunan kesadaran yang bersifat akut dan fluktuatif), kejang, hingga koma yang berlangsung rata-rata 4 hari atau lebih. Persyaratan klinis pertama pada MS adalah gangguan kesadaran yang didefinisikan sebagai koma dengan skor skala koma Glasgow (GCS= Glasgow Scale Score) <11 pada orang dewasa dan skor Blantyre <3 pada anak-anak. Terdapat empat kelompok MS, yaitu sindrom homogen tunggal yang merupakan keadaan pasca-iktal yang berkepanjangan, status epileptikus terselubung, gangguan metabolism parah dan sindrom neurologis primer.

Lebih dari 80% pasien anak dengan MS memerlukan rawat inap karena kejang. Setelah perawatan, kejang ini berulang di lebih dari 60% kasus. Berkali-kali terbangun atau kejang memperburuk prognosis dan meningkatkan risiko gejala sisa neurologis. Pada MS, kejang dapat disebabkan oleh hipoksia serebral, demam, hipoglikemia, atau asidosis laktat. Karena P. falciparum adalah parasit epileptogenik, sehingga hiperparasitemia parasit meningkatkan risiko kejang. Pada MS, kejang umum lebih banyak ditemukan daripada kejang parsial kejang. Obat antiepilepsi biasanya tidak efektif dalam mengendalikan kejang, yang dapat berkembang menjadi

status epileptikus konvulsif atau nonkonvulsif.

Retinopathy (penyakit pada retina)

Retinopati spesifik malaria yang telah dikonfirmasi adalah pertimbangan diagnostik yang penting untuk MS. Apabila retinopati malaria terdeteksi, maka akurasi diagnostik pada kasus fatal meningkat secara signifikan dibandingkan dengan standar definisi kasus klinis. Pada anak-anak penderita infeksi P. falciparum di Afrika, retinopati memiliki sensitivitas 90% dan spesifisitas 95% untuk mengidentifikasi MS. Retinopati malaria terdiri dari tiga elemen, yaitu perdarahan. Perubahan vaskular tersebut ditunjukkan oleh perubahan warna oranye atau putih, dan retinal yang memutuih. Obstruksi mikrosirkulasi dan hipoksia merupakan penyebab memutihnya retina.

Sequelae pasca MS

Sequelae pada anak-anak penderita MS yang telah sembuh, ditemukan 25%  mengalami gejala kronis neurologis pasca MS, termasuk gangguan kognitif, keterampilan motorik, koordinasi visual, dan kejang. Suatu penelitian prospektif, menjelaskan bahwa terdapat 25% pasien anak memiliki gangguan kognitif jangka panjang setelah sembuh, dan 11,8% dari mereka menunjukkan gangguan bahasa terutama pada kosa kata, penerimaan pembicaraan, pengekspresian kata-kata dan fonologi. Pada anak penderita MS dapat berkembang gangguan neurokognitif karena disregulasi sinaptik yang disebabkan oleh aktivasi komplemen yang tinggi selama infeksi malaria. Gangguan kognitif lebih banyak ditemukan pada anak pasca MS dari pada dewasa, hal ini dapat dijelaskan karena ketidakmatangan sel astrosit pada pasien MS anak.

Sequalae setelah sembuh dari MS, mungkin juga mengalami gangguan motorik dan gerakan seperti spastisitas (hemiplegia, quadriparesis, atau quadriplegia), kelumpuhan saraf kranial, hipotonia sentral, ataksia, tremor, dan distonia.  Dalam jangka panjang setelah sembuh, hipotonia sentral, ataksia, dan tremor sebagian besar sembuh. Sebelum sembuh, paling banyak ditemukan gambaran neurologis umum seperti lesi neuron motoric simetris atas yang ditunjukkan sebagai plantar bilateral ekstensi dan refleks tendon berlebihan yang bisa membantu dalam mendiagnosis MS. Pasien-pasien ini memiliki ciri-ciri iritasi meningeal tetapi tanpa kekakuan leher, tanda kerning, dan fotofobia karena itu kemungkinan meningitis dapat disingkirkan.

Penulis: Heny Arwati, Nabilla Feirizky Chairunnisa dan Jelita Aprisano Putri

Informasi detail review ini dapat diakses pada artikel kami di:

AKSES CEPAT