Seni pertunjukan wayang, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia, kini semakin mendapatkan perhatian di dunia perfilman. Sebagai bagian dari upaya untuk melestarikan dan mengembangkan cerita-cerita tradisional, sejumlah pembuat film mulai mengadaptasi cerita-cerita wayang yang kaya akan nilai filosofi dan budaya menjadi naskah film yang segar dan menarik. Tindakan yang disarankan adalah memindahkan narasi dari teks dalam bentuk cerita pendek ke media audiovisual dalam bentuk film. Praproduksi, produksi, dan pascaproduksi merupakan tiga fase utama dalam proses pembuatan film, menurut Reid dan Sanders [11]. Singkatnya, praproduksi adalah segala sesuatu yang terjadi sebelum dimulainya proses perekaman gambar dan suara, produksi adalah proses perekaman gambar dan suara yang sebenarnya, dan pascaproduksi adalah kegiatan yang terjadi setelah perekaman selesai. Persiapan, peluncuran program dukungan penulisan skenario, dan kontes penulisan naskah film berdasarkan cerita pewayangan merupakan kegiatan yang termasuk dalam pengabdian masyarakat ini. Bersama dengan Dewan Kesenian Sidoarjo dan komunitas film, tim pengabdian masyarakat mempersiapkan diri untuk tahap pertama. Gambar 2. Rapat Koordinasi Persiapan Lokakarya Penulisan Skenario Wayang
Tugas Pertama Naskah cerpen wayang digunakan untuk mensosialisasikan proses Lokakarya Penulisan Naskah Film. Rangkaian seminar ini diawali dengan Dekesda dan komunitas perfilman yang berkumpul untuk mensosialisasikan proses penulisan naskah film berdasarkan naskah cerpen wayang. Tujuan dari program ini adalah untuk memberikan pemahaman dasar kepada peserta tentang bagaimana cerpen berbasis wayang diubah menjadi skenario film. Peserta didorong untuk belajar bagaimana menelaah nilai-nilai tradisional dalam wayang dan mengubahnya menjadi narasi yang menarik secara visual dan menarik bagi penonton di era modern. Garis besar fase-fase yang terlibat dalam penulisan skenario, mulai dari ide dan pengembangan skenario hingga penciptaan dialog yang menarik, juga diberikan dalam sosialisasi ini. Selain itu, sosialisasi ini berfungsi sebagai platform untuk membina komunikasi di antara anggota dari semua latar belakang, khususnya antara komunitas Dekesda dan komunitas film lainnya. Pengalaman dan ide peserta dalam menciptakan cerita berdasarkan budaya lokal dipertukarkan melalui diskusi partisipatif. Selain mendorong semangat peserta untuk menghasilkan karya yang tidak hanya indah dipandang tetapi juga kaya akan nilai-nilai budaya Wayang, acara ini juga menjadi ajang awal bagi mereka untuk mempersiapkan diri sebelum melangkah ke tahap lokakarya yang lebih mendalam. Diharapkan kerja sama ini akan menciptakan peluang baru untuk mengkaji perpaduan kreativitas kontemporer dan tradisi.
Penulis: Rima Firdaus, S.Hum., M.Hum.
Link:





