UNAIR NEWS – Di tengah tantangan globalisasi yang menuntut kecakapan bahasa dan ketajaman literasi, kelompok BBK 7 Ringintelu mengambil langkah proaktif melalui inisiatif pendidikan akar rumput. Sebuah program pendampingan belajar inovatif bertajuk Lingua Ceria (learning English, Mandarin, dan Calistung Ceria) resmi digulirkan untuk memperkokoh fondasi intelektual dan karakter pelajar di wilayah Ringintelu.
Program yang berlangsung sepanjang Januari 2026 ini menyasar tiga institusi pendidikan strategis, yakni SD Negeri 1 Ringintelu, SD Negeri 2 Ringintelu, dan SMP Negeri PGRI 1 Bangorejo. Dengan total partisipasi mencapai 112 siswa, inisiatif ini menjadi potret nyata upaya daerah dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 terkait dengan pendidikan berkualitas yang inklusif.
Metodologi Pembelajaran Humanis dan Adaptif
Lingua Ceria hadir untuk menjawab kegelisahan terhadap metode klasik yang seringkali membebani siswa. Dipandu oleh anggota BBK 7 Ringintelu Titis Nastiti Dwi Lestari dan Naifa Khaliya Aryani, program ini mengedepankan pendekatan yang komunikatif, interaktif, dan rekreatif.
fokus utama kami adalah menciptakan atmosfer belajar yang aman dan nyaman. Anak-anak tidak dibebani target akademik yang kaku, melainkan diajak untuk bereksplorasi melalui permainan edukatif agar tumbuh rasa percaya diri dan keberanian untuk mencoba hal baru jelas Titis dalam keterangannya.
Secara teknis, pelaksanaan program diatur dengan sistem manajemen kelas yang efektif:
- SDN 1 Ringintelu (54 peserta): Pembelajaran dibagi menjadi dua sesi, yakni kelas bawah (1-3) dan kelas atas (4-6).
- SDN 2 Ringintelu (35 Peserta): Fokus diberikan secara kolektif pada siswa kelas 4 dan 5.
- SMP PGRI 1 Bangorejo (10 peserta): Menjangkau siswa kelas 7 hingga 9 dengan penguatan materi yang lebih kompleks.
Sinergi Kompetensi Global dan Kearifan Lokal
Program Lingua Ceria dirancang secara holistik, menyeimbangkan antara tuntutan zaman dan akar budaya lokal. Selain pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin, program ini memberikan persi khusus pada:
- Bahasa Indonesia: Sebagai instrumen untuk melatih pola pikir runtut, penyampaian pendapat yang jelas, serta komunikasi yang santun dan bertanggung jawab.
- Bahasa Jawa: Sebagai media internalisasi nilai tata krama (unggah-ungguh), kepekaan rasa, dan empati dalam kehidupan bermasyarakat.
- Ilmu Pengetahuan Sosial: Khusus jenjang SMP, materi ini diberikan agar siswa mampu memahami korelasi antara manusia, lingkungan, dan waktu, sehingga memiliki daya kritis terhadap peristiwa sosial yang terjadi di sekitarnya.
Navigasi Hambatan dan Visi Berkelanjutan
Implementasi di lapangan tidak luput dari tantangan, seperti keterbatasan rentang konsentrasi pada anak usia dini serta isu kedisiplinan pada tingkat remaja. Menanggapi hal tersebut, kelompok BBK 7 Ringintelu menerapkan teknik intervensi berupa ice breaking, penggunaan media visual, serta pendekatan personal yang lebih intensif dengan peer to peer learning.
Keberhasilan program ini juga tidak lepas dari ekosistem kolaborasi yang melibatkan peran aktif orang tua dalam pendampingan belajar di rumah, serta dukungan pihak sekolah dalam penyediaan sarana prasarana yang memadai.
Melalui sinergi antara sekolah, pendamping, dan masyarakat, Lingua ceria diharapkan dapat terus berkelanjutan dan direplikasi di institusi lain. langkah ini menjadi investasi jangka panjang Ringintelu dalam mencetak generasi emas yang literat, berkarakter luhur, dan siap menghadapi dinamika masa depan tanpa kehilangan jati diri bangsa.
Penulis: Titis Nastiti Dwi Lestari





