51¶¯Âþ

51¶¯Âþ Official Website

Uji Molekuler sebagai Penguatan Diagnosa Agen Penyebab Penyakit Koksidiosis yang Terjadi pada Ternak Sapi Madura

Foto oleh web.bptukdi.info

Koksidiosis merupakan penyakit parasitic yang disebabkan oleh protozoa Eimeria spp. yang secara global mengakibatkan masalah kesehatan dan kerugian ekonomis pada berbagai macam hewan ternak. Penyakit ini mengakibatkan penurunan bobot badan ternak, konsumsi pakan, efisiensi pakan, dan bahkan pada beberapa kasus bisa menyebabkan kematian. Koksidiosis juga menyebabkan hewan menjadi lebih rentan terhadap infeksi penyakit lain akibat kerusakan organ dan penurunan imunitas. Secara umum, koksidiosis lebih dikenal terjadi pada ternak ungags, akan tetapi ternak sapi juga bisa terinfeksi koksidiosis. Koksidiosis umumnya menyerang sapi muda, serta sapi yang lebih sering dikandangkan seperti pada feedlot dan sapi perah. Pada sapi perah, bisa terjadi karena faktor stress saat masa sapih, yang akan menjadikan sapi perah lebih rentan terhadap infeksi koksidiosis. Pada manajemen feedlot, hal ini berhubungan dengan masalah transportasi, perubahan rasio pakan, perubahan cuaca dan tingkat kepadatan dalam kandang. Koksidiosis memiliki tingkat morbiditas dan mortalitas yang termasuk tinggi dengan gejala klinis berupa berkurangnya nafsu makan, kelemahan, kehilangan berat badan, diare, depresi, dan anemia. Kejadian sebaran penyakit pada ternak sapi biasanya bersifat subklinis atau tanpa ada gejala yang terlihat, namun kerugian ekonomi semakin terasa akibat penurunan produktivitas, bahkan pada industry peternakan sapi perah di Amerika Serikat kerugian akibat koksidiosis mencapai angka 400 juta US$/tahun (Bruhn et al., 2011).

Menurut laporan dari Raphael, Bruhn, Lopes, Demeu, dan Perazza (2011), spesies parasit Eimeria yang pernah teridentifikasi pada hewan ternak sapi ada 13 spesies, yaitu Eimeria zuernii, Eimeria bovis, Eimeria auburnensis, Eimeria cylindrical, Eimeria illinoisensis, Eimeria subspherica, Eimeria pellita, Eimeria ellipsoidalis, Eimeria Canadensis, Eimeria bukidnonensis, Eimeria wyomingensis, Eimeria brasiliensis, dan Eimeria alabamensis. Spesies patogen dari Eimeria spp. dengan tingkat patogenitas tinggi dan mampu menyebabkan kematian pada sapi khususnya usia muda adalah Eimeria zuernii dan Eimeria bovis. Menurut Heidari dan Gharekhani (2014) sapi dewasa lebih toleran terhadap infeksi Eimeria spp. karena memiliki imunitas (tingkat kekebalan) yang cukup dan sistem kekebalan akan mudah terbentuk ketika terjadi infeksi. Saluran pencernaan merupakan organ yang paling umum diserang pada kejadian koksidiosis. Kondisi saluran pencernaan yang rusak karena kejadian koksidiosis akan menurunkan fungsi sistem organ tersebut secara umum sehingga akan terjadi penurunan proses absorpsi nutrisi yang mengakibatkan penurunan performa dan produktivitas ternak sapi. Gangguan tersebut akan terlihat jelas pada sapi usia muda (pedet) yang ditandai dengan kondisi feses mempunyai tingkat kekeringan dibawah 10% serta diare eksudatif karena bagian vili pada usus mengalami kerusakan sugnifikan (Marquez, 2014). Infeksi Eimeria spp. pada pedet mampu menimbulkan diare akut dengan estimasi 75% pada pedet yang positif terinfeksi koksidiosis berakhir dengan kematian (Raphael et al., 2011).

Parasit Eimeria spp. yang bersifat non pathogen umumnya tidak menimbulkan kematian, namun tetap mempunyai kemampuan untuk menyebabkan kerusakan pada organ di saluran pencernaan sehingga menimbulkan potensi kepekaan terhadap penyakit yang lain. Strategi yang salah dalam pengendalian koksidiosis akan menimbulkan dampak peningkatan kasus koksidiosis, hal tersebut disebabkan stadium infekstrif parasite yaitu ookista yang ada dalam suatu wilayah akan terus mencemari lingkungan dan menjadi sumber penularan bagi ternak sapi lainnya khususnya yang berusia muda. Satu ookista Eimeria spp. yang mempunyai sifat patogen mampu menimbulkan kerusakan jutaan sel epitel usus halus. Selama proses infeksi di dalam sel epitel, ookista akan menimbulkan peradangan dan pendarahan (Ekawasti dan Wardhana, 2019). Deteksi stadium ookista Eimeria spp. pada kasus koksidiosis bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai teknik mulai dari konvensional sampai dengan pendekatan molekular. Metode konvensional sampai saat ini masih menjadi metode yang populer serta banyak diterapkan di laboratorium dengan mengamati morfologi, warna, serta ukuran ookista yang terdetaksi pada sampel feses. Selain itu, metode kuantitatif juga digunakan untuk menghitung jumlah ookista Eimeria spp. per gram sampel feses atau dikenal dengan metode Oocyst Per Gram (OPG).

Laporan pertama dalam aspek deteksi spesies Eimeria berdasarkan pendekatan molekuler di Indonesia pernah dilakukan oleh Ekawasti et al. pada tahun 2019, dengan hasil angka prevalensi mulai dari 10.4%, 2.8%, 2.1%, 1.4%, 1.1%, dan 0.4%, untuk spesies Eimeria bovis, Eimeria ellipsoidalis, Eimeria alabamensis, Eimeria zuernii, Eimeria auburnensis, dan Eimeria cylindrica. Selebihnya belum ada penelitian lebih lanjut terkait dengan deteksi agen penyebab koksidiosis pada sapi menggunakan uji molekuler di Indonesia. Oleh karena itu, penulis beserta tim melakukan penelitian identifikasi molekuler keragaman spesies parasite protozoa Eimeria yang sering menginfeksi hewan ternak sapi madura di wilayah Kecamatan Kamal, Pulau Madura dimana mayoritas sapi madura menjadi komoditas perputaran ekonomi warga sekitar namun belum diimbangi oleh penguatan manajemen pemeliharaan dan perkandangan.  

Materi dan Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dari bulan Januari sampai Desember tahun 2020. Sampel feses sapi madura dikoleksi di wilayah Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura. Identifikasi morfologi dan molekuler Eimeria spp. dilakukan di Laboratorium Parasitologi Veteriner, Divisi Parasitologi Veteriner, Departemen Ilmu Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, 51¶¯Âþ, Surabaya. Sejumlah 100 sampel feses sapi segar dikoleksi dan disimpan dalam wadah plastik yang mengandung larutan kalium dikromat. Tidak ada sapi madura yang menunjukkan gejala klinis spesifik ketika sampel feses dikoleksi. Perhitungan total sampel berdasarkan proporsi maksimal 10% dari total populasi sapi madura yang ada pada masing-masing desa di bagian utara, selatan, timur, barat, dan tengah Kecamatan Kamal. Pemilihan sampel untuk uji molekuler didasarkan pada jumlah ookista yaitu 250“25.000 ookista per mililiter larutan feses. DNA diekstraksi menggunakan DNAzol (Ohio, USA), sesuai dengan prosedur yang telah direkomendasikan. DNA diamplifikasi menggunakan pasangan primer spesifik spesies Eimeria yaitu E. bovis, E. zuernii, E. aburnensis, E. cylindrica, E. alabamensis, dan E. ellipsoidalis.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan pemeriksaan morfologi menggunakan mikroskop, sejumlah 21% sampel feses sapi madura yang diperiksa positif Eimeria spp. Morfologi dari Eimeria spp. yang diamati ada dalam fase ookista yang bersporulasi maupun tidak bersporulasi. Dari total 15 sampel yang digunakan untuk uji molekuler, 12 sampel telah berhasil diamplifikasi dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Berdasarkan uji molekuler PCR tersebut, 6 sampel terdeteksi positif E. bovis, 3 sampel poaitif E. zuernii, 2 sampel positif E. Aurburnensis, dan 1 sampel positif terdeteksi E. cylindrica. E. bovis merupakan spesies yang lebih sering terdeteksi dalam penelitian ini. Total 5 sampel ditemukan dengan infeksi tunggal dan 3 sampel dengan infeksi campuran. Hasil penelitian Morgoglione et al., (2020) pernah melaporkan bahwa 71,2% sapi terinfeksi lebih dari satu spesies Eimeria. Hasil tersebut, berbeda dari penelitian yang kami lakukan, dimana hasil menunjukkan bahwa infeksi tunggal oleh satu spesies Eimeria tercatat lebih sering terjadi pada sapi madura dibandingkan dengan infeksi campuran. Di area sekitar pengambilan sampel, pengelolaan kendang dan sanitasi juga diketahui tidak layak karena feses yang dibersihkan dari kandang dibuang di lokasi yang dekat dengan kandang, yang mungkin berpotensi meningkatkan tidak hanya risiko infeksi baru, tetapi juga kasus infeksi ulang. Mayoritas kendang yang digunakan oleh peternak juga masih tergolong tradisional dan masih belum dilengkapi dengan tempat pembuangan feses dan urin yang terpisah sehingga kontaminasi ookista Eimeria spp. akan sangat mudah terjadi pada pakan ternak sapi tersebut.

Sampai saat ini, ada laporan penelitian tentang deteksi molekuler Eimeria spp. di Indonesia masih dalam kategori jarang. Meskipun jumlah sampel dalam penelitian kami terbatas, kami telah berhasil mengungkapkan bahwa dari sampel feses dapat dilakukan identifikasi pada tingkat spesies untuk Eimeria spp. menggunakan metode molekuler PCR. Oleh karena itu, penelitian komprehensif lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui dan menungkap tidak hanya biodiversitas, tetapi juga patogenisitas Eimeria spp. yang terdeteksi pada sapi madura, dalam rangka untuk dapat meningkatkan produktivitas melalui perbaikan manajemen perkandangan dan praktik pengelolaan ternak terpadu. Infeksi Eimeria spp. yang terjadi pada sapi madura tersebut harus diperhatikan, karena penyakit koksidiosis kemungkinan juga sudah tersebar di sebagian wilayah lain yang ada di Pulau Madura. Berdasarkan temuan dalam penelitian tersebut, deteksi molekuler koksidiosis di pada ternak sapi madura dapat diterapkan tidak hanya di satu wilayah Kecamatan atau Kabupaten, tetapi juga di beberapa lokasi lain, dengan kondisi yang berbeda terkait dengan faktor resikonya. Langkah-langkah biosekuriti juga perlu diperkuat dan disosialisasikan oleh instansi terkait kepada kalangan peternak yang masih menerapkan sistem perkandangan tradisional, dengan tujuan untuk mengontrol penularan Eimeria spp. pada sapi madura maupun hewan ternak ruminansia lainnya.

Penulis:

Dr. Poedji Hastutiek, drh., M.Si.

(Divisi Parasitologi Veteriner “ Fakultas Kedokteran Hewan 51¶¯Âþ)

Sumber Artikel:

Hastutiek P, Lastuti NDR, Suwanti LT, Sunarso A, Kurniawati DA, and Yudhana A. (2022). Occurrence and biodiversity of Eimeria spp. (Apicomplexa: Eimeriidae) in Madura cattle reared on Kamal Subdistrict, Madura Island, Indonesia, Veterinary World, 15(8): 2084“2088.

AKSES CEPAT