Di balik keindahan hutan dan sungai tropis Indonesia, terdapat fakta menarik tentang ancaman terhadap keseimbangan ekosistem. Salah satu karakter penting dalam ekosistem tersebut adalah ular macan air (Fowlea melanzostus), spesies ular semi-akuatik yang umumnya hidup di daerah rawa, persawahan, dan tepian sungai. Bagi sebagian masyarakat, ular ini hanyalah salah satu satwa liar yang kadang dianggap menakutkan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ular macan air menyimpan cerita lain yaitu menjadi inang bagi berbagai jenis cacing parasit, yang tidak hanya mengancam kesehatannya sendiri, tetapi juga dapat berdampak pada satwa liar lainnya, bahkan manusia.
Keberagaman Cacing Parasit pada Ular Macan Air
Ular di alam liar memiliki peran penting dalam siklus hidup dan penularan parasit. Mereka bisa menjadi inang utama atau perantara bagi berbagai cacing parasit. Pada ular macan air, data mengenai jenis dan tingkat infeksi cacing parasit sebenarnya masih sangat terbatas. Padahal, informasi ini penting untuk memahami bagaimana penyakit dapat menyebar dalam ekosistem dan menimbulkan risiko zoonosis, yaitu penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia. Sebuah penelitian telah dilakukan di Kota Mojokerto, Jawa Timur, dengan tujuan untuk melengkapi keterbatasan data tersebut. Sebanyak 23 ekor ular macan air dengan status tangkapan liar, dikoleksi dan dilakukan pemeriksaan cacing parasit. Para peneliti menggunakan dua metode: pemeriksaan feses secara mikroskopis untuk mendeteksi telur atau larva cacing, serta metode pewarnaan carmine untuk mengidentifikasi morfologi cacing dewasa secara lebih detail.
Hasil penelitian menunjukkan angka yang mengejutkan: 95,65% atau 22 dari 23 ekor ular yang diperiksa ternyata positif terinfeksi cacing parasit. Temuan ini mengindikasikan bahwa hampir tidak ada ular macan air di alam liar yang benar-benar bebas dari parasit. Bahkan, dalam satu individu ular, sering ditemukan lebih dari satu jenis cacing parasit. Secara keseluruhan, peneliti berhasil mengidentifikasi enam jenis cacing parasit. Empat diantaranya berasal dari kelompok Nematoda (cacing gilig), yaitu Ophidascaris, Rhabdias, Physaloptera, dan Capillaria. Selain itu, ditemukan juga cacing dari ordo Oxyurid, serta satu jenis Cestoda (cacing pita) dari genus Spirometra. Keberagaman cacing parasit ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara ular dengan habitat alaminya, dimana ular juga berperan penting dalam siklus hidup dan penularan cacing parasit.
Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan
Apa makna dari temuan ini? Pertama, hal ini menunjukkan bahwa ular macan air memiliki peran signifikan dalam siklus hidup berbagai jenis cacing parasit di alam liar. Dengan demikian, ular ini bukan hanya menjadi predator bagi ikan atau amfibi, tetapi juga menjadi sumber penularan penyakit parasitik pada satwa liar lainnya. Kedua, beberapa jenis cacing yang ditemukan terbukti memiliki potensi zoonotik. Misalnya, Spirometra diketahui dapat menyebabkan penyakit sparganosis pada manusia, yang ditularkan melalui konsumsi daging ular atau katak yang tidak dimasak secara sempurna. Sementara itu, nematoda tertentu bisa menimbulkan gangguan saluran pencernaan, baik pada satwa liar maupun hewan peliharaan yang mungkin tertular. Dengan adanya peningkatan interaksi antara manusia, hewan liar, dan hewan domestik, risiko penyebaran penyakit parasitik ini menjadi lebih sulit untuk dikendalikan.
Relevansi dengan Perdagangan Satwa Liar
Selain aspek kesehatan, temuan ini juga berkolerasi dengan isu perdagangan satwa liar. Ular macan air termasuk spesies yang kerap diperdagangkan secara ilegal, baik untuk dijadikan exotic pet maupun konsumsi. Perdagangan ini tidak hanya mengancam kelestarian populasi ular, tetapi juga membuka jalur baru penyebaran parasit ke luar habitat aslinya. Seekor ular yang terinfeksi dapat menjadi sumber penyakit di wilayah baru, terutama jika tidak ada pengawasan dari otoritas yang memadai. Dengan memahami keberagaman parasit yang ada pada ular macan air, pihak berwenang dan masyarakat dapat lebih waspada terhadap risiko yang ditimbulkan. Identifikasi jenis-jenis cacing parasit juga dapat menjadi langkah awal dalam menyusun strategi pengendalian, baik untuk melindungi satwa liar maupun meminimalisir ancaman kesehatan bagi manusia.
Menjaga Keseimbangan Alam = Menjaga Kesehatan
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa setiap makhluk hidup memiliki perannya sendiri dalam ekosistem. Ular macan air, meskipun sering dianggap berbahaya, sebenarnya merupakan indikator penting dalam kesehatan lingkungan. Tingginya angka infeksi cacing parasit pada ular ini menunjukkan adanya hubungan erat antara kualitas lingkungan, kesehatan satwa liar, dan risiko penularan penyakit bagi manusia. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan ekosistem berarti juga menjaga kesehatan kita sendiri. Menghentikan perdagangan ilegal satwa liar, melakukan penelitian berkelanjutan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi zoonosis adalah langkah-langkah penting untuk mengurangi risiko penularan penyakit parasitik di masa depan.
Wildlife research and conservation must go on.
Penulis: Aditya Yudhana, drh., M.Si.
Sumber: Kartikasari, A.M., Yudhana, A., Edila, R., Zania, F.O., Geraldine, A.P., Wardhana, A.H., and Hanafi, U.F. 2025. High prevalence of Spirometra spp. and nematode infections in Fowlea melanzostus from Mojokerto City, Indonesia. Open Veterinary Journal, 15(8): 36843692.





