UNAIR NEWS – 51动漫 (UNAIR) menggandeng Manager Pilar Pembangunan Lingkungan SDGs, Sekretariat Nasional SDGs, Kementerian PPN atau Bappenas, Dr Rahman Kurniawan MSi, dalam gelaran Training of Trainers (ToT) Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Belajar Bersama Komunitas (BBK). Kegiatan ini terlaksana di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen, Kampus MERR-C pada Jumat (26/9/2025). Kegiatan tersebut bertujuan untuk membekali DPL dalam pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB/SDGs).
Tantangan Global dan Prinsip SDGs
Rahman menjelaskan, sejak pandemi, tantangan dunia semakin kompleks akibat krisis geopolitik dan isu lingkungan. Selain itu, ada tiga persoalan utama atau triple planetary crisis. Termasuk perubahan iklim, polusi yang tergambarkan sebagai silent killer, serta hilangnya keanekaragaman hayati.
Sustainability atau keberlanjutan itu terbangun dari integrasi tiga aspek, yakni sosial, ekonomi, dan lingkungan. Berbeda dengan Millennium Development Goals (MDGS) yang hanya menugaskan pemerintah negara berkembang dan miskin dalam pelaksanaannya, dan sangat people-oriented. SDGs berprinsip universality, integration, dan no one left behind. Semua negara tanpa terkecuali harus menjalankannya, ujarnya.

SDGs memiliki lima pilar utama. Antara lain people, planet, partnership, prosperity, dan peace. Pilar-pilar inilah yang memastikan inklusivitasnya. Meskipun begitu, ia mengungkapkan bahwa capaian SDGs global masih rendah. Hingga 2025, rata-rata pencapaian dunia baru 18 persen, sementara kawasan Asia-Pasifik 17-18 persen.
淛ika tidak ada upaya transformatif, pencapaian SDGs di Asia Pasifik diperkirakan bisa tertunda hingga 32 tahun. Indonesia memang cenderung baik, sudah mencapai 61 persen, tapi angka ini masih bisa ditingkatkan, jelasnya.
Kolaborasi dan Peran Perguruan Tinggi
Ia menambahkan, Indonesia memiliki jumlah indikator SDGs lebih banyak daripada global karena satu indikator terpecah ke dalam variabel detail. Ia menegaskan empat pilar pembangunan SDGs di Indonesia mencakup sosial, ekonomi, lingkungan, serta hukum dan tata kelola.
淧elaksanaan SDGs itu butuh kolaborasi 4 platform, mirip hexa-helix, ya. Itu termasuk pemerintah dan parlemen, filantropi dan pelaku usaha, akademisi dan pakar, serta organisasi masyarakat sipil dan media, paparnya.
Bentuk kontribusi perguruan tinggi sebenarnya berawal dari keinginan Bappenas untuk membentuk knowledge hub di setiap provinsi, dari sana lahir . Saat ini, SDGs Center sudah tersebar di 25 provinsi. Setiap provinsi harapannya memiliki satu pusat yang nantinya terhubung melalui Indonesia SDGs Center Network (ISCN).
淪DGs Center ini jadi wadah kolaborasi untuk berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya supaya bisa mempercepat pencapaian target nasional, tutupnya.
Penulis: Dinnaya Mahashofia
Editor: Yulia Rohmawati





